Daging Beku Rentan Busuk, NTB Lirik Olahan Ikan untuk JPS Gemilang

Hj. Budi Septiani (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Rencana Pemprov NTB untuk memasukkan daging ayam beku sebagai komponen bantuan dalam Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang tahap II diakui perlu dikaji ulang. Pasalnya, mengikuti penyaluran bantuan yang membutuhkan waktu, kualitas daging dikhawatirkan menurun jika terlalu lama disimpan.

‘’Ini riskan (busuk) sehingga tidak jadi dilakukan. Jadi diganti dengan olahan ikan yang kering-kering seperti teri atau abon ikan,’’ ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Ir. Hj. Budi Septiani saat dikonfirmasi, Senin, 11 Mei 2020 di Mataram.

Iklan

Penyaluran JPS Gemilang yang harus dilakukan di ratusan desa di NTB dipastikan akan membutuhkan waktu. Hal tersebut diakui akan menjadi kendala, mengingat jumlah kotak pendingin yang tersedia belum memadai.

Evaluasi tersebut menurutnya merupakan arahan langsung dari Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah yang mengkhawatirkan kualitas daging ayam yang dibekukan tersebut jauh menurun ketika nanti disalurkan.

‘’Karena kita belum mempunyai cool storage (kotak pendingin), atau istilahnya masyarakat kita belum mempunyai sarana prasarana yang terstandar untuk daging beku itu,’’ ujarnya. Padahal, produksi daging ayam di NTB dipastikan dapat mencukupi kebutuhan JPS Gemilang tahap II  yang akan disalurkan untuk 125.00 KK.

Di sisi lain, Budi menyebut penyediaan komponen pengganti lainnya tetap akan melibatkan UMKM dan IKM lokal. Termasuk yang bergerak dalam bidang olahan ikan yang saat ini menjadi salah satu pilihan pengganti untuk daging ayam beku.

‘’Sesuai arah Pak  Gubernur, semua UMKM dan IKM olahan ikan (akan dilibatkan). Karena yang ingin digerakkan oleh Pak Gubernur dan Wakil Gubernur adalah UMKM dan IKM kita,’’ ujarnya.

Terpisah, Asisten II Setda NTB, Ir.H. Ridwansyah, MTP menerangkan, usulan daging ayam sebagai komponen JPS Gemilang ditujukan untuk mengganti penyaluran telur dalam bantuan tersebut yang sempat bermasalah. Dimana sejumlah telur ditemukan membusuk atau rusak.

Kendati demikian, opsi tersebut belakangan dikhawatirkan akan bernasib sama. Sehingga pihaknya memutuskan untuk mencari pengganti yang lebih awet seperti hasil olahan ikan. Terlebih, hasil olahan ikan di NTB sampai saat ini dapat dikatakan melimpah.

‘’Jadi itu masalahanya bukan diganti. Kita sedang memastikan pengganti telur itu dengan apa?  Antara lain dengan abon ikan salah satu altenatif (pengganti) ayam beku. Memang hasil rapat itu mempertimbangkkan hal tersebut,’’ujar Ridwansyah.

Di sisi lain, berdasarkan hasil evaluasi penyaluran JPS Gemilang tahap I, salah satu keluhan yang diterima pihaknya adalah pendataan penerima dan produk yang menjadi komponen bantuan. Di mana aspirasi masyarakat yang diterima Pemprov NTB komponen bantuan diharapkan tidak berisi produk yang mudah rusak.

‘’Kalau telur kita pastikan tidak akan lagi (jadi komponen JPS Gemilang). Karena melihat pelaksana tahap pertama yang keluhannya itu adalah soal pendataan dan produk. Di mana produk ini masyarkat minta untuk tidak diberikan barang yang mudah rusak, seperti telur. Baru muncul usulan untuk telur itu diganti dengan daging ayam,’’ pungkasnya. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here