Catatan Olahraga NTB 2020, Kalender Event Berantakan dan Dukungan Anggaran Olahraga Masih Minim

Atlet atletik Pelatnas asal NTB, Lalu Muhammad Zohri saat mengikuti latihan di Lintasan Atletik Sintetis GOR 17 Desember Turida Mataram, Maret 2020 lalu. Pemusatan latihan sempat dihentikan sementara akibat mewabahnya virus Corona di seluruh dunia. (Suara NTB/dok)

Tahun  2020 akan berakhir dalam beberapa hari ini. Tahun ini dinilai sebagai tahun terburuk sepanjang sejarah dalam hal  pembinaan olahraga nasional, khususnya catatan olahraga NTB. Bagaimana tidak, segala hal yang berkaitan dengan  agenda penting olahraga harus ditunda bahkan dihentikan akibat pandemi Covid-19.

PENYEBARAN Covid-19 yang berdampak pada kebijakan pemerintah melakukan lockdown atau menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memaksa sejumlah event olahraga harus dihentikan. Begitu juga dengan persiapan atlet NTB menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua tahun 2021 sempat dihentikan dengan tujuan  untuk meredam meluasnya pandemi Covid-19 di NTB.

Dan  kabar yang mengejutkan lagi adalah KONI NTB akan menghentikan Pelatda PON akhir tahun ini  lantaran nominal penganggaran olahraga NTB di tahun depan  belum jelas. Padahal KONI NTB tengah mempersiapkan atlet menghadapi ajang multi event olahraga nasional tahun 2021.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan di awal tahun 2020 lalu. Di awal tahun 2020  tepatnya  di bulan Januari segala agenda olahraga di NTB berjalan lancar, hal itu bisa dilihat dengan dimulainya Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) PON NTB oleh KONI NTB  secara tepat waktu pada  bulan Januari 2020. Pelatda ini melibatkan 104 atlet dan 37 pelatih dari 17 cabang olahraga yang lolos PON.

Tak hanya pelaksanaan Pelatda PON, kalender event di awal tahun 2020 sempat  berjalan mulus tanpa ada kendala. Hal itu bisa dilihat dari beberapa turnamen atau lomba  yang diikuti oleh sejumlah  atlet cabor dengan baik. Prestasi menggembirakan di awal tahun 2020 dimulai dari hasil tes event PON Cabor  Atletik yang berlangsung di Papua  bulan Februari 2020. Waktu itu, kontingen Atletik NTB sukses meraih dua emas lewat tim estafet 4×400 meter putra  dan meraih medali emas dari atlet Full Marathon NTB, Imam Mahdin.

Selain sukses meraih dua medali emas di event tersebut, Cabor Atletik juga sukses meloloskan dua nomor di ajang  prakualifikasi PON tersebut, sehingga total atlet atletik  yang lolos PON 2021 menjadi 15 atlet.

Keberhasilan atlet NTB meraih prestasi di event nasional tak berlangsung lama. Hal itu dikarenakan sejumlah event dihentikan ketika pandemi Covid-19 telah menyebar  di wilayah NTB sekitar awal  bulan Maret  lalu. Pada bulan itu pemerintah mengeluarkan kebijakan  karantina wilayah yang  mengharuskan KONI NTB menghentikan Pelatda PON sementara (mulai 1 April-31 September)  dan meminta  semua para atlet PON untuk melaksanakan latihan mandiri selama enam bulan di rumah masing-masing atlet.

Selain Pelatda PON dihentikan, sejumlah pengurus cabang olahraga juga menghentikan sejumlah  event selama pandemi Covid-19 tahun 2020. Terutama cabang olahraga balap motor yang semula akan melaksanakan beberapa  event kejurnas di tahun 2020 terpaksa dihentikan, karena memang pemerintah telah mengeluarkan kebijakan karantina wilayah dalam rangka menghindari kerumunan massa di tengah Covid-19.

Dampak Pandemi Covid-19 tak hanya menghentikan single event, namun juga menunda  multi  event PON Papua yang sedianya diadakan tahun 2020  ditunda ke tahun depan. Bahkan event-event regional NTB tahun ini sama sekali tak bisa digelar.

Rusaknya jadwal event itu memaksa pengurus olahraga beralih ke arena virtual seperti yang  terjadi pada aspek banyak kehidupan lainnya.  Meski sejumlah event digelar secara virtual, hal itu tak mematahkan semangat atlet untuk berkompetisi. Dalam hal ini atlet NTB tetap mampu menorehkan prestasi, meski berkompetisi secara virtual.

Adapun beberapa cabang olahraga yang sukses meraih prestasi lewat event virtual di antaranya atlet  cabang olahraga menembak, karate, taekwondo, kempo dan beberapa atlet cabor lainnya. Beberapa cabor ini sukses meraih medali emas, perak dan perunggu di beberapa event virtual tahun ini. Mereka  juga sukses meloloskan atlet mewakili Indonesia di Kejuaraan Asia yang berlangsung secara virtual. Adalah atlet menembak NTB, Bagus Saleh dan Liza Rizna Widjajanti  yang tampil membela tim Indonesia di Senayan Jakarta pada  Kejuaraan Asia yang berlangsung secara virtual bulan Oktober tahun 2020.

Terlepas dari kesuksesan atlet NTB di event virtual, belum lama ini atlet-atlet NTB juga mendapat panggilan mengikuti pelatnas di Jakarta persiapan Olimpiade 2021. Diantara atlet yang masuk Pelatnas tahun ini adalah atlet atletik Lalu Muhammad Zohri dan  Sapwaturahman, kemudian Ahmad Zigi Zaresta Yuda (karate), I Gusti Bagus Saputra (balap sepeda BMX) dan lima atlet voli pasir NTB, Danangsyah, Putu Dini Jasita, Dhita Juliana, Desi Ratnasari dan Alyssa Mutakhara.

Selanjutnya di awal bulan  Oktober 2020 KONI NTB kembali melanjutkan Pelatda PON NTB. Pelatda PON di tahun ini berbeda dengan sebelumnya, dimana sebanyak 104 atlet dan 37 pelatih harus mengikuti Pelatda PON dengan tetap mengedepankan protokol keamanan Covid-19. Hal ini  dilakukan untuk mencegah munculnya Covid-19 di tengah atlet.

Meski pelatda PON berjalan aman, di tengah berakhirnya Pelatda PON tahun 2020, muncul persoalan baru. KONI NTB mengancam akan menghentikan Pelatda PON NTB lantaran dukungan anggaran olahraga dari Pemprov NTB belum ada kejelasan.

Ketua Umum KONI NTB, H. Andy Hadianto kepada Suara NTB belum lama ini mengatakan bahwa pihaknya tak dapat melanjutkan Pelatda PON awal tahun 2021 lantaran dukungan anggaran olahraga belum jelas. Padahal KONI NTB sudah mengajukan proposal dengan nilai Rp35 miliar untuk persiapan PON dan bonus atlet PON NTB di tahun 2021.

“Di tengah berakhirnya kegiatan Pelatda PON NTB tahun 2020 Pemprov NTB belum dapat memastikan berapa anggaran penyelenggaraan olahraga tahun 2021. Sementara bulan  Januari atlet harus latihan. Kita tidak berani menyusun kegiatan kalau belum ada kepastian anggaran,” ucapnya.

Menurut Andy dukungan  anggaran olahraga di tahun ini sudah sangat minim, hal ini dikarenakan NTB dihadapkan dengan persoalan pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih terjadi, sehingga mengakibatkan sejumlah anggaran olahraga harus dipangkas. Akibatnya sejumlah program try out atlet PON dan anggaran pembinaan cabor pun harus dihapus oleh KONI NTB, karena ketersediaan anggaran yang minim. Namun menatap PON Papua tahun 2021, KONI NTB berharap pemerintah daerah  dapat memastikan nominal anggaran penyelenggaraan olahraga tahun depan supaya KONI NTB dapat mempersiapkan atlet PON secara  maksimal guna meraih target 17 medali emas NTB  di PON Papua  tahun 2021.

Di tempat terpisah,  Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTB, H. Surya Bahari pun mengakui anggaran untuk penyelenggaraan olahraga  di tahun 2021 belum pasti. Pasalnya belum ada hitam di atas putih. Namun demikian Surya menjelaskan pihak Dispora NTB sudah melakukan telah serta memverifikasi  proposal yang diajukan oleh KONI NTB kepada pemerintah daerah untuk tahun 2021. Besar nilai proposal yang diajukan oleh KONI NTB  untuk penganggaran olahraga tahun 2021 diakuinya sebesar Rp 35 miliar lebih.

“Kami juga sudah  membuat telaahan dalam hal ini yang membuat proposal tetap KONI  NTB dan mengetahui kami (Dispora NTB-red). Dan proposal KONI NTB itu  sudah kita  ajukan kepada Kepala TAPD dalam hal ini Sekda NTB. Apa hasilnya nanti  kita belum tahu, finalnya nanti setelah ada hitam di atas putih,” terang Surya.(fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here