Catatan Akhir Tahun, Gelombang Antusiasme di Tengah Pandemi

Kampanye Pilkada 2020 yang digelar oleh pasangan H. W. Musyafirin dan Fud Syaifuddin yang melawan kolom kosong di Pilkada 2020. KSB mencetak sejarah dengan menjadi daerah pertama di NTB yang menjalani skenario kandidat tunggal melawan kolom kosong.(Suara NTB/ist)

Pilkada serentak 2020 menjadi bersejarah karena digelar di tengah pandemi Covid-19. Karena pandemi, tingkat partisipasi di Pilkada 2020 diperkirakan akan menurun. Kenyataannya justru berkebalikan. Masyarakat memperlihatkan gelombang antusiasme politik yang menggembirakan. Bahkan, Kabupaten Dompu mencatat tingkat partisipasi tertinggi di NTB, dalam sejarah Pilkada langsung.

Catatan mengenai Pilkada itu menjadi salah satu fenomena yang mengemuka jika menengok catatan politik tahun 2020 ini.

Setelah melalui masa yang melelahkan sejak awal tahun, di penghujung 2020 ini, tahapan Pilkada paling krusial, yaitu pemungutan dan penghitungan suara di tujuh daerah Kabupaten/Kota telah tuntas. Hasil rekapitulasi KPU kabupaten/kota yang menggelar Pilkada pun telah memperlihatkan para pemenangnya.

Di Kota Mataram, pasangan H. Mohan Roliskana, S.Sos, MH. – TGH. Mujiburrahman telah ditetapkan sebagai peraih suara terbanyak Pilkada Kota Mataram. Kemudian di Lombok Utara menampilkan pasangan H. Djohan Sjamsu, SH – Danny Karter Febrianto R, ST. M.Eng sebagai peraih suara terbanyak. Di Pilkada Lombok Tengah, pasangan H. L. Pathul Bahri, S.IP – Dr. H. M. Nursiah, S.Sos, M.Si mendapatkan dukungan terbanyak dari pemilih.

Di Kabupaten Sumbawa Barat, pasangan petahana Dr. Ir. H. W. Musyafirin, MM – Fud Syaifuddin, ST, yang melawan kolom kosong berhasil meraih suara mayoritas. Kabupaten Sumbawa dengan selisih yang tipis, menampilkan pasangan Drs. H. Mahmud Abdullah – Dewi Noviany, S.Pd.,M.Pd sebagai peraih suara terbanyak.

Di Pilkada Dompu, tampil sebagai peraih suara terbanyak yakni pasangan Kader Jaelani – H. Syahrul Parsan, ST, MT, dan pilkada Bima kembali dimenangkan oleh duet pasangan petahana Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE – Dahlan M. Noer.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengapresiasi pelaksanaan Pilkada 2020 di tujuh Kabupaten/Kota telah sukses dijalankan dengan baik dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Digelar di tengah Pandemi, kecemasan pilkada bakal menjadi klaster baru penularan Covid-19 ternyata tidak terjadi.

“Satu hal yang patut disyukuri bahwa di NTB, pilkada 9 Desember telah berjalan dengan baik dan lancar, meski ada sedikit ketegangan di sana sini, secara keseluruhan, kita akhirnya melalui pilkada 2020 di tujuh Kabupaten/Kota dengan cukup tertib dan aman, tidak menimbulkan klaster baru yang mencemaskan,” ucap Zulkieflimansyah saat menyampaikan sambutan di rapat paripurna HUT NTB ke-62 di DPRD.

Sampai tanggal 20 Desember, jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB tercatat sebanyak 5.296 orang, dengan perincian 4.409 orang sudah sembuh, 271 meninggal dunia, serta 616 orang masih positif. Hal ini menunjukkan bahwa tak terjadi lonjakan tajam pasien Covid-19 pasca Pilkada.

Ketua KPU Provinsi NTB, Suhardi Soud dari sejak awal sangat menyadari tantangan pilkada serentak 2020 sangat berbeda dengan kontestasi pemilu sebelum-sebelumnya. Sebab tidak saja soal problem adaptasi terhadap teknis kepemiluan yang mengalami perubahan, namun pertaruhannya terkait kesehatan dan keselamatan jiwa masyarakat.

“Melaksanakan Pilkada di masa Pandemi ini pada dasarnya kita sedang membuat sejarah baru. Kinerja KPU di tujuh Kabupaten/Kota patut diapresiasi karena telah mampu menjawab tantangan dengan baik. Pilkada telah berjalan dengan lancar tertib dan aman dengan menerapkan protokol kesehatan dengan baik,” ucap Suhardi kepada Suara NTB.

Menurut Suhardi, tata kelola menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan pilkada di masa pandemi. KPU menerbitkan Peraturan khusus, dimana seluruh pelaksanaan tahapan pelaksanaan pilkada harus menggunakan standar protokol kesehatan. Sebab disadari tidak ada cara lain dalam mendorong masyarakat supaya tetap berpartisipasi di Pilkada dengan cara meyakinkan masyarakat bahwa mereka tetap aman dari resiko penularan Covid-19.

“Kenapa Pandemi tidak menjadi faktor yang mempengaruhi partisipasi, tidak lepas dari kesiapan protokol kesehatan yang diterapkan penyelenggara pemilu sudah memadai sehingga masyarakat tidak khawatir untuk datang ke TPS. Bahkan penilaian BNPB pusat, 95 persen penyelenggaraan pilkada menerapkan protokol kesehatan,” ujarnya.

Angka partisipasi pemilih di tujuh Kabupaten/Kota menunjukkan peningkatan cukup signifikan. Pilkada Sumbawa partisipasinya mencapai 82,42 persen; Kota Mataram 67,29 persen;  Lombok Utara 88,20 persen, Sumbawa Barat 82,36 persen;  Bima 82,01 persen, Lombok Tengah 71,16 persen dan Dompu 93,53 persen.

“Semua daerah naik partisipasinya, bahkan ada yang segnifikan. Partisipasi di Pilkada Dompu itu tertinggi dalam sejarah pilkada di NTB, kalau di Indonesia itu nomor 5 tertinggi. Disamping sosialisasi KPU yang juga kencang, saya melihatnya juga karena kompetisi antara Paslon yang cukup ketat. Nah ini sekaligus membantah prediksi yang mengatakan akan terjadi penurunan partisipasi di tengah Pandemi. Tapi ternyata pilkada masih lebih menarik dari Pandemi,” paparnya.

Dinamis

Masa pencalonan pilkada serentak 2020 tetap menghadirkan dinamika politik yang cukup dinamis. Dualisme partai Berkarya di tingkat pusat antara kubu Tommy Sueharto vs Muchdi Pr yang meletus pada saat tahapan Pilkada tengah berlangsung memberikan ekses langsung terhadap dukungan berkarya kepada Paslon.

Dukungan partai Berkarya di Pilkada yang sebelumnya telah ditetapkan oleh kepengurusan kubu Tommy Sueharto di tiga daerah dianulir kubu Muchdi Pr dan dipindahkan ke Paslon lain. Dalam masa pendaftaran Paslon, KPU mengakui dukungan partai Berkarya yang dipimpin kubu Muchdi Pr.

Konstelasi politik yang cukup dinamis juga diperlihatkan di perhelatan Pilkada Sumbawa. Dimasa pendaftaran paslon, tarik menarik dukungan parpol berlangsung sengit. Keputusan arah dukungan PDI-P yang diumumkan di ujung waktu kepada pasangan H. M. Husni Djibril-Muhammad Ihsan, kemudian diikuti aksi akrobatik politik, bongkar pasang dukungan parpol tak terelakkan, karena PDI-P tak bisa mengusung sendiri.

Husni-Ihsan berhasil merebut dua partai tambahan untuk mencukupi syarat dukungan, yakni PAN dan PKB. Padahal sebelumnya sudah dari jauh-jauh hari PAN telah bulat memutuskan dukungan ke Paslon Djarot-Mokhlis dan PKB kepada Mahmud Abdullah-Dewi Noviany.

Ketua DPW PAN NTB, H. M. Muazzim Akbar sempat tidak percaya bahkan membantah dukungan DPP PAN dialihkan kepada Husni-Ihsan jelang H-1 pendaftaran paslon ke KPU. Bahkan sampai  saat itu dia tetap menginstruksikan kepada DPC PAN Sumbawa untuk mendaftarkan pasangan Djarot-Mokhlis ke KPU.

Namun belakangan pihaknya memperoleh pemberitahuan secara resmi dari DPP terkait perubahan arah dukungan PAN di Pilkada dialihkan paket Husni-Ikhsan. Muazzim yang dikonfirmasi Suara NTB ketika itu mengakui pihaknya di daerah sama sekali tidak mengetahui proses terbitnya SK dukungan DPP PAN kepada Husni-Ikhsan.

Namun menurutnya, hal itu tidak menjadi persolan karena DPP punya otoritas dan kewenangan mutlak dalam menentukan sikap dukungan di Pilkada. Sehingga terkadang ada hal-hal tertentu membuat DPP mengambil kebijakan, tanpa perlu melibatkan pengurus di daerah.

“Terbit SK dukungan ke paket Husni-Ikhsan, komunikasi langsung antara pak ketum Zulkifli Hasan dengan ketum DPP PDIP ibu Megawati,” jelasnya.

Kolom Kosong

Pilkada KSB 2020 juga menghadirkan catatan tersendiri dalam sejarah politik NTB. Sebab, untuk kali pertama di NTB, ada skenario kandidat tunggal yang tercipta. Meski berhasil meraih 55.459 suara atau setara dengan 74,4 persen suara sah di Pilkada KSB.

Sementara itu, kolom kosong berhasil meraih suara sebanyak 19.131 atau sekitar 26,6 persen. Raihan ini tentu patut menjadi catatan bagi perjalanan kepemimpinan KSB berikutnya. Apalagi, terdapat setidaknya dua TPS di KSB yang menghasilkan kemenangan bagi kolom kosong.

Sementara untuk kiprah parpol, memperlihatkan PAN sebagai menjadi salah satu parpol yang cukup banyak menelan kekalahan. Dari tujuh daerah Kabupaten/Kota, PAN harus menderita kekalahan di enam daerah tempat mereka mengusung pasangan calon.

Ketua DPW PAN NTB, H. Muazzim Akbar yang dikonfirmasi mengakui mengalami mengalami kegagalan total. PAN praktis hanya menang di Pilkada KSB. Kemenangannya di KSB cukup menyelamatkan wajah partai. Tapi, tersebut belum terlalu memuaskan lantaran pasangan Musyafirin-Fud Saifuddin menang dengan melawan kolom kosong.

“Kita minta maaf kepada seluruh kader dan pengurus, target yang kita tetapkan jauh meleset. PAN hanya menang di satu daerah. Kita harus akui, hasil pilkada 2020 cukup mengecewakan bagi PAN. Pilkada Dompu dan Bima jadi prioritas kita karena kita usung kader. Tetapi hasilnya meleset,” imbuhnya.

Begitu juga di Pilkada Lombok Utara dan Pilkada Sumbawa, pihaknya tidak menduga pasangan petahana yang mereka dukung dan usung akan tumbang cukup telak. Padahal di dua daerah itu dari awal PAN cukup optimis lantaran paslon yang diusung adalah petahana yang diyakini akan bisa memenangkan pilkada. “Tapi kembali lagi, perkiraan kami meleset. Pasangan petahana kami usung kalah,” pungkasnya. (ndi/aan)