Corona Tak Kunjung Berakhir, Libatkan Tokoh Agama, Kendalikan Belanja Lebaran Masyarakat

Aziz Bagis .(Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram, Dr. H. Azis Bagis mengingatkan masyarakat, agar mengendalikan konsumsi meski lebaran. Hal ini dimaksudkan agar ketahanan ekonomi masyarakat bisa dijaga di tengah belum adanya kepastian Covid-19 berakhir.

Masyarakat mulai ramai berbelanja kebutuhan lebaran. Toko-toko fashion di Mataram misalnya, sudah mulai diserbu. Dr. Azis Bagis  mengatakan, euforia masyarakat ini didukung gaji, THR atau tabungan. Ada kecenderungan, pola konsumtif masyarakat NTB tinggi. “Masyarakat yang punya uang tidak bisa menahan diri. Padahal, harusnya ditahan. Karena ekonomi sedang minus, pandemi belum selesai,” katanya pada Suara NTB, Selasa, 4 Mei 2021.

Iklan

Perilaku konsumtif masyarakat di tengah kondisi seperti ini, apalagi belanjanya bukan pada kebutuhan yang sangat mendesak menurut Dr. Azis Bagis, dapat membuat pemulihan ekonomi menjadi makin runyam. “Awal bulan it’s oke. Tapi tunggu pertengahan, atau akhir bulan. Ekonomi keluarga loyo lagi, kalau tidak dikendalikan,” imbuhnya.

Belanja katanya sangat sah-sah saja dan harusnya memang diperbanyak belanja untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Tetapi, dalam situasi ini, lagi-lagi masyarakat NTB diminta harus bijak berbelanja. Utamakan membeli produk-produk yang dibuat di NTB (produk) lokal. Sehingga uangnya bisa berdampak besar terhadap daerah.

Melihat prioritas belanja lebaran ini, masyarakat cenderung membeli produk-produk fashion yang bukan produksinya dari NTB sendiri. Atau membeli kebutuhan-kebutuhan lain yang diproduksi di luar daerah. Apalagi jika masyarakat berduyun-duyun belanja ke rite-ritel yang jaringannya nasional, atau jaringan internasional.

Melihat profil usaha di NTB, lanjut Dr. Azis, sebagian besar komposisi pengusahanya didominasi oleh pengusaha yang mendatangkan kebutuhan dari luar. “Artinya, ketika masyarakat ramai-ramai berbelanja di pengusaha luar, yang barangnya dari luar. Otomatis uang belanjanya mengalir ke luar. Yang menikmati ya jaringan-jaringan luar ini. Sedikit porsinya ngendap di NTB,” imbuhnya.

Akibatnya juga, pemulihan ekonomi masyarakat di tengah corona ini menjadi berat. Harusnya, dana-dana yang diterima dari pusat (gaji) diendapkan di daerah. dengan membelanjakannya untuk produk-produk/kebutuhan lokal. Kalaupun harus dibelanjakan. Berbelanja di warung tetangga atau berbelanja di pengusaha-pengusaha lokal menurutnya dapat membantu pemerintah menggerakkan perekonomian lokal lebih baik.

“Ini kita bicara konteks NTB. Kalau bicara konteks nasional, ndak masalah,” jelas Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Provinsi NTB ini. Untuk itu, pemerintah daerah harus bergerak cepat mencerdaskan masyarakat. Libatkan informal leader. Dalam hal ini dimaksudkan tokoh-tokoh agama. Optimalkan perannya. Mencerahkan kepada masyarakat untuk mengatur pola konsumsi masyarakat. Menguatkan tema ekonomi dan agama dalam interaksinya kepada masyarakat/jemaah.

“Tinggal informan leadear ini diberikan pemahaman oleh pemerintah tentang konsep yang bisa disampaikan dengan bahasa-bahasa agama. Harus ambil langkah strategis agar kendalikan pola konsumsi masyarakat, sampai corona ini usai,” demikian Azis Bagis. (bul)

Advertisement ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional