Calo TKI Masih Berkeliaran di Mataram

Hariadi. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah kota Mataram mengatensi masih rawan adanya calo yang berkeliaran. Mereka menawarkan pemberangkatkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke negara Timur Tengah, seperti  Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara lainnya. Kasus yang  terjadi di berbagai daerah kabupaten/ kota, tak menutup kemungkinan bisa terjadi di Mataram.

Kapala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Mataram, Hariadi mengatakan, keberadaan para calo TKI masih ada. Mereka menjanjikan gaji lebih besar dan ibadah haji saat menjadi TKI di negara Arab Saudi. Bekerja di luar negeri kata dia, masih diminati oleh sebagian warga Mataram. Data yang dihimpun Disnaker menunjukkan, setidaknya dikeluarkan izin paspor sebanyak 2-4 orang per hari untuk keberangkatan tujuan negara Arab Saudi sebagai TKI.

Iklan

Dijelaskan Hariadi, untuk menangkal adanya calo TKI ini, dibutuhkan kerjasama dengan para tokoh masyarakat di masing-masing kelurahan. Keberadaan tokoh tadi, diharapkan bisa memberikan arahan kepada warga agar bisa menangkal iming-iming yang biasa ditawarkan calo TKI. Karena, biasanya masyarakat mudah percaya dengan iming-iming yang ditawarkan calo.

“Warga yang ingin bekerja ke luar negeri jangan mudah percaya dengan penawaran yang diberikan calo,” katanya, Sabtu, 22 Februari 2020. Para calo cukup piawai menebarkan janji, seperti iming-iming gaji besar, bonus besar saat bekerja. Bukan hanya itu, warga yang ingin bekerja di luar negeri juga kerap diiming-imingi dengan bonus ibadah umroh saat bekerja di Arab Saudi.

Pemkot Mataram mengimbau masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri untuk mendaftarkan diri ke PJTKI resmi. “Kalau resmi mereka akan terjamin kesehatan dan keamanan mereka. Baik selama di dalam penampungan dan di luar negeri,” katanya.

Selain itu, biasanya calo juga akan mengubah identitas warga yang ingin bekerja di luar negeri. Dicontohkan Hariadi, misalnya TKI itu berasal dari Lombok Tengah akan dibuatkan alamat di Lombok Barat. Hal itu untuk memudahkan proses administrasi pra-keberangkatan calon TKI ke luar negeri. “Pas diantar ke Lombok Tengah, tahu-tahunya alamatnya di Lombok Barat. Calo mainnya seperti itu. Alamatnya tidak jelas,” jelasnya.

“Jadi ini bisa merepotkan kita. Sehingga jadi bermasalah ketika ada kejadian saat berada di luar negeri,” imbuhnya. Bukan hanya itu, biasanya juga calo ini juga datang dari pintu ke pintu menemui keluarga calon TKI untuk meyakinkan jika pihak keluarganya akan mendapat gaji lebih besar. “Intinya dia datang dari rumah ke rumah, setelah itu warga ditawarkan yang bagus-bagus,” bebernya.

Hariadi mengakui selama ini Pemkot Mataram masih minim memberikan sosialisasi kepada warga Mataram terkait keberadaan calo TKI tersebut. “Untuk tahun ini kita akan coba lebih menukik sosialisasinya. Tapi, mungkin belum sampai pintu ke pintu,” jelasnya.

Sosialisasi yang dilakukan Disnaker kota Mataram, diupayakan dua kali dalam setahun ke tengah masyarakat. Karena pada tahun sebelumnya dilakukan sosialisasi sebanyak dua kali d itingkat kelurahan dan kecamatan terkait keberadaan calo TKI di Mataram. “Karena kita lihat tren jumlah keberangkatan TKI asal Mataram untuk tahun 2019 kemarin pada posisi menurun dari tahun sebelumnya. Untuk tahun 2018 sekitar 555 orang. Sedangkan untuk tahun 2019 ada sekitar 450 orang,” kata Hariadi.

Hariadi mengklaim penurunan itu karena keberadaan lapangan pekerjaan cukup banyak di Mataram. Hal itu bisa menurunkan tren bekerja di luar negeri. Ia pun memprediksi jumlah TKI untuk tahun 2020 dengan tujuan negara Timur Tengah, berjumlah sekitar450 orang. “Insha Allah tidak lebih dari itu untuk tahun ini,” katanya kepada Suara NTB. (viq)