Dampak Virus Corona, Tradisi Siswa Jabat Tangan Guru di Sekolah Diubah

Ilustrasi jabat tangan. (Sumber Foto: Pickpik)

Mataram (Suara NTB) – Jabat tangan atau salaman dikenal sebagai gestur umum yang sudah menjadi tradisi untuk menyambut atau berpisah dengan orang lain. Belakangan kebiasaan ini mulai dihindari di beberapa daerah akibat wabah virus Corona COVID-19 yang melanda.

Bahkan dikutip dari The Guardian, orang-orang di berbagai negara mulai mencari alternatif jabat tangan untuk meminimalisir kontak fisik dengan orang lain. Seperti di China merekomendasikan orang-orang mengganti jabat dengan dengan gestur tradisional gong shou (tangan terkepal di telapak tangan lainnya). Dengan demikian orang-orang bisa menjaga jarak sambil tetap menjaga sopan santun.

Iklan

Sementara di Iran, kebiasaan jabat tangan kini diganti dengan bersapa kaki. Begitu juga di Australia, pemerintah setempat meminta agar berjabat tangan. cukup diganti dengan saling bersapa dengan tepukan lembut di punggung.

Seiring dengan ditetapkannya Corona sebagai pandemik global, tradisi berjabat tangan juga turut diubah di Indonesia, tak terkecuali di NTB. Siswa sekolah yang setiap pagi bersalaman dengan berjabat tangan dan mencium tangan gurunya kini mendadak dihentikan sementara.

“Diganti sementara,” ujar Kepala SDN 19 Cakranegara Sri Hartini menyinggung berubahnya tradisi berjabat tangan untuk mencegah dampak Corona di lingkungan sekolahnya.

Menurut Sri Hartini, perubahan tradisi berjabatan tangan antara siswa dengan guru tidak jadi masalah. Asalkan komunikasi antar kedua belah pihak sama-sama dimengerti untuk mencegah bahaya Corona.

Pihaknya pun kini telah mengganti traidisi berjabatan tangan antara siswa dengan guru dengan tradisi baru 5 S. Adapun 5 S yang dimaksud ialah salam, senyum, sapa, sopan, santun.  “Ditambah TM yaitu terima kasih dan maaf,” ujar Sri Hartini.

Diakui bahwa berjabat tangan antara siswa dengan guru merupakan tradisi yang dibentuk sebagai pembelajaran karakter setiap hari. Baik pada saat siswa datang ke sekolah maupun pada saat pulang ke rumah atau selesai belajar.

Selain mengganti jabat tangan dengan tradisi 5 S, pihak sekolah tetap mengupayakan langkah lain pencegahan merebaknya virus Corona. Di antaranya ialah penyiapan sabun cuci tangan dan hand sanitizer di sekolah.

“Anak-anak lebih sering cuci tangan, dan kami mengurangi berjabat tangan secara langsung jadi cukup salam dan melipat kan tangan serta mengangguk kan kepala ketika kami mengaplikasikan 5 S,” ujarnya.

Hanya saja dia menyebut keberadaan sabun antiseptic kini mulai langka. Stok yang dimiliki sekolah juga sudah sedikit dan akan habis. Mencarinya juga lumayan sulit.  (dys)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here