Cadangan Beras di NTB Aman hingga Tiga Tahun

0

Mataram (Suara NTB) – Cadangan beras di NTB terbilang cukup kuat, bahkan mampu memenuhi kebutuhan hingga tiga tahun kedepan. Pimpinan Wilayah (Pimwil) Perum Bulog NTB, Abdul Muis menyampaikan, sepanjang tahun 2021 lalu, Perum Bulog NTB sudah berhasil menyerap sebanyak 148.000 ton gabah, atau setara dengan beras 120.000 ton.

‘’Jika dirupiahkan, Bulog NTB sudah menggelontorkan Rp850 miliar,’’ katanya, Selasa, 11 Januari 2022.

IKLAN

Muis menambahkan,  dari total serapan beras tahun 2021, NTB juga telah melakukan moving beras ke berbagai daerah di Indonesia. Diantaranya, Sumatera Utara sebanyak 4.000 ton, ke Provinsi NTT sebanyak 20.000 ton, dan ke Provinsi Bali sebanyak 8.000 ton.

“Moving dilakukan untuk memenuhi kebutuhan daerah-daerah yang masih kurang,” jelas Muis.

Dengan kuatnya cadangan beras ini, masyarakat di NTB diharapkan tak khawatir soal cadangan pangannya. Bahkan dengan adanya event besar seperti MotoGP, masih sangat kuat dipenuhi kebutuhannya. Demikian juga kebutuhan saat puasa, hingga lebaran.

Kendati demikian, disatu sisi, Perum Bulog juga menuai persoalan. Tingginya serapan dan cadangan beras ini terkendala pada penyalurannya. Selama 21 tahun Perum Bulog sudah membantu pemerintah mendistribusikan bantuan bagi masyarakat miskin berupa beras. Namun belakangan, pemerintah merubah skema memberikan bantuan dengan bantuan tunai.

‘’Di satu sisi, pemerintah meminta kita melakukan serapan. Di sisi lain, salurannya ditutup. bantuan raskin tidak lagi lewat Bulog,’’ imbuhnya.

Penyerapan beras dan gabah dilakukan dengan menggunakan dana dari perbankan. Setiap hari, Bulog NTB harus membayar bunga bank sebesar Rp200 juta. Mestinya pemerintah membuka salurannya sehingga beras dan gabah yang sudah diserap tidak mengendap di gudang.

“Salurannya kecil sekali, hanya KPSH dan penjualan. Sementara kami harus bayar bunga tetap berjalan sebesar Rp200 juta sehari. Bayangkan itu berapa besar kami harus tanggung beban bunga untuk melaksanakan tugas sebagai pemerintah,” imbuhnya.

Karena itu, Muis mengatakan, sangat berharap kepada pemerintah daerah untuk melibatkan Perum Bulog dalam pemberian bantuan-bantuan sosial berupa beras. Dengan begitu, Bulog bisa kembali longgar melakukan serapan gabah dan beras petani. Dan tersedia gudang untuk menyimpan kembali hasil serapannya.

Selain itu, untuk menjaga stabilitas harga, Perum Bulog senantiasa melaksanakan Operasi Pasar (OP) dengan menjual beras-beras dan kebutuhan pangan lainnya. Agar harga pangan tetap stabil.(bul)