Cegah Penularan di Sekolah, Sekolah Harus Punya Data Perjalanan dan Penyakit Komorbid

Yusuf, Joni Moa. (Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) – Sebagai salah satu upaya antisipasi penularan Covid-19, pihak sekolah diminta memiliki data perjalanan ke luar daerah dan penyakit komorbid dari warga sekolah. Protokol kesehatan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) pembelajaran tatap muka juga harus dilaksanakan dengan ketat.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) NTB, Yusuf saat mengikuti rapat evaluasi belajar tatap muka jenjang SMA, SMK, dan SLB, Jumat, 22 Januari 2021 mengatakan, SOP pembelajaran tatap muka harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Di samping itu, sekolah harus terus memperbarui data kesiapan sekolah. Terutama, data perjalanan siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Selain itu, data penyakit komorbid atau penyakit bawaan yang dimiliki oleh warga sekolah.

Iklan

“Kita juga harus memiliki data perjalanan keluar daerah dan penyakit komorbid siswa atau guru kita. Saya mendukung pembelajaran tatap muka tetap dilaksanakan,” katanya.

Pembelajaran secara tatap muka harus tetap dilaksanakan dengan penjagaan yang ketat dari semua pihak, yaitu guru, kepala sekolah, dan pihak terkait lainnya. “Kesehatan dan keselamatan guru, siswa dan tenaga kependidikan yang utama, oleh karena itu pembelajaran tatap muka yang sudah atau sedang dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat,” ujar Yusuf.

Selain itu, sekolah mengawal siswa saat masuk, dalam proses pembelajaran, dan terutama saat pulang. Karena saat pulang sering terjadi kerumunan. Oleh karena itu pihak sekolah perlu secara ketat mengawasi peserta didik tentang penggunaan masker dan  jaga jarak. “Perlu juga pengawalan saat kepulangan anak-anak,” sarannya.

Koordinator Pengawas (Korwas) Mataram Lombok Barat Drs. Joni Moa mengatakan, sekolah perlu protektif dengan mengumpulkan data guru dan siswa yang sakit. “Artinya supaya jangan ada tumbuh klaster baru, sehingga bisa disikapi,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknya ingin kepala sekolah melakukan evaluasi layanan tatap muka terbatas dengan tim Satgas Covid-19. Siswa perlu melakukan kontrol saat pergantian sif di kelas-kelas. Kepala sekolah perlu mengingatkan kepada warga sekolah tidak henti-henti untuk menjalankan protokol kesehatan.

Joni menyampaikan, sekolah juga perlu melaksanakan kunjungan rumah-rumah. Ketika ia melakukan kunjungan ke sekolah, di tiap kelas jumlah siswa relatif sedikit dari seharusnya 15 sampai 18 orang. “Tapi ternyata di kelas kita lihat ada tujuh atau delapan orang, mungkin sekolah berkewajiban kunjungan rumah ke orang tua,” katanya.

Di samping itu, sekolah sudah membuat nota kesepahaman dengan tenaga kesehatan. Menurut Joni, sekolah bisa minta kehadiran tenaga kesehatan hadir ke sekolah setiap dua atau tiga bulan untuk melihat kondisi kesehatan di sekolah. “Sekolah perlu membuat laporan tentang instrumen yang diisi sekolah,” kata Joni. (ron)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional