Camat Data PKL Ampenan

Muzakkir Walad (Suara NTB/cem)

PEMKOT Mataram mulai melakukan pendataan terhadap pedagang di pantai Ampenan. Pendataan itu tindaklanjut dari aksi pengibaran bendera putih akhir pekan kemarin. Pedagang terdampak akan mendapatkan bantuan.

Camat Ampenan Muzakkir Walad menjelaskan, pasca kunjungan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkifliemansyah langsung ditindaklanjuti dengan melakukan pendataan terhadap pedagang di Eks Pelabuhan Ampenan. Sejumlah 78 pedagang yang diantaranya 57 orang berdomisili di Kampung Melayu, Kelurahan Ampenan Tengah. Pedagang ini didata, siapa saja yang sudah mendapatkan program bantuan dari pemerintah pusat. Seperti bantuan sosial tunai, program keluarga harapan dan lainnya. Hasilnya teridentifikasi 27 warga belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. “Ini yang kita list kemudian akan berikan bantuan,” kata Muzakir dikonfirmasi, Selasa, 3 Agustus 2021.

Iklan

Dari kunjungan Gubernur tersebut, pedagang diberikan bantuan uang tunai dan bantuan kredit lunak dari bank. Pinjaman diberikan sebesar Rp3 juta. Skenarionya adalah dana Rp1 juta diberikan cuma-cuma, sedangkan sisanya Rp2 juta dibayar secara kredit.

Dalam proses pemberian pinjaman ke pedagang diminta peran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Keterlibatan OJK dinilai penting untuk menghindari pedagang terjerat rentenir. “Kalau berhubungan dengan bank tidak masalah. Makanya kita minta advokasi dari OJK sebagai lembaga yang berwenang, ” ucapnya.

Jenis bantuan diberikan terhadap 27 pedagang berupa beras. Pedagang terdampak akibat pandemi Covid-19. Hal ini kata Muzakir disampaikan ke Sukini, Kepala Lingkungan Melayu, juga sebagai koordinator. Pelibatan kepala lingkungan dengan harapan tidak ada tumpang tindih data atau penerima bantuan.

Ditanya alasan pedagang mengibarkan bendera putih? Mantan Kepala Bagian Administrasi Pembangunan dan Kerjasama Setda Kota Mataram itu menegaskan, sebenarnya pedagang harus bersyukur selama penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat maupun PPKM level 4 tidak pernah terkena patroli petugas. Pihaknya hanya menempelkan imbauan batas waktu operasional serta melayani dengan sistem pengunjung dengan take away.

Artinya, pemerintah memberikan relaksasi berupa kelonggaran buka dari pagi sampai jam 21.00 Wita. “Urusan ada pengunjung itu kan normatif,” ujarnya.

Karena itu, pengibaran bendera putih sebagai simbol ketidakmampuan menghadapi pandemi Covid-19 tidak memiliki alasan mendasar  pedagang. Sementara di satu sisi, pedagang lainnya di Kota Mataram juga merasakan hal serupa. (cem)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional