Cara Warga Cegah Corona di Pantai Kerakat

Pantai Kerakat desa Pohgading Timur yang banyak dikunjungi warga untuk sekadar menanam diri sambil berobat. Hangatnya pasir hitam ini dipercaya warga bisa menyembuhkan beberapa penyakit ringan. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Pantai Kerakat Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur (Lotim) selain bisa dinikmati alamnya, juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan berobat atau wisata medis. Bahkan, bagi sebagian masyarakat dengan menimbun tubuh dalam pasir diyakini bisa mencegah dari penyakit Corona.

PANTAI berpasir hitam yang konon mengandung bijih besi ini banyak dikunjungi warga untuk berobat, yakni dengan menanam sebagian tubuh ke dalam pasir.   “Yang paling menarik itu adalah betalet (betanam),” terang Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Kerakat, Asri kepada Suara NTB, Jumat, 29 September 2020.

Iklan

Menurutnya, pengunjung yang berendam dalam pasir adalah yang mengidap penyakit struk ringan, rematik, asam urat, dan jenis penyakit tidak menular lainnya. Bahkan dengan menimbun tubuhnya dengan pasir diyakini bisa untuk cegah virus Corona.

Dikatakan, dengan berjemur pastinya akan membuat tubuh hangat. Pancaran sinar matahari dari pagi inilah yang katanya membuat pasir menyimpan kehangatannya. Hangatnya pasir ini yang diyakini bisa menyembuhkan penyakit.

Kunjungan warga ke pantai seluas 15 hektare ini cukup ramai setiap harinya. Apalagi pada akhir pekan, banyak warga dari Lombok Tengah dan Lombok Barat yang berdatangan. Betalet kata Asri dilakukan mulai pukul 15.00 Wita sampai malam hari. “Jadi kunjungannya sore hingga jam 11 malam,” tuturnya.

Jumlah pengunjung sampai saat ini tidak pernah terdata karena belum pernah ada penarikan retribusi. Melalui tiket masuk nantinya akan terpantau jumlah pengunjung.

.

Keindahan pantai sendiri tidak kalah menarik. Pagi hari, lokasi ini cocok sebagai tempat melihat langsung mata terbit di ufuk timur. Hanya saja satu kekhawatiran pengelola, ancaman abrasi mulai mengintai.

Menurut Asri, abrasi ini terjadi kembali setelah adanya aktivitas penambangan pasir besi di wilayah Dedalpak yang berada di sebelah timur Pantai Kerakat. Ombaknya sudah mulai naik dan banyaknya karang-karang kecil di sepanjang bibir pantai.

Diketahui, ada rencana pemerintah menarik retribusi mulai 1 Oktober 2020 ini disambut positif. Pokdarwis masuk menjadi bagian dari pengelola pantai dengan perolehan 25 persen. “Untuk pengelola 30 persen, 25 persen untuk Pokdarwis dan 5 persen untuk desa rencananya,” tuturnya.

Setelah dimulainya penarikan retribusi, perawatan pantai diharapkan tetap ada dari pemerintah. Dengan demikian, pantai tetap terjaga kebersihannya. Apalagi investasi yang dilakukan pemerintah diketahui sudah sangat besar. “Lebih dari Rp 2 miliar biaya yang sudah dikeluarkan untuk menata pantai ini,” demikian tutur Asri. (rus)