Cegah Penularan Corona, Uang Senilai Rp171 Miliar Dikarantina

Ilustrasi uang (pxhere)

Mataram (Suara NTB) – Sejak merebaknya Covid-19, awal  Maret lalu di Indonesia, Bank Indonesia melakukan sejumlah langkah antisipasi dan pencegahan penularan virus. Salah satunya, melakukan karantina rupiah. Uang yang dikarantina, rata-rata uang yang disetor bank kepada Bank Indonesia.

Bank Indonesia memperlakukan secara khusus uang-uang yang masuk. Setiap uang yang masuk (inflow) ke Bank Indonesia, wajib untuk dilakukan proses karantina selama 14 hari dan dilakukan penyemprotan cairan disinfektan sebelum uang tersebut dapat diolah mapun dibayarkan kembali kepada Perbankan.

Iklan

Jumlah uang Karantina sampai per tanggal 10 Juni 2020 sebesar Rp171,090 miliar untuk setoran ULE dan Rp129,214 miliar untuk setoran UTLE.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Achris Sarwani mengemukakan, total inflow ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia  NTB secara agregat untuk semester I tahun 2020 sebesar Rp5,003 triliun atau mengalami penurunan sebesar 8,66% (yoy) dibandingkan dengan inflow semester I tahun 2019.

Inflow Uang Pecahan Besar (UPB) mengalami penurunan sebesar 9,47% sementara inflow Uang Pecahan Kecil (UPK) mengalami peningkatan sebesar 14,82% yang merupakan setoran Uang Tidak Layak Edar (UTLE). Penurunan total inflow disebabkan oleh turunnya jumlah setoran perbankan yang tengah berupaya untuk memaksimalkan posisi kas untuk memenuhi kegiatan operasional menuju era kenormalan baru (new normal).

Dalam sudut pandang lain, penurunan total inflow dapat diartikan sebagai penurunan penerimaan uang dari masyarakat. Hal tersebut tampak pada tren penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan terutama dari tabungan. Penurunan aktivitas ekonomi berdampak kepada penurunan pendapatan pengusaha, yang diatasi dengan menghentikan sementara operasional produksi.

Sementara itu, total outflow atau uang yang dikeluarkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB secara agregat untuk semester I tahun 2020 sebesar Rp4,290 triliun atau turun sebesar 26,50% (yoy) dibandingkan dengan total outflow semester I tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi baik pada UPB yang turun sebesar 25,31% dan UPK yang turun sebesar 44,29%.

Penurunan jumlah outflow disebabkan oleh intensitas penarikan oleh Perbankan ke Bank Indonesia yang mengalami penurunan. Penurunan outflow mengindikasikan transaksi keuangan dan kebutuhan akan uang tunai masyarakat masih rendah. Keberadaan uang tunai tersebut identik dengan transaksi ritel, dimana penurunan kebutuhan uang tunai dapat diartikan sebagai turunnya aktivitas transaksi ritel masyarakat akibat penyebaran Covid-19. Sementara dari sisi pengusaha, penurunan aktivitas ekonomi berdampak kepada pengurangan produksi bahkan penghentian sementara kegiatan usaha, dan berdampak lanjutan kepada penurunan pendapatan di kalangan pekerja.

Untuk menjaga kondusivitas perputaran ekonomi di Provinsi NTB, dibutuhkan pemberdayaan UMKM yang menjamin adanya keterhubungan antara UMKM dengan pasar terutama pasar lokal. Dengan demikian, terdapat jaminan pergerakan aktivitas ekonomi UMKM yang berdampak kepada jaminan penghasilan bagi tenaga kerja serta jaminan atas repayment capacity untuk berbagai kredit UMKM.

Adapun keterhubungan antara pelaku UMKM dengan pasar, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis platform digital yang tersedia saat ini. Penggunaan platform dan pembayaran digital berdampak kepada data transaksi UMKM yang terdokumentasi dengan baik. Data tersebut dapat dijadikan dasar oleh perbankan dalam hal pertimbangan untuk pemberian pinjaman modal kepada pelaku usaha.

Berdasarkan kajian yang lakukan pada Bulan Mei 2020,kegiatan e-commerce NTB mengalami pertumbuhan 14% (yoy), melambat dibandingkan dengan  pertumbuhan bulan sebelumnya yaitu 28% (yoy). Jumlah penjual tumbuh stabil sebesar 52%(yoy), sedangkan jumlah pembeli tumbuh melambat sebesar 9%(yoy). (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional