Corona Pangkas Triliunan Rupiah Perputaran Uang di NTB

Suntono , Achris Sarwani. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Mewabahnya virus Covid-19 di Indonesia membuat Bank Indonesia kembali melakukan perhitungan ulang proyeksi Pertumbuhan Ekonomi (PE) tahun 2020. Bank Indonesia NTB juga melakukannya.

Secara nasional, Bank Indonesia memangkas proyeksi PE Indonesia 2020 menjadi 5 persen hingga 5,4 persen dari prakiraan sebelumnya 5,1 persen sampai 5,5 persen. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB, Achris Sarwani mengatakan telah melakukan revisi PE, berdasarkan hasil pemantauan di lapangan.

Iklan

Tahun 2020 ini Bank Indonesia NTB memproyeksikan PE NTB sebesar 5,4 persen – 5,8 persen. Jika dalam jangka waktu 3 bulan, situasi belum terkendali. PE NTB proyeksinya dipangkas menjadi pada 3,3 persen -3,7 persen.

Selanjutnya, di skenario terburuk Covid-19, bila situasi belum terkendali sampai 6 bulan kedepan, atau hingga akhir tahun 2020 ini, proyeksi PE NTB dipangkas signifikan, menjadi 1 persen, sampai 2 persen, kata Achris Sarwani kepada Suara NTB, Kamis, 26 Maret 2020. Penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen, sama dengan hilangnya nilai perputaran ekonomi sebesar Rp1 triliun. Demikian juga sebaliknya.

Proyeksi penurunan PE akibat virus corona ini, tekanan perlambatan ekonomi di NTB diperkirakan terjadi utamanya di sektor perdagangan, transportasi dan akoomodasi yang terdampak penurunan kinerja pariwisata.

Meski demikian, masih ada harapan menurut Achris. Yaitu sektor pertanian yang merupakan sektor penyumbang PDRB terbesar di NTB diperkirakan masih dapat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tahun 2020.

Seiring dengan ekspektasi Bank Indonesia, sektor pertanian akan meningkat kinerjanya. Membaiknya harapan kinerja pertanian, didukung terutama oleh cuaca yang relatif lebih baik dibandingkan tahun 2019 dimana terjadi kekeringan akibat elnino.

Selanjutnya, di sektor konstruksi juga diharapkan masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi . Seiring dengan akan tetap berlangsungnya pembangunan proyek-proyek strategis di NTB. Seperti sirkuit MotoGP, pembangunan jalan by pass BIL-Mandalika, penambahan kapasitas bandara internasional Lombok dan kelanjutan pembangunan pelabuhan internasional Gili Mas.

Selain itu, Bank Indonesia berharap kinerja pertambangan masih dapat tumbuh stabil dengan adanya pergerakan harga komoditas emas terutama yang mengalami kenaikan akibat dampak covid-19.

“Daya beli masyarakat sudah bisa dilihat menuju pelemahan. Dan masyarakat sudah menahan uangnya untuk membelanjakannya pada hal-hal yang sangat penting, ini juga perlu diantisipasi agar perputaran uang terus berjalan. Jaga sektor pertanian, setidaknya, kita bisa memproduksi untuk kebutuhan kita sendiri agar tidak terlalu jatuh,” demikian Achris.

Di NTB, sejak mewabahnya virus corona, terlebih setelah resmi diumumkannya dua orang yang positif corona oleh Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah, aktivitas ekonomi menjadi lengang.

Lalu lalang orang berkurang drastis. Toko-toko menutup diri, pemerintah membijaksanai Work From Home (WFH/bekerja dari rumah), manajemen Lombok Epicentrum Mal (LEM) juga mengambil langkah menutup sementara pusat perbelanjaan terbesar di provinsi ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Suntono menegaskan, sementara ini, data kemiskinan NTB yang telah dipotret sampai Maret 2020 ini menurutnya belum berpengaruh Covid-19. Angka kemiskinan NTB terakhir dirilis BPS sebesar 13,88 persen.

Pada Maret 2019, jumlah penduduk miskin di NTB mencapai 735,96 ribu jiwa atau sebesar 14,56 persen dari jumlah penduduk. Sementara, berdasarkan data September 2019, penduduk miskin NTB turun menjadi 705,68 ribu jiwa (13,88 persen).

Suntono menjelaskan, penurunan angka kemiskinan NTB sebesar 0,68 persen. Capaian ini menempatkan NTB sebagai provinsi dengan laju penurunan kemiskinan tercepat kedua di Indonesia setelah Papua.

“Angka kemiskinan kita pasti turun. Pasti. Intinya, kalau aktifitas ekonomi tidak bergerak. Sektor rumah tangga sebagai penyedia produksi, pembuka lapangan kerja, pasti terdapamlak. Cuma penurunannya sampai seberapa persen, kita tidak bisa memberikan prediksi. Kita bisa melihatnya nanti di akhir tahun, atau tahun berikutnya,” kata Suntono.

Secara teori, ketika sektor produksi terdampak, pendapatan masyarakat berkurang. Secara otomatis, belanja juga berkurang. Dampaknya ke kemiskinan. Mereka yang terdampak mewabahnya virus corona adalah golongan menangah kebawah, apalagi dengan adanya kebijakan untuk tetap tinggal dirumah.

“Mudah saja bagi mereka yang cukup. Tapi bagi mereka, yang tidak keluar tidak makan tentu menjadi sulit,” ujarnya.

Untuk bisa mengatasi itu, kebiakan penyaluran bantuan sosial perlu dilakukan untuk menolong masyarakat miskin. Dengan musibah Covid – 19, ini akan merubah statusnya yang tadinya tidak miskin menjadi miskin, rentang miskin menjadi miskin. Musibah ini akan menjadikannya jatuh kata Suntono.

Demikian juga dengna Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB, terakhir posisinya mengalami peningkatan tercepat kelima di Indonesia. Tentu juga akan berpengaruh. Karena indikator IPM diantaranya tiga hal yang dipotret, rata-rata lama sekolah, kesehatan, dan ekonomi.

“Sekarang semua terdampak. Apalgi dimensi ketiga terkait dengan pengeluran kaitannya dengan dimensi ekonomi. Secara statististik ada koherensinya dengan kemiskinan. Intervensinya, bisa melalui langkah strategis masing-masing bidang,” demikian Suntono.(bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional