Cidomo di Mataram Bertahan di Tengah Pandemi

Salah satu cidomo menunggu penumpang di Pasar Sindu, Mataram. Segmen penumpang yang terbatas membuat moda transportasi tradisional ini susah bertahan.(Suara NTB/bay)

Tren cidomo sebagai salah satu kendaraan tradisional di Kota Mataram semakin memudar. Selain karena minimnya pasar pengguna moda transportasi tersebut, pandemi virus corona (Covid-19) yang berlangsung sejak Maret lalu juga turut memberi imbas.

SALAH satu pemilik cidomo di Pasar Mandalika Mataram, Munahin menuturkan, operasional cidomo terbatas hanya di pasar-pasar tradisional. “Kita biasanya sama orang-orang yang belanja ini (sebagai penumpang). Tapi pasar juga sepi sekarang,” ujarnya saat ditemui Suara NTB, Kamis, 29 Oktober 2020.

Iklan

Selain itu, semakin banyaknya moda transportasi lain di Mataram juga ikut menggerus pamor cidomo. “Itu juga buat penumpang berkurang, soalnya kendaraan (sepeda motor pribadi atau motor online, red) ini semakin banyak,” ujarnya.

Mengikuti kondisi tersebut penghasilan harian kusir cidomo seperti dirinya disebut berkurang hingga 50 persen. Terutama jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi Covid-19. “Sekarang ini Rp50 ribu kadang. Kalau sebelumnya Rp100 ribu juga dapat,” ujar Munahin.

Kusir cidomo lainnya, Ismail, menerangkan penumpang cidomo saat ini didominasi oleh penumpang pasar. Sedangkan untuk angkutan barang telah berkurang sejak lama. “Kita tetap mengangkut penumpang. Barang malah enggak ada sekarang,” ujarnya. Terkait pendapatan, disebutnya sangat tidak menentu dengan kondisi tersebut. “Pokoknya dapat 1 atau 2 kita jalan. Dapat Rp2 ribu – Rp3 ribu, kita jalan,” sambungnya.

Kendati demikian, dirinya masih bersyukur setiap harinya tetap mendapat penumpang. “Tidak pernah sih kita benar-benar sepi. Ada saja penumpang kalau kita keluar, minimal Rp10 ribu dapat lah,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, M. Saleh, menyebutkan, cidomo di Mataram memang membutuhkan pembenahan. Antara lain dari segi kebersihan dan keteraturan tempat beroperasi.

Menurutnya, pembinaan perlu dilakukan untuk membantu cidomo dapat bertahan. Terutama dengan banyaknya moda transportasi lainnya yang dapat dipilih oleh masyarakat. Untuk itu, pengembangan cidomo sebagai moda transportasi lokal perlu mendapat perhatian.

“Biarkan masyarakat yang memilih moda transportasi yang aman. Kalau besok masyarakat merasa tidak nyaman lagi dengan cidomo, masyarakat bisa beralih ke transportasi yang lain,” ujar saleh.

Diterangkan, salah satu pasar paling potensial untuk cidomo adalah wisatawan. Untuk itu pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kota Mataram. “Tapi untuk pariwisata ini juga dia harus layak. Mulai dari kebersihannya dan fisik cidomonya,” tandas Saleh. (bay)