Daging dan Telur dari Luar NTB Tak Bisa Dibendung

Telur didatangkan dari luar, salah satu komoditas peternakan yang masih harus menggantungkan kebutuhannya dari luar daerah. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pasokan telur dan daging  dari luar daerah tak bisa dibendung. Karena tidak sebandingnya produksi dengan jumlah kebutuhan.

Kota Mataram bahkan intens mendatangkan telur dari luar daerah seperti Bali dan Jawa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tidak saja telur, demikian juga dengan daging impor. Baik daging ayam, maupun daging sapi.

Iklan

Provinsi NTB memiliki semangat untuk swasembada telur, dan daging. Nampaknya, hal ini tidak mudah bisa diwujudkan. Karena itu, alternatif mendatangkan dari luar daerah tetap dilakukan untuk menetralisir harga.

Untuk telur, saat ini di tingkat pengecer, harga telur juga naik signifikan di kisaran Rp45.000/trai, hingga Rp55.000/trai.

Lalu Muhammad Yusri, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Nakeswan Provinsi NTB mengatakan, tata niaga telur dan daging impor mekanismenya sudah diatur. Harus ada pengajuan dari kabupaten/kota yang mengusulkan, kemudian rekomendasinya dari Dinas Nakeswan Provinsi NTB, kemudian diizinkan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Provinsi NTB.

“Tidak semua perusahaan mengurus rekomendasi, hanya sebagian kecil. Kita bersama tim gabungan pernah sosialisasi di lapangan terkait tata niaga telur khususnya,” ujarnya.

Berdasarkan catanan Dinas Nakeswan Provinsi NTB, tahun 2021 lalu, ada 75.000 Kg telur ayam ras yang masuk pada Bulan Oktober. Selain itu, daging ayam beku masuk sebanyak 9.200 Kg, kemudian daging sapi beku 303.000 Kg,  daging domba beku 200.000 Kg, daging sapi olahan 1.650 Kg, dan daging ayam olahan 1.650 Kg.

Yusri menjelaskan, tata kelola keluar masuk daging dan telur ini sudah diatur. Untuk daging beku, masuknya juga harus ada pengajuan dari kabupaten/kota, kemudian direkomendasikan oleh Dinas Nakeswan NTB, dan diizinkan oleh DPM-PTSP NTB.

Daging beku ini dihajatkan untuk menetralisir harga di pasaran. Harganya dikisaran Rp80.000/Kg sampai Rp90.000/Kg. biasanya, daging beku didatangkan dari Pulau Jawa. Namun diimpor dari India dan Australia.

Yusri melanjutkan, boleh-boleh saja mendatangkan daging beku. Tetapi direkomendasikan hanya kepada rumah makan dan restoran yang membutuhkan daging khusus. Karena sifat daging beku lebih empuk dari daging lokal.

“Dan tidak boleh dijual di pasar tradisional. Karena harus dilengkapi dengan alat pendingin. Tidak boleh diangin-anginkan. Sebab bisa merubah kualitasnya dan berpengaruh terhadap kesehatan konsumen,” demikian Lalu Yusri.(bul)

Advertisement