Dari Beasiswa Emas Hingga Jaminan Kesejahteraan Guru Honorer

Mataram (Suara NTB) – Pasangan TGH. Ahyar Abduh dan H. Mori Hanafi, SE, M.Comm (Ahyar-Mori), terus mengkampanyekan rangkaian demi rangkaian janji kerja mereka. Contohnya adalah janji kerja Ahyar-Mori di bidang keagamaan yang ditujukan untuk membangun masyarakat NTB yang beriman, berbudaya dan sejahtera.

Di bidang keagamaan, tujuan itu dikemas dalam sembilan janji kerja. Janji kerja pertama adalah memberikan beasiswa emas untuk tingkat SD/MI sampai tingkat SMA/sederajat. “Dengan adanya beasiswa emas ini, warga yang kurang mampu diharapkan bisa tetap mengakses jenjang pendidikan SD/MI hingga SMA,” ujar juru bicara Mori Hanafi, Muti’ah Murni, SH, M.Kn, kepada Suara NTB, Senin (23/4).

Iklan

Menurut wanita yang akrab disapa Muti ini, dengan adanya beasiswa ini, tentunya angka putus sekolah yang selama ini masih menjadi penghambat kemajuan IPM NTB akan lebih terangkat.

Janji kerja kedua adalah memberikan fasilitas dan jaringan internet sekolah, serta mendorong 1.000 Ponpes Go Digital. Seperti diketahui, saat ini digitalisasi sudah menjadi semacam keniscayaan sehingga fasilitas dan jaringan internet di setiap institusi pendidikan adalah hal yang sangat dibutuhkan.

Digitalisasi memungkinkan penyelenggaraan proses belajar mengajar menjadi lebih efektif dan efisien. Sementara itu, Muti menegaskan bahwa pasangan Ahyar-Mori juga menyadari bahwa pondok pesantren selaku institusi pendidikan yang telah memberikan kontribusi besar dalam kemajuan pembangunan manusia NTB.

“Kita berharap ada 1.000 ponpes yang bisa kita dorong untuk go digital. Ini akan membuat tata kelola Ponpes akan menjadi lebih baik dan secara otomatis akan mendorong semakin siapnya lulusan ponpes untuk bersaing di era digital ini,” ujar Muti. Janji kerja ketiga, adalah menyiapkan dana talangan sekolah untuk menjamin kelangsungan pendidikan.

Berikutnya, adalah memastikan adanya perlindungan dan jaminan kesejahteraan profesi guru. Seperti diketahui, saat ini profesi guru kerap kali harus berhadapan dengan sejumlah risiko. Mulai dari risiko dikriminalisasi saat memberikan sanksi disiplin kepada peserta didik, hingga risiko terjerat kasus pungli. Selain itu, kesejahteraan para guru juga menjadi hal yang mutlah untuk diperhatikan.

Janji kerja kelima adalah memberikan tunjangan untuk guru ngaji dan marbot. Terkait janji kerja ini, dalam berbagai kesempatan, Mori Hanafi telah berulangkali menegaskan tersedianya ruang fiskal untuk merealisasikan tunjangan ini.

Mori Hanafi, mengemukakan dalam APBD NTB, Pemerintah Provinsi mengalokasikan pemberian tunjangan bagi para Marbot sebesar Rp1 juta per marbot. Namun, tunjangan untuk para guru ngaji belum dialokasikan anggaran.

Menurutnya, jika jumlah guru mengaji se-NTB itu berjumlah sekitar 10 ribu orang dan diberikan tunjangan per orang sebesar Rp1 juta, maka anggaran yang dibutuhkan adalah sebesar Rp10 Miliar.

“Kami rasa dari Total APBD Provinsi NTB itu sekitar Rp6 triliunan lebih, anggaran sebesar Rp10 Miliar itu tidak terlalu membebani APBD kita. Apalagi jika kita bandingkan dengan manfaat dari pemberian tunjangan bagi guru ngaji ini tentu akan lebih memotivasi para guru ngaji kita untuk memberikan pengajaran Al-Qur’an bagi generasi muda kita,” tutup Mori.

Selanjutnya, janji kerja keenam adalah percepatan peningkatan sarana prasarana, mutu/kualitas pendidikan formal dan informal di semua daerah. Janji kerja ini tak terlepas dari masih banyaknya institusi pendidikan formal dan informal di NTB yang kondisinya belum layak. Intervensi kebijakan ini diharapkan membuat fasilitas pendidikan dari Sape hingga Ampenan benar-benar layak.

Dalam janji kerja ketujuh, pasangan Ahyar-Mori berencana akan mengirimkan pelajar dan mahasiswa berprestasi ke sekolah dan kampus terbaik di luar negeri. Dalam hal ini, salah satu yang dimaksud dengan pelajar dan mahasiswa berprestasi juga termasuk para penghafal Al Qur’an yang saat ini belum mendapatkan apresiasi yang cukup layak dari pemerintah daerah di NTB.

Dalam janji kerja ke delapan, Ahyar-Mori menegaskan akan memperkuat kemandirian usaha pondok pesantren untuk semua Ponpes di NTB.

Dan kesembilan, pasangan Ahyar-Mori akan memberikan jaminan kesejahteraan yang layak bagi guru honorer. Ia menegaskan, para guru honorer selama ini telah mendarmabaktikan diri untuk mendidik manusia NTB. Namun, penghasilan yang mereka dapatkan masih sangat jauh dari kata layak. “Karena itulah, pasangan Ahyar-Mori berkomitmen untuk memberikan jaminan kesejahteraan untuk para guru honorer,” pungkas Muti. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here