Damri Kurangi Operasional BRT

Mataram (Suara NTB) – Masyarakat Kota Mataram memiliki ekspektasi besar terhadap keberadaan Bus Rapit Transit (BRT). Bus bantuan Kementerian Perhubungan itu diharapkan sebagai transportasi altenatif mencegah kemacetan. Namun demikian, angkutan tersebut justru tak pernah beroperasi. Pasalnya, PT. Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (Damri) mengklaim mengalami kerugian, sehingga mengurangi operasional.

General Manager PT. Damri, Nursyamsu dikonfirmasi di kantornya, Rabu, 22 Februari 2017 menjelaskan, pascapenolakan oleh sopir angkot awal Januari lalu dan diputuskan berhenti beroperasi sementara waktu sambil menunggu kepastian, pangsa pasar BRT justru mengalami penurunan drastis.

Iklan

Pemprov NTB dan Kota Mataram mendesak bus melayani pelajar. Tapi kenyataannya Damri merugi setelah terjadi perubahan trayek dan pembatasan jam operasional melayani penumpang menuju Senggigi.

“Sehabis rapat jalur A dan B. Kita lakukan tahap awal 6 bus. Kenyataannya kita malah rugi,” katanya.

Kerugian dari sisi penumpang umum tidak ada. Demikian pula dengan anak – anak sekolah. Belum lagi ditambah biaya operasional empat kali PP Terminal Mandalika Rp 300 ribu dan upah dinas pengemudi. Sementara, pemasukan yang diharapkan dari penumpang umum yang membayar Rp 4.000 tidak ada.

Pemasukan diandalkan pasca ujicoba satu bulan lalu tujuan Senggigi. Itu bisa menutupi operasional kendaraan. Tapi ini justru dibatasi atas permintaan angkot dan angdes. Pihaknya sudah mencoba masuk (beroperasi, red) pukul 15.00 – 18.00 wita. Nyatanya, tidak ada satupun penumpang yang naik. Oleh karena itu, Damri tidak mau mengalami kerugian besar, sehingga mengurangi operasional BRT.

“Kita keluarkan cuma dua saja,” sebutnya.

Pemberitaan di media massa lanjutnya, Pemprov NTB dan Pemkot Mataram menyiapkan subsidi BRT. Sejauh ini, Damri belum menerima. Seandainya itu ada kata dia, maka BRT bisa bertahan. Nursyamsu baru menjabat GM PT. Damri NTB, menagih janji pemerintah sehingga ekspektasi masyarakat tumbuh kembali.

Menurutnya, cukup sulit membangun kepercayaan masyarakat. Apalagi setelah satu bulan tidak beroperasi. Artinya, Damri harus mulai dari nol membangun kepercayaan publik. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional