Canangkan ‘’NTB Zero Waste’’, Seluruh ASN Dikerahkan Bersihkan Sungai Jangkuk

Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah dan Wagub NTB, Hj. Rohmi Djalilah pada acara Jumpa Bang Zul dan Ummi Rohmi, Jumat, 14 Desember 2018. (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov  memberanikan diri untuk mencanangkan NTB Zero Waste atau bebas sampah yang dimulai pada puncak HUT NTB ke – 60, Senin, 17 Desember 2018. Upacara seremonial peringatan HUT NTB yang semula dilaksanakan tiap tahun, diganti dengan aksi bersih-bersih Sungai Jangkuk, Kota Mataram.

 

Iklan

Seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dikerahkan membersihkan sungai terbesar yang membelah Ibukota Provinsi NTB tersebut. Mulai dari Jembatan Udayana sampai Ampenan, seluruh OPD lingkup Pemprov NTB akan turun membersihkan sampah yang ada di Sungai Jangkuk.

 

‘’Kita punya rencana 17 Desember ini akan mencanangkan dengan sangat berani NTB Zero Waste. NTB bebas sampah,’’ kata Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc pada acara Jumpa Bang Zul dan Ummi Rohmi di Halaman Kantor Gubernur, Jumat, 14 Desember 2018 pagi.

 

Menurut gubernur, upaya NTB bebas sampah merupakan kerja yang besar. Bahkan untuk Pemprov akan mengirim PNS untuk belajar soal pengelolaan sampah ke Polandia. Menurutnya, upaya menyelesaikan persoalan sampah harus dimulai dari diri sendiri.

 

‘’Kalau kita tak merasa perlu dari diri kita sendiri atau rumah tangga memang cukup berat,’’ katanya.

 

Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M. Pd mengatakan, berbicara masalah sampah harus dimulai dari sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, akan menjadi percuma tempat pengolahan sampah yang dibangun jika masyarakat tak memberikan dukungan.

 

Ia mencontohkan seperti persoalan sampah di Gili Trawangan. Masalah sampah di destinasi wisata unggulan NTB itu sudah ditangani beberapa tahun lalu.  Tapi ada permasalahan di masyarakat.

 

Seharusnya pengelolaan sampah yang sudah berjalan dengan baik itu terus berlanjut. Tapi akhirnya tak berlanjut dan menjadi permasalahan saat ini.

 

‘’Ke depan, memang yang paling utama adalah kesadaran dari masyarakat. Terutama pelaku wisata di sana. Bagaimana betul-betul mencintai lingkungan, kita berkepentingan di situ,’’ ujarnya.

 

Menurutnya, masyarakat harus sadar bahwa persoalan sampah sangat penting. Masyarakat harus memilah sampah. Karena sampah dapat menjadi rupiah. Pemda sekarang membentuk bank-bank sampah di tiap desa.

 

Ia mengatakan, sebaik apapun fasilitas pengolahan sampah yang dibangun akan mangkrak tanpa ada kesadaran masyarakat. Masyarakat harus  sungguh-sungguh memperjuangkan kebersihan lingkungan.

 

‘’Terpenting, bagaimana mengkampanyekan lingkungan. Mulai dari sekolah, kantor, restoran, hotel punya pemilahan sampah sendiri.  Kalau pelaku wisata bersatu, gampang masalah sampah di Gili Trawangan,’’ katanya.

 

Rohmi mengatakan, membuang sampah sembarangan merupakan aib. Ia mengatakan persoalan sampah merupakan isu besar yang tak boleh dianggap sepele. ‘’Tetapi kalau kita memahaminya, akan menjadi berkah. Sekarang bagaimana bisa kita membalik sampah bukan masalah lagi. Tapi sampah jadi berkah,’’ tandasnya. (nas)