Cantiknya Gitanada, Destinasi Wisata Alternatif di Masa Pandemi

Wisatawan menikmati keindahan gili-gili yang ada di Sekotong. (Suara NTB/bul)

Giri Menang (Suara NTB) – Gili-gili atau gugusan pulau-pulau kecil Sekotong, Kabupaten Lombok Barat menyimpan panorama yang menawan. Terutama pesisir pantai dan pemandangan bawah lautnya.

Sekotong memiliki sekitar seratus gili. Namun keseluruhannya akan nampak, bila air laut sedang surut. Ada belasan gili-gili besar, beberapa di antaranya sudah dibangun fasilitas tempat menginap oleh para pemodal.

Iklan

Beberapa gili ini di antaranya, Gili Gede, Gili Sudak, Gili Asahan, Gili Tangkong, Gili Nanggu, Gili Goleng, Gili Lontar, Gili Poh, Gili Layar, Gili Rengit, Gili Genting, Gili Kedis. Ada juga Gili Sepatang, gili yang menjadi tanda perbatasan wilayah Indonesia dengan Australia.
Di masa pandemi Covid-19 ini, gili-gili di Sekotong sangat cocok untuk menenangkan jiwa dan raga. Seharian menikmati gili-gili cantik ini, kepenatan hilang, apalagi kepanikan karena corona. “Di sini tenang, ndak bising,” kata Lalu Harisandi, salah satu pejabat Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Lombok Timur.

Minggu, 9 Agustus 2020, L. Harisandi sedang menikmati Gitanada (Gila Tangkong, Nanggu dan Sudak). Ia liburan bersama pengusaha besar di NTB, L. Wahidin. Yaitu pengusaha bahan-bahan bangunan, Ifan Purnomo, dan Doni Eka Putra dari salah satu perusahaan farmasi. Rombongan ini bersama Camat Sekotong, L. Pardita Utama. Bersama anak, istri dan keluarga, rombongan ini sengaja memilih menikmati gili-gili di Sekotong. Alasannya, mereka ingin menguatkan imun di saat pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Rombongan seharian di gili Sudak. Camat Sekotong, L. Pardita juga sengaja ke gili – gili ini untuk memastikan protokol Covid-19 juga sudah dilaksanakan. L. Dita mengatakan, tidak boleh masuk gili-gili di Sekotong, jika tak menggunakan masker. Kapal penyebarangan juga diharuskan mengatur jarak setiap pengunjung ke gili.

Gili-gili di Sekotong sangat indah. Berpasir putih. Airnya sangat tenang. Tak heran, jika gili-gili di Sekotong sebelum corona sangat ramai didatangi wisatawan domestik, dan mancanegara. Mereka mencari ketenangan. Aktivitasnya adalah diving dan snorkeling. Atau bermain kano.

Untuk spot berfoto, atau berswafoto dengan latar keindahan pesisir panti, sangat cocok. Gili-gili di Sekotong masih sepi. Hanya beberapa diantaranya yang berpenghuni. Tempat-tempat penginapan juga masih tak banyak. Untuk sunset atau sunrise, suasananya akan beda jika dinikmati dari gili-gili ini. apalagi di malam hari, kita bisa menikmati gemerlap lampu kapal-kapal penyeberangan yang berlalu lalang dari Lembar ke Padang Bai, atau sebaliknya.

Tak salah, bila pemerintah ingin memperioritaskan pembangunan ke wilayah selatan Kabupaten Lombok Barat ini. Sekotong juga telah memiliki branding “Sekotong Mendunia”. Sangat cocok, karena memang alamnya yang indah dan layak ditampilkan sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Saat ini, baru Gili Gede yang progresif pembangunannya. Setelah dibangunnya dermaga internasional kapal Yacht oleh Marina Del Ray. Mengunjungi gili-gili di Sekotong, bisa diakses melalui Dermaga Tawun. Di dermaga ini, pengunjung sudah ditunggu perahu-perahu penyeberangan. Ongkos penyeberangan juga tak mahal. Satu perahu bisa dibooking minimal Rp250.000 untuk keliling – keliling seharian menikmati gili.

Gili-gili di Sekotong sudah mulai dikunjungi. Meski tak seramai sebelum pandemi Covid-19. Tempat-tempat penginapannya juga relatif masih sepi. Kita bisa leluasa memilih kamar. Harganya juga tentu cukup bersahabat untuk ukuran wisatawan lokal.

“Sebelum corona, kita bisa membawa tamu minimal tiga kali seminggu. sekarang, seminggu kalaupun ada satu pengantaran,” kata salah satu pemilih perahu di Dermaga Tawun.
Gili-gili di Sekotong cantik. Tak banyak penghuni, untuk wisatawan yang mencari ketenangan. Sangat cocok. Toyib, salah satu penjaga tempat penginapan di Gili Sudak mengatakan, sebelum Covid, resepsionis kewalahan melayani tamu. Saat ini masih sangat sepi.

Masyarakat di Sekotong menurutnya sudah sangat rindu agar para penguasa lahan mulai membangun. Tanah-tanah yang telah dibeli pemodal puluhan tahun silam sampai saat ini masih tidur. Demikian juga di gili-gili, karena itu , momentum pandemi Covid-19 ini adalah waktu yang pas mendorong mereka membangun rencana investasinya.

“Jangan lahan-lahan ini tidur terus. Supaya masyarakat sekotong bisa mencari pekerjaan. Mendapatkan penghasilan agar ekonomi bagus dan tidak timbul persoalan sosial. Pemerintah harus berikan kemudahan orang membangun,” harapnya.

Harapan yang sama juga disampaikan Camat Sekotong, L. Dita. Pemilik-pemilik lahan ini sudah seringkali diingatkan untuk membangun lahan yang sudah dikuasai agar Sekotong hidup dan menjadi alternatif pariwisata NTB.

“Kami sudah sering mengingatkan pemilik-pemilik lahan dari luar ini untuk membangun. Bahkan kita sudah surati. Ini juga menjadi perhatian pemerintah provinsi,” demikian L. Dita.(bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here