Cegah Pernikahan Dini dan Gizi Buruk, Desa Sekotong Tengah Bentuk Satgas

Pemberian PMT kepada ibu-ibu pada saat pelaksanaan Posyandu di Dusun Sekotong 2. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (suara NTB) –Penanganan terhadap gizi buruk,stunting dan perkawinan anak di bawah umur merupakan persoalan sosial dasar yang menjadi pokok perhatian Pemerintah Desa Sekotong Tengah Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat. Pada Februari 2020,tercatat nol balita gizi buruk,36 BGM,53 gizi kurang dan 94 stunting serta 16 kasus perkawinan usia anak yang tersebar di 18 dusun di desa ini. Sekotong Tengah merupakan desa tertua di Kecamatan Sekotong dengan jumlah balita sebanyak 763 orang.

Untuk mengatasi persoalan tingginya angka stunting dan gizi kurang, Pemerintah Desa Sekotong Tengah melakukan beragam terobosan program. Beberapa di antaranya adalah program penanganan angka gizi buruk dengan membentuk satgas pengurangan gizi buruk di desa yang bertugas mendata dan melaksanakan program pengentasan gizi buruk. Selain itu pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil.

Iklan

Dalam bidang penanganan stunting, dibentuk kader pemberdayaan manusia (KPM) yang membantu desa dalam pemantauan dan memberikan data terkait stunting di desa. Sedangkan program di bidang pendewasaan usia perkawinan di lakukan dalam bentuk pembuatan Perdes Perlindungan Anak,membentuk Forum Anak Desa,Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPAD),memberikan beasiswa pendidikan serta membuat awik-awik tentang perkawinan.

Berikutnya untuk program kepemilikan akta kelahiran anak di lakukan dalam bentuk kerjasama sidang isbat keliling bersama PA Giri Menang sebagai dasar pembentukan dokumen kelahiran anak. Program pengurusan Akte Kelahiran Gratis bersma Yayasan Santai NTB.Dan membentuk petugas registrasi penduduk desa. “Itulah beberapa program yang kami lakukan terkait penanganan gizi buruk,stunting dan pencegahan perkawinan usia anak,”terang Kepala Desa Sekotong Tengah, Lalu Sarappudin ketika memantau pelaksanaan pemberian PMT di Posyandu Dusun Sekotong 2, Selasa, 14 Oktober 2020.

Semua hal tersebut tidak lepas dari binaan dan kerjasama Puskesmas Sekotong dengan Desa Sekotong Tengah. Di mana melalui loka minikarya lintas sektor, pihak Puskesmas selalu menyajikan data dan permasalahan kesehatan yang terjadi di masing-masing desa. Serta dibahas solusi apa yang harus ditindaklanjuti oleh desa.

Peran Puskesmas dalam menggerakkan pembangunan desa sangat dibutuhkan dalam memfasilitasi desa khususnya dalam penyusunan perencanaan di bidang kesehatan. Sehingga inovasi desa dan penganggaran tepat sasaran sesuai permasalahan dimasing masing desa.

Bentuk intervensi yang dilakukan puskesmas dalam penanganan stunting, kata Kepala UPT BULD Puskesmas Sekotong, Nyoman Adyana Putra yakni intervensi spesifik berupa pemberian tablet tambah darah (TTD) pada ibu hamil dan remaja putri sebagai calon ibu. Pemantauan pemberian ASI eksklusif, kelas gizi, kelas ibu hamil, pemberian PMT Pemulihan untuk ibu hamil KEK dan balita gizi kurang, gizi buruk dan pemberian vitamin A dan obat cacing pada balita dan anak TK, SD. Sedangkan untuk intervensi gizi sensitif di antaranya berupa peningkatan kemampuan kader dalam memberikan konseling gizi pada ibu-ibu balita yang mengalami masalah gizi. Dengan pelatihan PMBA untuk kader, penyuluhan dan pemantauan air bersih dan jambanisasi, posyandu remaja dan pemantauan pertumbuhan perkembangan balita di posyandu (her)