Cegah Corona, Pemberian Tugas Sekolah di Rumah Sangat Penting

Oryza Pneumatica Inderasari (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemberian tugas oleh guru atau dosen kepada siswa atau mahasiswa sangat penting dilakukan selama penghentian sementara kegiatan pembelajaran secara tatap muka. Siswa dan mahasiswa harus memahami pentingnya pemberian tugas itu, demikian juga kepada guru dan dosen harus tepat dalam memberikan tugas serta memahami psikologis peserta didik.

Sosiolog dari Program Studi Sosiologi Universitas Mataram (Unram), Oryza Pneumatica Inderasari, S.Sos, M.Sosio., pada Senin, 23 Maret 2020 mengatakan, beberapa orang menyalahkan pengajar ketika tugas diberikan saat libur pembelajaran tatap muka selama dua pekan, karena menganggap siswa atau mahasiswa tertekan dengan adanya virus Corona.

Iklan

Namun ia tidak setuju dengan pendapat tersebut. Oryza menekankan, yang perlu dipahami saat ini situasi tidak normal.  Namun proses belajar mengajar tetap harus berjalan, apalagi di zaman teknologi komunikasi tanpa batas seperti saat ini.

Ia sebagai pengajar lebih khawatir bila siswa atau mahasiswa tidak menjalani kuliah online atau mendapat tugas. “Saya bayangkan mereka akan menghabiskan waktu hanya untuk bercengkerama dengan gadget atau bahkan dipakai eksplorasi kota alias jalan-jalan dan kumpul-kumpul. Agak miris juga bila sesekali saya berkeliling kota hanya untuk memantau perkembangan dan mendapati, kafe-kafe masih saja penuh anak muda. Ke mana ini peran moral force pemuda?” katanya.

Moral force pemuda itu maksudnya, pemuda harus berperan sebagai kekuatan moral. Predikat moral force ini diberikan kepada pemuda oleh masyarakat, sebab di pundaknya ada harapan besar dari negeri ini pada pemuda yang akan menjadi kekuatan moral untuk negeri. Pemuda harus memiliki acuan dasar dalam berperilaku. Acuan dasar itu adalah tingkah laku, perkataan, cara mengambil keputusan, cara bersikap, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan moral yang baik.

“Konteks saat ini harusnya mereka jadi rujukan masyarakat untuk mengambil keputusan yang taktis, kritis, dan tepat dalam kondisi seperti sekarang,” jelas Oryza yang merupakan dosen Prodi Sosiologi Unram ini.

Terkait hal itu, pembelajaran jarak jauh melalui kelas virtual dianggapnya solusi yang efektif. Meski demikian, belajar jarak jauh di rumah butuh peran serta dari seluruh anggota keluarga untuk memahamkan bahwa libur ini bukan liburan bebas tugas. Namun libur untuk misi kemanusiaan dalam rangka memutus rantai penyebaran virus Corona.

Lebih utama lagi, kata Oryza, siswa atau mahasiswa sebagai kaum terpelajar harus punya komitmen yang tegas untuk mendukung pembatasan sosial atau social distancing, sehingga dapat berperan mengedukasi masyarakat untuk diam di rumah.

Ketika orang tua atau pengasuh di rumah memiliki kepedulian pada misi putus rantai penyebaran virus Corona, maka mereka memiliki peran penting untuk memantau kegiatan anak di rumah selama sekolah atau kuliah diliburkan. “Ya setidaknya saling mengingatkanlah untukk selalu melakukan hal produktif selama di rumah,” ujar Oryza.

Sementara itu, bagi pengajar, mengenai model pembelajaran hendaknya disesuaikan psikologis peserta didik. Oryza menyampaikan perlu diingat juga bahwa situasi siswa atau mahasiswa itu selama satu semester dan mengikuti banyak mata kuliah atau mata pelajaran. Bila pengajar tidak ada ruang komunikasi antar pengajar mengenai  tugas-tugas yang akan diberi secara bersamaan ke siswa, maka sebaiknya juga mengingat bahwa siswa atau mahasiswa juga pasti akan menerima tugas dari pengajar lainnya. (ron)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here