Cidomo di Mataram Butuh Pembenahan

Cidomo sedang menunggu penumpang di terminal cidomo salah satu pasar tradisional di Mataram, Minggu, 27 September 2020.

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menyusun rencana pendataan cidomo sebagai salah satu moda transportasi tradisional yang masih bertahan beroperasi. Hal tersebut dilakukan untuk menjamin tersedianya moda transportasi yang aman dan nyaman serta tertib secara administratif.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, M. Saleh, menerangkan pendataan tersebut telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. “Kita sudah mulai sensus. Baru kita mulai dari Pasar Kebon Roek,” ujarnya, Minggu, 27 September 2020.

Iklan

Sembari melakukan pendataan, pihaknya juga sekaligus melakukan pemasangan stiker untuk membedakan cidomo yang berasal dari Kota Mataram maupun daerah lain. “Jadi cidomo yang dari kota berbeda warna stikernya dengan yang dari luar,” ujar Saleh.

Berdasarkan pendataan di Pasar Kebon Roek tersebut, pihaknya mencatat 104 unit cidomo dari Kota Mataram yang masih aktif beroperasi. Sedangkan untuk cidomo dari luar daerah antara lain Lombok Barat (Lobar) sebanyak 40 unit. “Itu langsung kita buatkan organisasinya juga tingkat Kecamatan Ampenan. Ini memang baru mulai, nanti kita lanjutkan ke tempat yang lain,” jelasnya.

Terkait cidomo dari luar daerah yang beroperasi di Kota Mataram akan dikoordinasikan dengan Dishub daerah setempat. “Ini fungsi kordinasi kita juga dengan Dishub Lobar dan sebagainya,” ujar Saleh. Kedepan, seluruh cidomo tersebut diharapkan tertib secara administratif. Antara lin memiliki STNKTB, SIM bagi kusir, dan lain-lain.

“Kantong kotoran juga harus bersih dan mereka harus taat trayek-nya,” ujar Saleh. Menurutnya, untuk mencapai target yang diinginkan memang membutuhkan pembinaan jangka panjang. Pembinaan tersebut perlu dilakukan untuk membantu cidomo dapat bertahan. Terutama dengan banyaknya moda transportasi lainnya yang dapat dipilih oleh masyarakat. Untuk itu, pengembangan cidomo sebagai moda transportasi lokal perlu mendapat perhatian.

“Biarkan masyarakat yang memilih moda transportasi yang aman. Kalau besok masyarakat merasa tidak nyaman lagi dengan cidomo, masyarakat bisa beralih ke transportasi yang lain,” tandas Saleh. (bay)