Dampak Corona, Mahasiswa NTB di Turki Mulai Khawatir

Suasana antrean mahasiswa di Terminal Eskişehir Turki, Jumat  malam. (Suara NTB/ist_syamsul HD)

Mataram (Suara NTB) – Turki kini turut dilanda kepanikan dampak virus Covid – 19 (virus Corona). Mahasiswa NTB di Turki mengirim permintaan doa kepada masyarakat agar tetap dalam diberi kesehatan dan keselamatan, menyusul diumumkan kasus pertama warga positif Covid – 19.

Mahasiswa Eskişehir Osmangazi Universitesi  Istanbul Turki, Syamsul Hidayat mengirim  permintaan doa setelah tergambar suasana tidak tenang dirasakan. Menyusul kebijakan pemerintah akan menutup sementara aktivitas perkuliahan di seluruh kampus di Turki, khususnya di Istanbul.

Iklan

“Assalamu’alaikum, minta doanya teman teman sekalian. Mulai Senin tanggal 16 Maret 2020, kampus kampus seluruh Turki diliburkan selama tiga pekan ke depan,’’ kata Syamsul mengirim pesan ke WhatsApp Group Forum Komunikasi Alumni (Fokal) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).  Syamsul mengirim pesan itu Jumat, 13 Maret 2020 dini hari sekitar Pukul 03.27 Wita atau Pukul 07.27 waktu Turki.

Dikonfirmasi Suara NTB, Syamsul yang juga menjabat Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Turki membenarkan situasi itu dan dirasakan mahasiswa dan warga NTB khususnya yang beraktivitas di Istanbul. Sejumlah acara yang mengundang audien dibatalkan meski sudah terjadwal.  Jumat malam sekitar pukul 10.22 waktu Turki atau pukul 14.22 Wita, terjadi antrean panjang di terminal dan bus karena mahasiswa di seluruh kampus memutuskan pulang lebih awal.

Syamsul tinggal di Eskişehir, sekitar  327 kilometer dari Istanbul dengan waktu tempuh 3 jam 58 menit.  Jumlah mahasiswa Indonesia di Turki diperkirakannya mencapai 35 orang. Tersebar di sejumlah universitas. Ia belum mendengar  ada kabar yang terpapar atau pun suspect virus Corona. Namun situasi di sana dirundung kekhawatiran.

‘’Kita tidak tahu pasti apakah ini hanya tiga pekan diliburkan atau akan ada penambahan. Semoga Allah SWT melindungi kita dan keluarga kita,’’ doa Syamsul.

 Alumni Fakultas Teknik Jurusan Pertambangan Universitas Muhammadiyah Mataram ini mengabarkan kondisinya baik- baik saja. Ia bertahan di asrama sembari terus memantau perkembangan mahasiswa lainnya dan imbauan dari pemerintah setempat. Belum ada keinginan untuk pulang ke  Indonesia, juga belum ada imbauan kabar evakuasi dari KBRI.

 ‘’Sementara saya hindari bepergian jauh. Belajar di asrama saja,” ungkap mahasiswa yang sedang menyelesaikan program doktor Bidang Pertambangan ini.

Sementara sekolah-sekolah turut diliburkan selama satu pekan, namun tak menghentikan kelanjutan studi. Pembelajaran dilakukan dengan sistem online. Begitu juga di kampus-kampus lainnya, menerapkan sistem sama.

Sementara pihak KBRI Ankara, Turki, mengeluarkan imbauan bagi seluruh WNI di Turki agar tidak panik.  “KBRI pada intinya meminta agar WNI tidak panik dan tetap tenang menjalani kegiatan sehari-hari, namun tetap waspada dengan melakukan upaya-upaya pencegahan sesuai dengan informasi yang tersedia dari sumber-sumber,’’ kata Duta Besar Indonesia di Turki, Lalu Muhammad Iqbal.

Selain menyampaikan imbauan, di laman-laman medsos KBRI Ankara, juga disampaikan informasi resmi mengenai Covid-19 dan cara mencegahnya, baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Turki.

Berdasarkan data KBRI Ankara, terdapat sekitar 3.300 WNI yang tinggal di Turki. Sebagian besar WNI di Turki adalah mahasiswa dan pelajar. Sekitar 1000 orang adalah Spa Therapist dan sisanya adalah WNI yang menikah dengan warga negara Turki.

Turki melaporkan kasus infeksi virus Corona atau Covid-19 pertamanya. Situasi tersebut dilaporkan secara langsung oleh Kementerian Kesehatan setempat  Rabu (11/3) lalu. Menkes Turki, Fahrettin Koca mengatakan pada Selasa waktu setempat, pasien pertama Covid-19 tersebut telah melewati tes virus Corona. Pria yang sempat bepergian ke Eropa ini sudah dirawat dan berada dalam isolasi. (ars)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional