Dampak Corona, Tingkat Kunjungan Wisatawan ke Gili Terpengaruh

Sejumlah kusir cidomo di Gili Trawangan menunggu penumpang yang kebanyakan wisatawan dan belakangan ini kunjungan wisatawan makin menurun. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Penyebaran virus Corona di seluruh belahan dunia, berdampak juga ke Lombok. Pintu masuk utama wisatawan  melalui tiga Gili mulai merosot, dan cenderung stagnan.

Ketua Gili Hotel Association (GHA), Lalu Kusnawan, Kamis, 5 Maret 2020 mengakui tingkat kunjungan ke tiga Gili mulai mengkhawatirkan. Sejak seminggu terakhir, kunjungan cenderung stagnan bahkan menurun di angka kurang dari 1.000 per hari.

Iklan

“Gerbang masuk wisatawan ke NTB ya tiga gili, sekitar 70 persen masuk lewat laut. Kondisi sekarang penumpang fast boat sudah di bawah 1,000 dan cenderung stagnan,” ujar Kusnawan.

Menurut GM Hotel Wilsons Retreat Gili Trawangan ini, aktivitas traveling wisatawan mancanegara relatif normal hingga awal Februari lalu. Namun memasuki Maret ini, wisatawan yang datang mulai turun. Bahkan, ia memprediksi wisatawan yang masih berada di Bali dan provinsi lain merupakan wisatawan yang sudah lebih dulu keluar dari negaranya sebelum travel warning dampak Corona. “Yang masuk ke Gili Trawangan saja hanya 600 orang. Itu pun kelas backpacker,” imbuhnya.

Pihaknya meminta agar pemerintah daerah menyelesaikan masalah besar sektor pariwisata ini. Wacana bebas pajak selama 6 bulan harus disampaikan secara riil kepada pelaku wisata. Sebab situasi saat ini, tidak mendukung bagi kelangsungan usaha perhotelan.

“Kita sendiri saat gempa (tahun 2018), tidak dapat free tax. Hanya satu bulan di Agustus tidak bayar karena memang tidak menghasilkan,” sebutnya.

Bagi pelaku perhotelan di tiga Gili, Kusnawan mengaku tidak semua perhotelan mengambil langkah PHK kepada karyawannya. Di internal asosiasi GHA, seluruh GM hotel memilih memanfaatkan keluangan karyawan untuk meningkatkan kapasitas SDM. Karyawan di tiap divisi diberikan pelatihan dengan instruktur dari kalangan General Manager Asosiasi GHA. Pelatihan dipusatkan di tiga titik, masing-masing Mark Hotel (Trawangan), Villa Karang (Gili Air) dan Sri Resort (Gili Meno).

Melihat dinamika wisatawan di hari kelima bulan Maret ini, Kusnawan memastikan keuangan perhotelan middle up masuk fase merugi. Omzet rendah akibat stagnasi kunjungan tidak mampu menurut beban operasional. Sebaliknya di hotel middle low, sudah mulai terjadi perang harga dengan kecenderungan saling merugikan.

“Pertanyaan kami pemda ke mana aja? Harusnya pemda mulai membantu (lobi harga tiket) mendatangkan pengunjung domestik, karena tiket domestik sendiri tidak berkurang,” cetusnya. (ari)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional