Dampak Elnino di Akhir Tahun Picu Kekeringan Panjang di NTB

KERING - Kondisi kekeringan di wilayah Sekotong Lobar. BMKG memprediksi kekeringan berpotensi masih terjadi dalam beberapa bulan ke depan. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Lombok Barat (Lobar) memperkirakan   musim kemarau tahun ini lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Musim kemarau di daerah Lobar dan Mataram serta Loteng diprediksi masih terjadi bulan depan. Sedangkan di daerah lain di pulau Lombok dan Sumbawa diprediksi musim hujan baru terjadi bulan Desember.

Terkait hal ini pihak BMKG pun memberikan peringatan dini kepada semua daerah termasuk Lobar agar mewaspadai dampak dari mundurnya musim hujan yang bisa berdampak pada panjangnya masa kekeringan yang melanda.  “Musim kemarau tahun ini lebih panjang, karena suhu muka laut masih dingin dan dampak elnino yang lemah hingga moderat di akhir tahun. Kami sudah berikan peringatan dini kepada pemda agar waspada,” jelas Forecaster Stasiun Klimatologi Lobar  I Gede Widi Hariarta, S.Tr, Selasa,  23 Oktober 2018.

Iklan

Pihaknya memprediksi untuk musim hujan di wilayah Lobar dan Mataram terjadi pada November dasarian 1 (mulai tanggal 1-10). Kemudian untuk November 3 musim hujan diprediksi kebanyakan terjadi di wilayah Loteng. Sedangkan daerah lain di Pulau Lombok musim hujan diperkirakan masuk pada bulan bulan Desember 1,2 dan 3.

Untuk perhitungan masuk musim hujan, jelasnya, pihaknya menghitung dasarian pertama atau per 10 hari curah hujan 50 milimeter kemudian diikuti 2 dasarian berikutnya. Misalnya dari tanggal 1-10 jumlah curah hujan 50 milimeter, lalu dasarian kedua (tanggal 10-20) curah hujannya 60 milimeter dan dasarian selanjutnya curah hujan di atas 50 milimeter, maka sudah masuk musim hujan. Akan tetapi jika pada dasarian pertama dan kedua curah hujan di bawah 50 milimeter, maka belum bisa dikatakan masuk musim hujan, sebab kondisi masih fluktuatif. Atas dasar hitungan itulah pihaknya memperkirakan bahwa musim hujan di Lobar mundur dari tahun sebelumnya. Tidak saja Lobar namun ada daerah lain yang cukup mundur hingga bulan Desember mendatang.

Ia mengaku pada awal memasuki musim hujan nanti, masyarakat patut mewaspadai terjadinya hujan yang intensitasnya besar. Namun setelah itu kering kembali dalam waktu lama. Hal ini jelasnya menjadi fenomena yang lazim terjadi.

Secara umum jelasnya daerah NTB musim hujannya mundur. Seperti di Lobar bagian barat daya, pada waktu normalnya musim hujan masuk November dasarian II, namun yang diprediksi mundur pada Desember dasarian II. Di beberapa daerah bahkan ada mundur hingga bulan Desember dasarian 1 hingga 3. “Prediksi kami mundur musim hujan ini di beberapa titik di Lobar,” jelasnya.

Mundurnya musim hujan disebabkan beberapa faktor, pertama akibat suhu muka laut yang masih dingin. Kedua, dampak fenomena elnino dari lemah hingga moderat di akhir tahun, sehingga hal ini menyebabkan BMKG memprediksi musim hujan mundur. Terkait koordinasi hasil prediksi ini dengan Pemda, pihaknya sebatas menginformasikan kepada Pemda terkait kapan musim kemarau berakhirnya dan musim hujan kapan masuknya. Nantinya hasil prediksi ini disampaikan oleh pihak Pemda kepada masyarakat termasuk para petani. Menurutnya, karena musim kemarau panjang maka pihak Pemda perlu mewaspadai kekeringan hingga Desember di beberapa daerah. “Kami sudah berikan peringatan dini kepada Lobar terkait kekeringan ini,”jelasnya.

Dampak lain, jelasnya, gelombang tinggi. Sebab musim kemarau biasanya kencang, ketika memasuki musim hujan terjadi pertemuan angin  Utara dan Selatan. Biasanya angin timur lemah, sehingga berpotensi terjadi dorong mendorong mengakibatkan potensi gelombang tinggi. “Kami juga berikan peringatan dini sebab ada tiga stakeholder untuk BMKG, yakni iklim, cuaca dan kegempaan atau Geofisika,” jelasnya. (her)