Dahsyatnya Dampak Sosial Proyek Gagal Konstruksi

Bima (Suara NTB) – Bencana sulit dihindari, apalagi ketika berdampak pada rusaknya infrastruktur. Tapi kekuatan fisik bangunan ditentukan perencanaan yang baik. Jika masih kapasitas bencana tidak seimbang dengan dampak rusaknya bangunan, patut diduga proyek itu gagal konstruksi.

Puluhan warga Desa Tangga Kecamatan Monta, Kabupaten Bima memblokade jalan lintas Parado –Tente awal Maret 2018 lalu. Mereka melampiaskan kekesalannya dengan aksi itu lantaran proyek irigasi Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I yang baru dibangun, rusak akibat banjir.  Dampaknya, air bah meluap ke rumah warga tiap hujan.

“Karena rusaknya irigasi ini, aliran air juga tidak dapat mengalir lancar ke areal persawahan,” protes Deden, Ketua Karang Taruna Desa Tangga.

Warga semakin berang karena belum ada upaya perbaikan oleh pihak BWS sehingga bencana terus mengintai.   Saluran irigasi ini hanya salah satu dari sejumlah proyek BWS di berbagai daerah di NTB.

Jalan dan Jembatan Rusak

Tidak saja di Bima, kerusakan infrastrukrtur tidak kalah parah terjadi di Sumbawa. Hujan berturut turut memicu banjir dan berdanpak Bendung Tiu Ai Angat dan jembatan Melung di Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu rusak parah. Petani merana, sebab areal pertaniannya gagal dimaksimalkan untuk bertani akibat bendung rusak.

Dedi Ramli, seorang petani desa setempat yang ditemui Suara NTB  beberapa waktu lalu mengaku selama ini mengandalkan Bendung Tiu Ai Angat  untuk mengairi ratusan hektar areal persawahan. Terebih nanti untuk Musim Kemarau (MK) I petani membutuhkan air untuk lahan musim tanam kedua. ‘’Kalau sudah tidak ada bendung ini, kami warga resah. Karena ini (bendung) untuk mengairi areal persawahan kami,’’ akunya.

Keluhan senada disampaikan Hartawan.  Ada 60 persen area persawahan masih membutuhkan air. ”Kita minta bantuan mesin penyedot air ke sungai. Saat ini ada yang sudah mulai panen. Sedangkan saat ini ada yang mulai mau menanam seperti sebelumnya,” harapnya.

Infrstruktur lain yakni rusaknya jembatan Dusun Melung yang menjadi jalan penghubung dari Desa Batu Tering ke Desa Lito. Saat ini jembatan sudah bisa dilalui kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat yang tidak memiliki muatan terlalu berat, karena sudah dilakukan perbaikan darurat.

Meskipun demikian, kondisi jembatan sangat memprihatinkan. Dikhawatirkan sewaktu-waktu jembatan akan runtuh, karena kondisi beberapa tiang yang bergeser dan jembatan yang retak.

Kades Batu Tering, Mujiburrahman menyampaikan Bendung Tiu Ai Angat merupakan sarana yang sangat mendukung untuk pertanian di Batu Tering, yaitu sekitar 300 hektar areal pertanian yang diairi. Hanya saja, akibat kerusakan bendung, untuk MK pertama tidak bisa dilakukan. Bahkan ada kekhawatiran manakala hujan berhenti ada sebagaian warga gagal panen.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sumbawa, Lalu Suharmaji Kertawijaya mengakui beberapa infrastruktur terkena dampak akibat bencana banjir awal 2018.

Rugi Rp 1 Miliar

Jalan di Labuhan Kuris Kecamatan Lape, sudah masuk penanganan darurat. Jika Jembatan Melung sudah penanganan darurat untuk dilalui kendaraan roda dua.   Termasuk dua bendung yakni Tiu Angat dan Orong Reban tengah dalam proses pengusulan penanganan darurat. Bendung ini penting karena untuk mengejar musim tanam kedua. Untuk penanganan darurat Jembatan Melung anggarannya sekitar Rp 50 juta. Sedangkan satu bendung sekitar Rp 60 sampai Rp 86 juta.

Dijelaskannya, total kerugian khusus infrastruktur untuk dua bendung satu jembatan dan satu ruas di tiga kecamatan itu, mencapai sekitar Rp 1 miliar. Namun untuk membangun kerusakan tersebut secara permanen membutuhkan dana lebih dari Rp 10 miliar. “Itu akan kita usulkan di program tahun 2019. Namun kita Dinas PUPR akan berupaya mendapatkan anggaran di tahun 2018,” terangnya.

Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah  mengakui cukup banyak infrastruktur yang rusak akibat banjir di beberapa kecamatan di Sumbawa. “Banyak fasilitas yang terbangun rusak seperti Jembatan Melung (penghubung Desa Batu Tering dan Lito Moyo Hulu) sudah dari tahun lalu, harusnya diperbaiki. Namun waktu itu keterbatasan anggaran,”ujarnya.

Kerusakan di Lotim

Banjir bandang menerjang wilayah Kecamatan Labuhan Haji beberapa waktu lalu. Di wilayah ini terdapat beberapa dampak yang ditimbulkan. Berdasarkan pantauan di Desa Tirtanadi, sejumlah fasilitas umum maupun milik warga yang rusak yakni jalan penghubung antara Dusun Tirpas Desa Tirtanadi atau berara di depan koko Pancor Dao dengan Desa Gunung Malang.

Kerusakan lainnya yakni, putus atau ambruknya salah satu jembatan depan rumah warga. Bahkan, areal pertanian rusak akibat banjir bandang tersebut sekitar 50 hektar.

“Di antaranya tanaman yang rusak itu, sekitar 60 persen yang siap panen terdiri dari tanaman padi, jagung, kacang panjang, cabe dan tanaman lainnya,” demikian disampaikan Kepala Desa Tirtanadi, Ruspan.

Waktu yang  hampir bersamaan, jembatan penghubung antara Desa Tirtanadi dengan Desa Korleko tepatnya dua jalan jurusan Tirpas Desa Tirtanadi ke Dusun Lekoq Desa Korleko ambruk.  Akibat kejadian tersebut apabila tidak secepatnya ditangani, dikhawatirkan mengakibatkan petani mengalami gagal panen. Adapun luas wilayah pertanian yang diairi oleh saluran irigasi di tiga desa sekitar 500 hektar.

Dampak Sosial  Bencana

Soal dampak bencana,  Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) NTB sejak awal mengingatkan pemerintah. Dampak lumpuhnya perekonomian masih dirasakan, meski banjir sudah surut. Pemerintah setempat diingatkan soal potensi meningkatnya angka kemiskinan, akibat masyarakat kehilangan mata pencaharian, khususnya masyarakat yang berprofesi sebagai petani.

Kepala BPBD NTB, Ir.H. Mohammad Rum, MT  mencontohkan, kerusakan infrastruktur tercatat sebanyak delapan jembatan rusak ringan hingga berat, 2.290 meter talud rusak ringan hingga sedang. Data lainnya 10 bendungan rusak ringan hingga berat, 623 meter jaringan irigasi rusak. “Kerusakan bendungan dan irigasi ini tentu saja mempengaruhi pengairan sawah dan kebutuhan air masyarakat,” kata Mohammad Rum.

Disinilah letak potensi masalah menurut Rum. Khususnya dampak  pada petani yang sudah mulai masa tanam atau mulai masa panen, sawahnya rusak akibat bendung dan bendungan jebol.

Data yang diverifikasi, terdampak kerusakan, 25 meter ruas jalan di Lombok Timur rusak parah, dua bendungan dan 250 meter tanggul. Di Dompu, satu bendungan rusak dan 210 meter jalan rusak.  Tidak hanya di tiga daerah tadi, untuk terdampak banjir dialami seluruh warga di NTB akibat banjir beruntun beberapa  waktu lalu, sehingga total warga terdampak 8.774 orang. Sedangkan kerusakan jembatan empat unit, kerusakan jalan 25 meter dan 10 buah bendungan rusak. Terkait kerusakan ini, pihaknya sedang mengajukan usulan juga ke BNPB. (uki/ind/arn/yon/ars)