Catatan Akhir Tahun, Terus Berinovasi Cegah Ekonomi Terpuruk di Tengah Pandemi Covid-19

Ni Ketut Wolini, Farid Faletehan. (Suarantb/dok)

Perekonimian NTB sepanjang tahun 2020 sungguh berat. Pertumbuhannya negatif. Aktivitas ekonomi ini terganggu oleh pandemi Covid-19. Padahal sebenarnya ekonomi NTB belum benar-benar pulih akibat gempa tahun 2018. Tak diduga ekonomi kembali diguncang pandemi Covid-19.

Virus Corona pertama kali terdeteksi di Wuhan, China akhir tahun 2019. Menyebar ke berbagai belahan dunia dan terdeteksi di Indonesia pada 2 Maret 2020.

Sejak Corona mewabah di NTB, seluruh kegiatan ekonomi bergerak lambat. Bahkan nyaris mati suri. Terutama usaha-usaha ikutan di sektor pariwisata. Hotel-hotel tutup, meskipun banyak upaya yang dilakukan untuk meyakinkan wisatawan. Okupansi hotel parah, antara 5 sampai 10 persen. Akibatnya,  karyawan dirumahkan dan bahkan ada yang di PHK. Pusat-pusat perbelanjaan nyaris tutup. Yang bertahan hanya usaha sembako, karena menyangkut kebutuhan utama.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi NTB yang juga Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi NTB, Ni Ketut Wolini sering menyebut, tahun ini ekonomi sangat berat. Karena itulah Apindo tetap meminta Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2021 tidak dinaikkan dari tahun tahun sebelumnya. Tujuannya, agar usaha-usaha yang ada, paling tidak bisa bertahan. Apindo juga ngotot meminta agar pajak-pajak pengusaha dihapus sementara.

Pandemi corona juga berdampak pada angka pengangguran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB menunjukkan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2020 naik sebesar 0,94 persen poin menjadi 4,22 persen dibandingkan dengan Agustus 2019. Terdapat 455,56 ribu orang (11,93 persen) penduduk usia kerja yang terkena dampak Covid-19. Terdiri dari pengangguran karena Covid-19 (28,39 ribu orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 (12,66 ribu orang), sementara tidak bekerja karena Covid-19 (35,66 ribu orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 sebanyak 378,85 ribu orang.

Pengamat ekonomi dari Universitas Mataram, Dr. Iwan Harsono menyatakan, ekonomi Provinsi NTB tahun 2020 ini diproyeksikan masih bertumbuh.  Meskipun angka pertumbuhannya minim.

‘’Perkiraan saya 0,003 persen. Mendekati angka nol, tapi tidak sampai nol. Tapi ini pertumbuhannya positif dan dengan memasukkan kategori pertambangan,’’  sebutnya.

Tanpa memasukkan kategori tambang, pertumbuhan ekonomi NTB selama setahun diperkirakan minus di kisaran -2 sampai -3 persen. Pada triwulan II tahun 2020 (April-Mei-Juni) disaat tingginya kasus positif corona di dunia,  pertumbuhan ekonomi NTB  – 7,79 tanpa tambang. Dengan memasukkan kategori tambang, pertumbuhan ekonomi NTB menjadi -1,41 persen. Lalu pada triwulan ke III (Juli-Agustus-September), pertumbuhan ekonomi NTB – 6,65 tanpa tambang.

“Pada triwulan IV 2020 ini (Oktober-November-Desember), pertumbuhan ekonomi kita membaik, tapi masih minus. Perkiraan saya masih -3 atau -4 persen,” kata Iwan Harsono kepada Suara NTB.

Ada tanda-tanda perbaikan ekonomi di ujung tahun ini, dilihat dari tingkat inflasi yang mulai naik. Artinya daya beli masyarakat mengalami perbaikan. Tanpa memasukkan kategori tambang, Dr. Iwan Harsono memperkirakan, pertumbuhan ekonomi selama tahun 2020 berada di kisaran -2 persen sampai -3 persen. Pertumbuhan ekonomi adalah alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Untuk mengukur realitas tingkat kesejahteraan 5 jutaan jiwa penduduk NTB.

Ekonomi grass root sepanjang tahun 2020 ini terbantu oleh bantuan-bantuan sosial pemerintah. Terutama dalam bentuk dana tunai. Para pekerja juga terbantu oleh subsidi upah. Lalu yang paling besar pengaruhnya adalah program pemerintah daerah di NTB meluncurkan Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang.

Konsepnya, beragam jenis produk lokal dibeli. Kemudian dibagi lagi ke masyarakat. Uang yang digunakan menjadi berputar di daerah sendiri. Tidak menguap ke daerah lain jika dibelanjakan untuk membeli kebutuhan produk-produk pabrikan dari luar.

Ekonomi NTB di tengah pandemi Corona tahun 2020 ini unik. Dilihat dari  penyaluran kredit oleh lembaga keuangan diluar ekspektasi. Pertumbuhannya  mencapai 10 kali lipat dibandingkan pertumbuhan kredit nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan tak menduga pertumbuhan kredit di NTB sedemikian progresifnya di tengah wabah corona.

“Mei-Juni 2020 kami perkirakan dampaknya akan sangat signifikan Covid ini. Ternyata, penyaluran kredit juga cukup signifikan pergerakannya. Artinya permintaan kredit dari masyarakat bisa jadi karena usahanya masih menggeliat,” kata Kepala OJK Provinsi NTB, Farid Faletehan.

Kredit disalurkan oleh 34 Bank Umum dan Bank Umum Syariah. dan 32 Bank Perkreditan Rakyat (BPS) dan BPR Syariah.Pertumbuhan kredit perbankan di NTB sebesar 20,74% (yoy).  Dengan total penyaluran Rp50,16 T, atau jauh melampaui pertumbuhan kredit nasional yang meningkat sebesar 1,58%. Provinsi Bali hanya tumbuh 2,49 persen dan Provinsi NTT tumbuh 7,32 persen.

Total aset perbankan di NTB posisi 30 Juni 2020 sebesar Rp58,7 T dan meningkat (yoy) sebesar 18,37% diatas pertumbuhan aset perbankan nasional sebesar 5,19%. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh positif sebesar 2,55% (yoy) menjadi Rp32,38 triliun.

Adapun kualitas kredit perbankan tetap terjaga di tengah pandemi, di mana rasio kredit bermasalah atau NPL terkoreksi 0,30% (yoy) menjadi 1,46% atau lebih rendah dibanding NPL nasional sebesar 3,22%. Jika dilihat lebih jauh, 8 dari 10 besar sektor ekonomi berhasil tumbuh positif, bahkan penyaluran kredit pada 5 sektor tumbuh diatas 20% (yoy). Lima sektor yang mengalami pertumbuhan kredit cukup menggembirakan diatas 20 persen adalah Pertanian, Pertambangan, Akomodasi Makan dan Minum, Industri Pengolahan, Komunikasi Pergudangan dan Transportasi.

Dua sektor yang mengalami penurunan adalah Sektor Konstruksi, dan Sosial Hiburan (termasuk didamalnya sektor pariwisata). Dan tiga sektor yang tumbuh di bawah 20 persen namun dianggap baik adalah Kredit Konsumtif, Perdagangan, dan Real Estate serta Jasa Persewaan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Heru Saptaji menjelaskan pertumbuhan ekonomi global yang sebelumnya diproyeksikan masih mengalami kontraksi hingga 2021, saat ini diperkirakan akan tumbuh positif menjadi 5, 2% (yoy). Di tingkat nasional, arah pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan perbaikan dari kontraksi -5,35% (yoy) pada triwulan 11-2020, menjadi -3,49% (yoy) pada triwulan 111-2020.

Sejalan dengan kondisi nasional, perkonomian NTB juga membaik tercermin dari berkurangnya kontraksi pertumbuhan dari -1 ,40% (yoy) di triwulan 11-2020, menjadi -1 , 1 1 % (yoy) pada triwulan 111-2020. Secara triwulanan, perekonomian NTB tumbuh positif 3,01 % (qtq) pada triwulan 111-2020 dibandingkan triwulan sebelumnya. Diperkirakan pada triwulan IV 2020, perekonomian akan tumbuh positif pada kisaran 1% sampai dengan 2% (yoy) sehingga sepanjang 2020 perekonomian diprakirakan akan tumbuh positif di kisaran 0,2% sampai dengan 0,6% (yoy).

Pada tahun 2021, ekonomi diprakirakan tumbuh sebesar 3,8% (yoy) sampai  4,2% (yoy). Indikator terjaganya perekonomian NTB juga bisa dilihat dari inflasi NTB pada bulan Oktober 2020 masih di koridor yang baik yaitu 0,51 % (yoy), lebih rendah dibanding inflasi nasional yang sebesar 1,50% (yoy). Untuk keseluruhan tahun 2020, inflasi diprakirakan akan tumbuh di kisaran 0,4% s.d. 0,8%. Sedangkan pada tahun 2021, inflasi diprakirakan akan berada di kisaran 3±1 %.

Meski di tengah pandemi, Bank Indonesia tidak henti-hentinya berinovasi dengan berbagai program strategis dan bersinergi untuk menyongsong optimisme dan mewujudkan NTB Gemilang. Dalam mewujudkan NTB Gemilang, upaya Bank Indonesia di sepanjang tahun 2020 dapat dikategorikan menjadi 5 area utama.

Kelima area tersebut antara lain: Tim Pengendali Inflasi Daerah, Tim Promosi Ekonomi Daerah, Pengembangan Ekonomi Daerah Melalui Pengembangan UMKM dan Fesyar, Pengembangan Stabilitas Sistem Keuangan dan Sistem Pembayaran serta Digitalisasi di Berbagai Sektor Pembayaran Non Tunai dan Transaksi UMKM, dan PSBI.(bul)