Catatan Pariwisata NTB 2020, Sektor Terpuruk Terdampak Pandemi, Songsong Kebangkitan Pariwisata NTB 2021

Wisatawan yang berkunjung ke NTB harus melalui protokol kesehatan. Termasuk saat menginap di hotel, penerapan protokol kesehatan juga wajib dilakukan. (Suara NTB/ist)

Pandemi  Covid-19 telah menimbulkan efek berantai terhadap banyak sektor. Tidak hanya  pada masalah kesehatan, tetapi juga berdampak buruk pada sector pariwisata NTB. Sektor pariwisata yang baru saja bangkit pascagempa bumi yang cukup besar pada 2018, kembali terpuruk terkena dampak pandemi Covid-19 dengan ditemukannya kasus positif pertama di NTB, 24 Maret 2020.

PADA pertengahan Juni 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mengkaji dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor pariwisata dan industri di NTB dengan melakukan simulasi dampak terberat, sedang dan ringan. Hasil kajian BPS, sektor pariwisata dan industri berpotensi menurunkan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB ADBH) sebesar 5,5 – 12 persen.

Kepala BPS NTB, Suntono mengatakan untuk menghindari dampak negatif yang cukup besar, berbagai stimulus ataupun insentif yang tepat sangat diperlukan. Ia mengatakan, industri pengolahan merupakan salah satu leading sector dalam perekonomian NTB. Guncangan dalam sektor ini berpotensi besar mengganggu stabilitas ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Sehingga sangat penting untuk menjaga keberlanjutan sektor industri pengolahan.

Sementara itu, sektor pariwisata yang di dalamnya merupakan gabungan dari sektor perdagangan, transportasi penyediaan akomodasi, serta penyediaan makan minum merupakan sektor yang berpotensi untuk mendorong perekonomian NTB. Ke depannya sektor ini dapat mendorong perkembangan ekonomi NTB menjadi lebih cepat.
Khusus untuk sektor pariwisata, yang di dalamnya ada sektor perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya diperkirakan dampak terberatnya terjadi penurunan permintaan minus 73,4 persen, sedang minus 35,25 persen dan ringan minus 16,18 persen. Kemudian sektor perdagangan besar dan eceran, bukan mobil dan sepeda motor  dampak terberatnya  diperkirakan terjadi penurunan permintaan minus 75 persen, sedang minus 50 persen dan ringan 25 persen.

Dinas Pariwisata (Dispar) NTB mencatat sedikitnya 15.000 pekerja sektor pariwisata yang terdampak pandemi Covid-19. Dengan rincian 6.150 di bidang hotel, 2421 di bidang pokdarwis, 1383 travel/guide, 636 porter, homestay 213, 2241 Ekraf/IKM, 363 Sanggar Seni, 229 Lapak Kuliner, 531 Boatman dan 833 petugas kebersihan, tiket dan pedagang asongan.

Pemprov NTB melalui Dispar telah merancang pembenahan dan pemulihan industri kreatif dan pariwisata melalui tiga tahap. Yakni, tahap tanggap darurat, tahap pemulihan dan tahap normalisasi. Kepala Dispar NTB, H. Lalu Moh. Faozal, S.Sos., M.Si., mengatakan fase tanggap darurat dimulai sejak bulan Maret hingga akhir bulan Mei, Dispar NTB telah melakukan upaya untuk menekan dampak buruk yang terjadi pada perekonomian masyarakat di sektor pariwisata.
Salah satu langkah yang diambil adalah berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) serta pemerintah kabupaten/kota untuk membantu para pekerja, termasuk mendorong kebijakan fiskal bagi pelaku pariwisata berdasarkan permohonan asosiasi.

Kemudian pada fase pemulihan, dimulai sejak Juni hingga Desember 2020. Di awal fase ini, ada konsep New Normal pada promosi dengan sasaran pariwisata pasar domestik yang dibagi ke dalam beberapa bagian daerah. Dan di bulan Januari hingga Desember 2021 merupakan fase normalisasi untuk mengembalikan kembali eksistensi kepariwisataan NTB.

NTB mendapatkan stimulus atau hibah pariwisata sebesar Rp46,89 miliar lebih. Diperuntukkan bagi lima daerah, yaitu Lombok Utara Rp15,32 miliar, Lombok Barat Rp13,59 miliar, Kota Mataram Rp7,9 miliar, Lombok Tengah Rp5,96 miliar dan Sumbawa Barat Rp4,11 miliar lebih.

Program stimulus atau hibah pariwisata merupakan program yang akan memberikan stimulus kepada pelaku industri hotel dan restoran dan pemerintah daerah yang telah menggerakkan pariwisata di daerahnya masing-masing. Ada 101 kabupaten/kota yang mendapatkan program ini dengan kriteria.

Seperti daerah yang masuk 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 5 Destinasi Super Prioritas, Destinasi Branding, Daerah dengan Realisasi Pajak Hotel dan Restoran minimal 15 persen. Kemudian daerah yang termasuk 100 Calendar of Event. Peruntukan dana hibah ini dibagi 70 persen kepada industri hotel dan restoran serta 30 persen kepada pemerintah daerah untuk menjadi bagian dalam program penanganan dampak ekonomi dan sosial dari pandemi Covid-19 terutama pada sektor pariwisata.

Menjelang akhir 2020, pariwisata NTB perlahan-lahan kembali pulih di tengah pandemi. Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, MSc., Senin, 21 Desember 2020 meminta kepada seluruh pelaku pariwisata untuk mempersiapkan diri menyambut tamu yang akan berlibur ke NTB, karena diprediksi akan banyak wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam NTB di momentum liburan akhir tahun.

Wisatawan, pastinya ingin berlibur dengan aman dan nyaman tanpa dihantui oleh ancaman virus Corona. Oleh karena itu, Gubernur meminta pelaku pariwisata agar memperketat penerapan protokol kesehatan (prokes) di setiap destinasi wisata.
Menurut informasi yang didapatkannya, prioritas utama para wisatawan sebenarnya adalah Bali. Namun Bali cukup serius dengan masalah pandemi Covid-19, sehingga para wisatawan banyak beralih ke NTB. Tentunya, kata Gubernur, hal ini menjadi peluang besar untuk pariwisata NTB.

Gubernur juga menginisiasi website promosi pariwisata “Lombok On” yang diluncurkan pada HUT NTB ke-62, Kamis 17 Desember 2020 lalu. Website tersebut menjadi pesan bahwa NTB siap melayani wisatawan dengan Nurut Tatanan Baru meski dunia tengah menghadapi pandemi Covid-19.

Strategi promosi pariwisata Lombok On ini merupakan kolaborasi pemerintah NTB dengan para pegiat pariwisata yang memungkinkan pemulihan sektor ini dapat bergerak lebih cepat. Dalam portal pariwisata www.lombokon.com ini, wisatawan dapat secara lengkap memperoleh informasi terkini mengenai lokasi destinasi wisata, kuliner hingga direktori bisnis di Lombok.

Hal senada dikatakan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah NTB siap untuk menerima wisatawan. Akan tetapi kesiapan itu tentu harus dibarengi juga dengan kekompakan semua pihak, terutama dalam memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi wisatawan.

Wagub menekankan pentingnya semua pihak menjaga dan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 di masa sekarang ini. “Kondisi sekarang, menjadi kewajiban kita untuk menerapkan protokol kesehatan. Tidak boleh ada tempat di NTB ini yang tidak menerapkan protokol kesehatan Covid-19,” pintanya.

Pada tahun 2021, berbagai event intenasional akan dilaksanakan di NTB. Seperti lomba balap sepeda Tour De France pada bulan September, MotoGP Mandalika bulan Oktober dan World Superbike (WSBK) pada bulan November 2021. Untuk peningkatan kapasitas masyarakat terutama UMKM yang bergerak di bidang ekonomi kreatif dalam menyambut MotoGP 2021, Gubernur telah menjalin kerja sama dengan Pemprov Jawa Barat. Selain itu, Gubernur juga telah menjalin komunikasi dengan Gubernur Bali, melakukan sinergi dalam menyukseskan MotoGP 2021.

Gelaran balap motor paling bergengsi di dunia, MotoGP, resmi menjadi agenda pariwisata NTB tahun 2021. Event MotoGP 2021 ini diluncurkan bersamaan dengan agenda resmi pariwisata lainnya di NTB, seperti pementasan dan atraksi budaya sepanjang 2021.

Sekda NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si., mengatakan, persiapan sarana dan prasarana gelaran MotoGP terus dilakukan sampai dengan final. Menurutnya, dalam menyambut event ini, selain memastikan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat di daerah dalam situasi kondusif. Hal yang tak kalah pentingnya adalah tentang pengendalian pandemi Covid-19. Sosialisasi, persiapan lokasi dan penerapan sertifikat CHSE akan mempengaruhi minat wisatawan untuk datang ke MotoGP dan berwisata di NTB.

Mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB ini mengatakan, informasi tentang jadwal event, pementasan budaya dan atraksi budaya dapat memiliki dampak signifikan untuk meningkatkan angka lama tinggal dan angka kunjungan wisatawan. Hal ini akan berkontribusi pada pendapatan NTB dan negara yang akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada tahun 2021, Pemprov NTB menargetkan angka kunjungan wisatawan sebanyak 4,4 juta orang, baik domestik dan mancanegara.

Sementara itu, Ketua Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) NTB, Dewantoro Umbu Joka, mendorong Pemprov memaksimalkan promosi di tengah pandemic Covid-19. Pandemi Covid-19 yang masuk ke NTB sejak Maret 2020 lalu memberikan dampak yang cukup luas bagi sektor pariwisata. Di antaranya, unit-unit usaha pariwisata memilih tutup sementara dan lebih dari 15.000 orang pekerja sektor tersebut dirumahkan, atau bahkan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Hal tersebut cukup disayangkan. Mengingat sektor pariwisata digadang-gadang menjadi salah satu motor penggerak ekonomi NTB 2020. Menghadapi pandemi di tahun emasnya, pariwisata NTB saat ini justru menghadapi tantangan untuk memaksimalkan promosi pada 2021, menyambut pariwisata pascapandemi.
“Kita harus lebih kencang lagi promosi, karena ini bukan cuma kita saja. Daerah lain juga promosi dia,” ujarnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membuat paket hemat pariwisata NTB untuk periode Desember hingga Juni 2021 mendatang.

Sasaran promosi sendiri saat ini diakui masih fokus pada pasar domestik. Terutama wisatawan dari Makassar, Jakarta, dan daerah lain di Pulau Jawa. Menurut Dewantoro, salah satu kunci untuk menggaet seluruh wisatawan tersebut adalah Gelaran MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang dicanangkan berlangsung 2021 mendatang.

Kendati demikian, pihaknya masih menyangsikan gelaran tersebut. Pasalnya, proses pengerjaan sirkuit belum selesai, sehingga pelaksanaan MotoGP di NTB sampai saat ini masih masuk dalam kalender cadangan.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Anita Achmad, menerangkan promosi pariwisata NTB 2021 memang membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Terutama untuk mendorong seluruh potensi dari gelaran MotoGP yang menjadi andalan.

Hal tersebut diakui akan cukup sulit, mengingat pada penyusunan RAPBD 2021, anggaran promosi justru tidak terakomodasi. Di mana anggaran promosi akan diberikan pada APBD Perubahan 2021 dengan syarat keberadaan dan kapasitas BPBD NTB secara simultan perlu diformulasi ulang dan ditingkatkan.

Menurutnya, ketiadaan anggaran promosi pariwisata 2021 saat ini masih dapat dimaklumi sebagai dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor ekonomi dan keuangan daerah. “Jadi kita harus memaklumi, harus bijak-lah. Mudah-mudahan ada perubahan. Kami di BPPD bisa berpromosi lebih baik lagi. Berapa pun kebijakan (anggaran) itu, mau tidak mau kita ikuti alur,” sambungnya.

Kendati demikian, kondisi tersebut diakui membuat rencana menjadikan sektor pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi menjadi kering. Terlebih melihat promosi yang masih dilakukan secara terpisah atau menumpang pada pihak lain, baik dari program-program pemerintah pusat maupun asosiasi pariwisata.

Hal tersebut sangat disayangkan. Dengan NTB yang tengah berusaha mengukuhkan diri dengan beberapa slogan seperti pariwisata halal dan pariwisata medis, maka sangat membutuhkan promosi mandiri. Pasalnya, untuk mewujudkan seluruh branding tersebut bukan perkara gampang jika tidak dilakukan secara simultan dan fokus.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ni Ketut Wolini, mencatat selama libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) memang terjadi peningkatan kunjungan wisatawan ke NTB. Terlebih dengan Bali yang mewajibkan tes PCR, sehingga banyak wisatawan yang justru beralih ke Lombok.

Diterangkan, untuk pemesanan kamar hotel saja sampai saat ini sudah mencapai 80 persen. Meskipun belum merata seluruh hotel, beberapa di antaranya masih berkisaran 30-40 persen. “Ini masih bergerak. Okupansi (menyeluruh) nanti setelah Desember ini baru kita bisa akumulasikan. Okupansi di kota berapa, di kabupaten berapa,” jelas Wolini.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisatas (Dispar) provinsi NTB, H Lalu Moh. Faozal, menerangkan geliat pariwisata NTB memang meningkat di akhir tahun. Dicontohkan berdasarkan catatan pihaknya okupansi hotel di kawasan Senggigi sampai akhir tahun mendatang telah mencapai 40-50 persen.
Untuk 2021 mendatang, gelaran MotoGP di KEK Mandalika disebut masih menjadi andalan. Terutama setelah melihat antusias wisatawan mancanegara untuk event tersebut cukup tinggi. Dicontohkan Faozal, seperti hasil pertemuan dengan pihak Mandalika Grand Prix Association (MGPA) yang mencatat pemesanan tiket yang telah didominasi oleh wisatawan asal Australia, yang kemudian disusul wisatawan Malaysia, dan negara-negara lain di kawasan Asia.

Untuk menjawab animo tersebut, pihaknya mendorong adanya penerbangan langsung oleh maskapai AirAsia. “Saya bayangkan 2021 booming kembali direct flight Australia Lombok ini,” ujarnya. Di mana selain Perth – Lombok, rute internasional yang memiliki potensi adalah penerbangan langsung Lombok – Singapura yang sebelumnya diisi oleh Silk Air.

Hal tersebut sangat dibutuhkan untuk menambah akses masuk ke NTB. Dari hasil diskusi pihaknya bersama MGPA, beberapa rute internasional yang menarik antara lain Lombok- Bangkok dan rute domestik seperti Lombok – Surabaya dan Lombok – Yogyakarta. (nas/bay)