Cuaca Ekstrem, Tangkapan Nelayan Ampenan Turun Drastis

Warga menggotong perahu nelayan untuk disandarkan di pesisir pantai di Kelurahan Bintaro, Ampenan. Nelayan yang baru pulang mendapat tangkapan minim akibat cuaca ekstrem yang terjadi di tengah laut.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu belakangan turut memberi dampak pada hasil tangkapan nelayan di pesisir pantai Ampenan. Sepekan terakhir hasil tangkapan tersebut menurun drastis, bahkan beberapa nelayan disebut tidak mendapatkan tangkapan ikan sama sekali.

Salah seorang nelayan di Lingkungan Pondok Perasi Ampenan, Jumadil, menerangkan dirinya bersama nelayan lain mendapatkan tangkapan minim sejak 5 hari terkahir. “Hari ini malah zonk (tidak ada tangkapan sama sekali, Red). Ini sama teman-teman yang lain sama saja,” ujarnya saat ditemui Suara NTB, Selasa, 20 Oktober 2020.

Iklan

Diterangkan, dirinya bersama nelayan lain berlayar mulai pukul 02.00 Wita menuju laut Bali. “Tapi kita malah tidak dapat apa-apa. Padahal sudah habis Rp200 ribu untuk beli bensin (untuk mesin kapal),” jelasnya.

Kondisi tersebut menurutnya dipengaruhi hujan yang terjadi beberapa waktu belakangan. Di mana meskipun di daratan tidak terjadi hujan, dirinya justru menemukan hujan intensitas tinggi di tengah laut. “Angin juga besar di tengah,” ujarnya.

Berbeda dengan itu, Ahmad yang berlayar di laut bagian selatan Lombok menerangkan hasil tangkapan ikan masih tetap ada. Walaupun begitu, jumlah tangkapan tersebut diakui menurun drastis.

“Masih dapat saja kita dari kemarin biar sedikit. Hari ini saja cuma ada 68 (ekor ikan), biasanya bisa 100 – 200. Bahkan 900,” ujarnya, Selasa, 20 Oktober 2020. Hal tersebut membuat harga jual ikan menjadi cukup tinggi.

Untuk saat ini pihaknya menjual ikan sebesar Rp15 ribu untuk 5 ekor. Menurutnya, harga tersebut cukup normal untuk periode Oktober yang setiap tahun kerap memiliki cuaca ekstrem. “Jam 10.00 Wita saja sudah mulai arus (gelombang tinggi) di tengah,” ujar Ahmad.

Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya anomali iklim La Nina di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk NTB. La Nina adalah istilah yang merujuk pada penyimpangan suhu permukaan laut Samudera Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada peningkatan curah hujan di wilayah perairan tersebut.

La Nina diprediksi akan berlangsung hingga Mei 2021 mendatang dengan intensitas lemah hingga sedang. Di mana untuk periode September – November 2020 dampak La Nina akan signifikan di wilayah selatan, tengah dan timur Indonesia, sementara untuk periode Desember 2020 – Februari 2021 akan signifikan di wilayah tengah dan utara Indonesia. (bay)