Daerah Surplus Sapi, Harga Daging di Lotim Tetap Mahal

Kepala Bidang PUP Dinas Peternakan Kabupaten Lotim, Achsan NH (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Kabupaten  Lombok Timur (Lotim) adalah salah satu daerah yang surplus sapi. Saat ini jumlah populasi sapi mencapai 130 ribu ekor. Meski di daerah surplus, harga daging tetap mahal. Apalagi awal puasa Ramadhan ini per kilogram harga daging Rp 120-130 ribu.

Kondisi ini tidak diingkari Kepala Bidang Pengembangan Usaha Petenakan (PUP) Dinas Peternakan Kabupaten Lotim, drh. Achsan NH. Menjawab Suara NTB, Senin,  6 Mei 2019, Achsan menjelaskan, harga daging paling mahal itu sebutnya merupakan yang paling super tanpa tulang.

Iklan

Mahalnya harga sapi meski di daerah yang surplus itu dikarenakan tidak adanya sapi luar yang masuk, khususnya dari luar NTB. Di mana ada kebijakan Gubernur NTB yang diketahui melarang sapi luar NTB masuk. Cara ini dinilai cukup efektif mempertahankan nilai jual sapi lokal.

Usaha bidang peternakan ini diyakinkan tetap mendatangkan keuntungan bagi peternak maupun jagal. Antara peternak dengan jagal diyakini sudah mendapatkan keuntungan masing-masing. Dari peternak sapi, untuk sapi lokal harganya Rp 47-48 ribu per kilogram berat hidup. Sedangkan eksotik harganya 50-51 ribu per kilogram berat hidup.

Sapi lokal atau ras bali ini rata-rata beratnya 300 kg dikalikan harga berat hidup yang berlaku saat ini rata-rata nilai jualnya tembus Rp 13-14 juta per ekor. Ketika masuk jagal, hitungannya 60 persen menjadi kakas, sisanya tulang, dan kulit serta kepala sapi. Kulit juga bernilai Rp 20 ribu per kilogram, campuran tulang dan daging yakni 70 persen daging dan 30 persen tulang dihargakan Rp 90 ribu per kilogram, kepala sapi dijual Rp 500 ribu.

Saat masuk di jagal, diyakinkan akan mendapatkan keuntungan. Keuntungannya bahkan bisa 50 persen saat sapi patah pada bagian kaki misalnya. Sang jagal juga bisa saja merugi kalau tidak bisa menerka dengan baik. Seorang jagal itu sebutnya harus miliki keahlian ilmu taksir. Jika teksiran tepat, acap kali dalam satu ekor sapi yang dibeli seharga Rp 14 juta akan bisa mendatangkan keuntungan Rp 5,4 juta.

Sementara itu, di kalangan peternak sejauh ini banyak yang menjadikan usaha ternak sebagai sampingan saja. Di mana, sapi ini dijadikan sebagai tabungan dan sewaktu-waktu bisa dijual. ‘’Beda dengan yang melakukan usaha murni, satu orang harus memelihara 5 ekor,’’ ujarnya.

Saat membeli ternak potong, biasanya yang dilihat adalah bagian perut. Bagian perut ternak ditekan dan bisa diketahui apakah ternak sapi tersebut memiliki daging banyak atau tidak. Bisa diketahui juga apakah ternak tersebut dipaksa makan dan minum oleh peternak. Inilah yang  biasa disebut gelonggongan. Namun, di Lotim diyakini tidak ada peternak yang seperti itu.

Fakta unik lainnya bicara soal ternak sapi, ternyata ternak sapi di NTB disebut paling bagus. Meski sebagai gudang ternak, harga jual sapi ini di NTB terbilang masih sangat tinggi, karena itulah, sapi asal NTB tidak masuk ke DKI Jakarta, karena harga jualnya yang terbilang sangat tinggi.

Selain itu, Lotim merupakan tempat pasar ternak terbesar. Sebagai contoh di Pasar Ternak Masbagik dalam sehari, jumlah sapi yang dijual bisa mencapai ribuan ekor. ‘’Rata ratanya untuk tiga hari pasaran, Senin sekitar 800 ekor, Rabu 500 ekor dan Jumat 300 ekor. Kapasitas pasar ternak mencapai 1.500 ekor dan pernah tertinggi pada hari Senin jumlah ternak yang masuk mencapai 1.200 ekor,’’ ujarnya. (rus)