Camat Minta Dibuka, Kades Sigerongan Ngotot Tutup Kantor Desa

Suasana pelayanan kantor Desa Sigerongan sampai saat ini masih ditutup sementara waktu. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Kepala Desa Sigerongan Dian Siswadi tetap ngotot menutup sementara pelayanan di kantor desa karena khawatir penularan Covid-19. Kades tak ingin gara-gara membuka pelayanan di kantor Desa, justru perangkat desa dan masyarakat terancam tertular Covid-19. Di sisi lain, pihak kecamatan tetap inginkan membuka pelayanan di kantornya desa.

Dikonfirmasi via telepon, Rabu, 15 Juli 2020, Kades Sigerongan menegaskan, pihaknya mengeluarkan Surat Edaran penutupan kantor desa sejak awal pekan ini. Langkah itu dilakukan dalam rangka mencegah penularan virus Corona, dimana hasil pemeriksaan yang dilakukan di Puskesmas tanggal 9 Juli lalu mengonfirmasi ia dan beberapa warga dinyatakan reaktif. Pihaknya tengah mengunggu hasil swab dari provinsi.

Iklan

“Terkait dengan SE penutupan pelayanan di kantor desa yang kami keluarkan, penutupan kantor desa kami lakukan dalam rangka mencegah penularan virus Corona, karena hasil pemeriksaan rapid test saya dinyatakan reaktif,” terang Dian.

Saat ini pihaknya tengah menuggu hasil swab. Kata dia, ada dua kemungkinan, yaitu hasilnya negatif atau positif. Kalau hasilnya positif maka semua perangkat desa, kewilayahan dan linmas akan menjalani penelusuran kontak dan rapid test karena mereka pernah kontak dengannya.

Tidak saja bagi perangkat desa, kewilayahan namun juga kemungkinan bagi keluarganya. Akan tetapi, kalau hasil Swab negatif maka barulah pelayanan di kantor desa dibuka kembali dengan membuat SE terbaru bahwa pelayanan di kantor desa dibuka secara normal.

“Saat ini kantor desa ditutup untuk sterilisasi, dan perangkat desa dipastikan sehat semua,” imbuh dia.

Selain kebijakan menutup kantor desa, ia pun mengeluarkan kebijakan Para perangkat desa bekerja dari rumah untuk sementara waktu. Karena para staf ini juga rawan menukarkan ke masyarakat kalau hasil swab tersebut nantinya positif.

  Usulkan Kenaikan Gaji Aparatur Rp24 Miliar, Lobar Dinilai Tak Peka Nasib Korban Gempa

Ia mengaku langkah ini dilakukan semata-mata untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Ia khawatir kalau pelayanan dibuka tanpa menunggu hasil Swab malah menjadi masalah bagi perangkat dan masyarakatnya secara luas. Sebab kalau hasil swabnya positif maka tentu perangkat dan masyarakat yang datang kantor untuk mengurus administrasi sangat berpotensi ikut terpapar.

Meskipun pelayanan kantor desa ditutup dan staf berkerja dari rumah, bukan berarti pelayanan kepada masyarakat tidak dilaksanakan. Pelayanan kepada Warga yang mengurus keperluan tetap dilakukan oleh perangkat desa di masing-masing Dusun.

“Warga tetap dilayani dari rumah, warga yang mengurus keperluan bisa datang ke perangkat desa di masing-masing dusun,” jelas dia.

Sementara itu, Camat Lingsar, Jamaludin mengatakan pihaknya tetap ingin agar membuka pelayanan kantor Desa. Bahkan sejak awal pihaknya berkoordinasi dengan desa supaya jangan menutup kantor desa.

“Malah sejak awal kami meminta agar pelayanan kantor Desa tidak ditutup, dan kami sudah laporkan ke pak Sekda,” jelas dia.

Awalnya, pihak desa mengatakan akan menempatkan para petugas linmas untuk membuka kantor desa bagi masyarakat yang inginkan mengurus keperluan. Kalau butuh tandatangan kades, maka pihak petugas linmas bisa ke rumah kades untuk meminta tandatangan.

Sekda Lobar, Dr. H. Baehaqi justru menilai langkah yang dilakukan Pemdes merupakan bentuk kehati-hatian untuk mencegah penularan. “Mungkin itu bentuk kekhawatiran desa terjadi penularan Covid-19,” imbuh dia.

Yang jelas, ujarnya, pelayanan terhadap warga tetap dilakukan sesuai dengan protokol Covid-19. Dimana pelayanan tidak harus di kantor desa, namun di tempat lain atau di rumah perangkat desa. (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here