Damri Kembali Aktifkan BRT untuk Anak Sekolah

Mataram (Suara NTB) – Perum Damri Mataram akhirnya mengoperasikan kembali Bus Rapid Transit (BRT) bantuan Kementerian Perhubungan, setelah Pemprov NTB melalui Dinas Perhubungan memberikan subsidi operasionalnya.

BRT ini nyaris mubazir, setelah sebelumnya 25 unit bus ini diparkir di halaman Perum Damri Mataram, akibat ketiadaan anggaran operasional. Pemkot Mataram mengoperasikan hanya dalam waktu yang singkat, lalu kemudian diserahkan ke Damri.

Iklan

Perum Damri Mataram sempat kelabakan melanjutkan operasionalnya, lantaran tak memiliki anggaran yang memadai.  Untungnya, subsidi sebesar Rp 500 juta akhirnya dialokasikan oleh Dinas Perhubungan Provinsi NTB, hingga bus-bus berukuran jumbo ini mengaspal kembali.

Per 2 April ini, BRT dioperasikan. Peruntukannya, khusus kepada para siswa dan anak-anak sekolah yang ada di Kota Mataram. Ada enam unit yang dioperasikan untuk terjadwal setiap hari. Penjemputan pukul 06.00 Wita dan jam 13.00, sepulang sekolah.

Trayaknya, kata General Manejer Perum Damri Mataram, Sumijan, berangkat dari pool Damri di Sweta-Cakranegara-dalam kawasan di Kota Mataram-Ampenan dan balik lagi menuju pool Damri. Total ada 20 halte di Kota Mataram yang dilayani. Turun naik penumpang, tetap harus di haltenya.

“Turun naiknya tetap di halte. Karena bodinya tinggi. Enam unit dioperasikan untuk penjemputan pagi, dan enam unit juga dioperasikan untuk penjemputan sepulang sekolah. Siswa tidak dikenakan biaya sepeserpun,” demikian Jajak, panggilan akrabnya.

Jajak mengatakan, dengan alokasi subsidi dari pemerintah daerah sebesar Rp 500 juta, dalam hitung-hitungannya, hanya dapat melayani siswa secara gratis dalam setahun ini. Selanjutnya, akan dikomunikasikan kembali dengan pemerintah daerah.

Hanya enam unit yang aktif dioperasikan, bagiamana dengan 19 unit lainnya? Jajak mengatakan, ada 10 unit BRT lainnya yang disediakan untuk mendukung kegiatan pariwisata di NTB. Sepuluh unit tersebut, telah dimodifikasi tangga turun naiknya, agar dapat diberhentikan untuk turun naik penumpang di luar halte.

“Interiornya sudah kita modifikasi, sesuai standar pelayanan pariwisata. Untuk modifikasinya, menggunakan anggaran Damri,” terangnya.

Sepuluh unit BRT dimaksud, dapat dimanfaatkan oleh kalangan pariwisata, atau kelompok masyarakat yang ingin berwisata ke destinasi wisata yang ada di NTB. Selama jalan yang dilalui, lebarnya cukup untuk dilalui BRT. Harga yang ditawarkan, menurut berdasarkan hasil kesepakatan.

Lalu sisa unit BRT lainnya, kata Jajak juga dapat dimanfaatkan oleh Pemkab di kabupaten/kota lainnya di NTB. Peruntukkan, diserahkan kepada kabupaten/kota. Tentu, konsekuensinya, kabupaten/kota dimaksud, juga harus menyediakan subsidi seperti yang dilakukan oleh pemerintah provinsi. (bul)