CAS Direkomendasi Jadi Perekayasa Atasi Fluktuasi Harga

Hj. Putu Selly Andayani (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M. Si mengusulkan pengadaan CAS (Controlled atmosphere storage) untuk merekayasa fluktuasi harga kebutuhan pokok komoditas hortikultura. Pemerintah kabupaten/kota dapat mengusulkannya ke Kementerian Perdagangan atau bermitra dengan swasta.

Seperti diketahui, harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga. dipengaruhi musim. Diantaranya bawang merah, bawang putih, cabai dan tomat. Fluktuasi harga ini menjadi fenomena tahunan. Hj. Selly mengatakan CAS sebagai solusi untuk mengendalikan flugtuasi harga. CAS adalah suatu teknologi pengkondisian atmosfer pada ruang penyimpanan komoditas hortikultura (buah dan sayuran) untuk mempertahankan mutu dan memperpanjang umur simpan bauh dan sayuran segar setelah dipanen.

Iklan

Biji bijian, kacang kacangan dan sebagainya disimpan di dalam CAS, terutama adalah untuk mengendalikan hama serangga.  Sementara untuk buah dan sayur menuntut kondisi yang bisa menghambat proses pematangan dan penuaan, sehingga rasa dan kualitas bisa dipertahankan. Di dalam CAS sayuran dan buah bisa disimpan selama 2 sampai 4 kali lebih lama dari biasanya dengan mempertahankan kualitas dan kesegarannya.

Hj. Selly menyebut Pemprov NTB telah mengusulkan pengadaan CAS ke Kementerian Perdagangan. Tetapi belum terjawab hingga bergantinya menteri. Rencana pengusulan CAS untuk ditempatkan di Sembalun, Lombok Timur dan Pulau Sumbawa. “Di Sembalun sebagai penghasil bawang, sayur dan buah. Di Sumbawa penghasil bawang,” ujarnya.

CAS memiliki daya tampung puluhan ton hingga 100 ton. Komoditas yang disimpan di dalamnya mampu bertahan hingga enam bulan. Dengan masa simpan yang relatif lama ini, kata kepala dinas, fluktuasi harga kebutuhan di pasar dapat diatasi setiap saat. “Saat panen kurang, keluarkan stok yang disimpan di CAS. Saat panen raya, simpan. sehingga tak seperti sekarang. saat panen produksi melimpah dan harga rendah. Saat tidak panen harga menjadi tinggi,” imbuhnya.

Harga CAS mencapai miliaran, bahkan lebih dari Rp10 miliar.  Untuk pengadaan CAS, Pemda dapat menyediakan lahan untuk komplek CAS. Untuk komponennya bisa terus mendorong Kementerian Perdagangan melakukan pengadaan. Jika pemerintah belum memenuhinya, alternatif lain bisa menggandeng perusahaan swasta. “Tinggal Pemda siapkan lahannya. Swasta yang siapkan CASnya,” katanya lagi.

Pengelolan biasanya tidak oleh pemerintah daerah. Melainkan kepada pihak ketiga. Model pengelolaannya persis seperti resi gudang. Dimana petani dapat menunda penjualan dan menitipnya hasil panennya di CAS sembari menunggu harga membaik. Petani kemudian mendapatkan modal 70 persen dari nilai komoditas yang dititipnya. “Petani bisa mendapatkan biaya 70 persen dari nilai barang yang dititipkan. Kalau sudah ada CAS, pemberi ijon juga bisa ditekan pengaruhnya,” demikian Hj. Selly. (bul)

Advertisement ucapan idul fitri ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional