COVID-19 dan MotoGP

Arief Budi Witarto

Arief Budi Witarto

Fakultas Kedokteran Militer Universitas Pertahanan & Lab Genetik Sumbawa

Iklan

 

Gelaran balapan WSBK di Sirkuit Mandalika kali ini berjalan lancar dalam keadaan kasus COVID-19 yang rendah. Perhatian Dunia ke Lombok dan NTB menjadi makin besar dan gairah masyarakat setempat juga tinggi menghadapi gelaran balapan MotoGP bulan Maret 2022 nanti untuk menyambut tamu dari dalam dan luar negeri yang lebih heboh lagi. Tapi apakah kondisi COVID-19 nanti tetap akan seperti sekarang?

Saat ini di Eropa terjadi gelombang “ketiga” COVID-19 dengan kasus harian lebih tinggi daripada ketika varian Delta masuk. Misalnya, Jerman 45.183 kasus baru (20 Nov. 2021) versus 31.397 kasus baru (20 Apr 2021). Sama juga dengan Belanda yang beberapa waktu lalu mengumumkan lock down di beberapa lokasi, kasus baru di 20 Nov. 2021 21.794 (tertinggi selama Pandemi COVID-19),  bahkan dibanding puncak varian Delta (20 April 2021, 6.822). Padahal cakupan vaksinasi penuh (2x suntik) di Jerman sudah 67,9 % (19 Nov. 2021) dan bahkan 72,3 % (14 Nov. 2021) di Belanda. Bukankah teorinya bila cakupan vaksinasi sudah mencapai 70% akan terbentuk herd immunity yang menyebabkan penyakit “hilang” karena kesulitan mendapatkan orang yang bisa diinfeksi? Tingginya kenaikan ini diperkirakan oleh 2 hal utama. Pertama, musim dingin yang rendahnya kelembaban udara membuat virus yang ditransmisi lewat pernafasan lebih mudah menular, termasuk flu. Penyebab ini sudah diperkirakan karena musim dingin lalu (2020) juga terjadi. Kedua, kenyataan “menyakitkan” bahwa ternyata semua vaksin COVID-19 termasuk yang berbasis RNA (Pfizer, AstraZeneca, Moderna, Johnson & Johnson) yang dulu dielu-elukan karena punya efikasi sangat tinggi (> 90%), ternyata tidak memiliki daya tahan proteksi lama. Jurnal Nature edisi 17 Sep 2021 sudah memperingatkan potensi “immunity waning” (imunitas yang memudar) ini mengutip perkiraan Miles Davenport ilmuwan komputasi Australia yang mengatakan berdasar simulasinya bahwa antibodi yang memproteksi tubuh dari COVID-19 akan berkurang ½-nya setiap 100an hari. Jurnal Science edisi 4 Nov. 2021 mempublikasikan hasil riset skala besar terhadap 780 ribu lebih veteran tentara AS menunjukkan seluruh vaksin RNA di atas – yang juga digunakan di Eropa – menunjukkan pemudaran daya proteksi signifikan setelah 6 bulan. 89% menjadi 58% untuk Moderna, 87% menjadi 45% untuk Pfizer dan 86% menjadi 13% untuk J & J. Sementara faktor munculnya varian baru, tidak terlalu signifikan karena varian “Delta plus” atau AY.4.2. dengan 3 jenis saja mutasi baru dibanding varian Delta induk hanya meningkatkan transmisibilitas 10%. Bandingkan dengan varian Delta induk yang mencapai 50% peningkatan pada bulan Juli 2021 lalu.

Bagaimana Indonesia? Tanggal 20 Nov. 2021, catatan kasus baru 393 (1/80-nya Jerman), padahal cakupan vaksinasi lengkapnya baru 32,3 % (1/2-nya Jerman). Di luar vaksinasi, kemungkinan besar proteksi terhadap COVID-19 penduduk Indonesia juga disebabkan oleh infeksi yang tidak disadari. Seperti temuan para peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat UI terhadap penduduk Jakarta menggunakan pemeriksaan serologi antibodi anti-COVID-19 yang menunjukkan bahwa kasus COVID-19 yang teridentifkasi hanya 8,1% sedangkan 91,9% tidak disadari oleh individu tertular. Jadi kasus sangat rendah yang setara dengan awal Pandemi bulan Mei 2020 lalu adalah berkat proteksi imunitas yang belum memudar karena baru terbentuk (< 6 bulan). Jerman 5 bulan lalu, pada 1 Juli 2021, kasus harian barunya hanya 754, ketika cakupan vaksinasi lengkapnya 38,1 %. Sangat mirip dengan kondisi Indonesia saat ini bukan.

Jadi apa yang bisa dilakukan agar MotoGP bulan Maret 2022, 4 bulan lagi nanti agar berjalan lancar dengan kasus COVID-19 rendah sehingga para wisatawan juga akan ramai datang ke NTB? Usulan saya adalah : 1) Lakukan pemantauan serologi antibodi anti-COVID-19  secara periodik seperti sebulan sekali untuk memantau pemudaran imunitas yang mungkin ada. Dengan data jelas, langkah tegas dapat diambil. KEMENKES saat ini pun melakukan pemeriksaan ini secara sporadik di seluruh Indonesia. Tapi untuk dapat data yang pasti untuk NTB, Pemda perlu menyiapkan dan menganggarkan. Menggunakan rapid antibodi IgG IgM COVID-19 yang harganya hanya Rp.20-an ribu/test, tentunya tidak sulit untuk merealisasikan. 2) Persiapan booster vaksin ke-tiga di luar NAKES, dari sekarang. Bila vaksin dan dana terbatas, bisa prioritas ke golongan usia lanjut dan laki-laki yang cenderung lebih mudah memudar daya proteksi vaksinnya, selain karena resiko tertular lebih tinggi karena bekerja di luar rumah (jurnal Seminars in Immunopathology, Springer, 13 Des. 2019). Di luar dua ini, tentunya Protokol COVID-19 tidak boleh kendor seperti menggunakan masker, testing dan tracing untuk kasus positif. Sebabsangat disayangkan, sekarang masyarakat makin banyak tidak menggunakan masker karena merasa aman dan sampel testing-tracing juga sangat kurang yang masuk ke lab pemeriksaan. Dengan demikian, belajar dari pengalaman Negara-negara Eropa kita bisa menyambut gelaran MotoGP yang pertama di Indonesia ini dengan penuh keceriaan dan harapan terhadap pulihnya ekonomi lewat pariwisata. Semoga. (r)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional