BWS dan Pemkab Lobar Tegaskan Proyek Bendungan Meninting Tidak Batal

Giri Menang (Suara NTB) – Pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I dan Pemkab Lombok Barat menegaskan proyek Bendungan Meninting di Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, tidak batal. Proses pembebasan lahan untuk proyek ini terus berlanjut, termasuk soal appraisal sudah clear. Anggaran tahap awal untuk proyek ini pun sudah disiapkan oleh pusat.

Demikian disampaikan Humas BWS Nusa Tenggara I, Abdul Hanan kepada Suara NTB, Rabu, 18 April 2018, menanggapi pernyataan Kepala Bappeda NTB, Ir.H.Ridwan Syah, MTP bahwa Bendungan Meninting adalah salah satu dari dua proyek strategis yang dananya ditarik pusat tahun ini. ‘’Proyek Bendungan Meninting tetap jalan,’’ Hanan menegaskan.

Iklan

Soal kelanjutan proyek ini kata Hanan, juga sudah disampaikan ke Pemkab Lombok Barat. Untuk proyek Bendungan Meninting jelasnya sudah ada slot anggarannya dari pusat. Sehingga proses pembebasan lahan tetap jalan. Sebab untuk appraisal sendiri sudah dilakukan Pemkab Lobar.

‘’Proyek Bendungan Meninting tetap jalan. Hal ini  sudah kami sampaikan ke Pemkab Lombok Barat,’’ ujar Hanan.

Sebelumnya, Kepala BWS Nusa Tenggara I, Ir. Asdin Julaidy menyebutkan, dua dari empat bendungan yang diusulkan dibangun di NTB telah mendapat kepastian penganggarannya oleh pemerintah pusat. Keduanya adalah Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat dan Bendungan Beringin Sila di Kabupaten Sumbawa.

Ada 11 bendungan di Indonesia yang telah disetujui pembangunannya di mulai tahun ini. Beringin Sila jadi bendungan dengan nomor urut pertama. Sementara, Bendungan Meninting berada di urutan 12. Tetapi sangat memungkinkan masih bendungan prioritas, jika sebagian dari 11 bendungan tersebut ada diantaranya yang dimundurkan pembangunannya. Tergantung kesiapan masing-masing daerah.

‘’Yang sudah pasti ini (Beringin Sila), rencananya akan di ground breaking di akhir Juli ini,’’ katanya di Mataram.

Beringin Sila termasuk bendungan dengan perencananaan paling cepat di Indonesia. Hal ini karena dukungan pemerintah daerah yang menurut Asdin sangat kuat. Bupati Sumbawa, H.M.Husni Djibril memiliki komitmen sangat kuat memfasilitasi pembanguannya. Misalnya persyaratan Amdal, Larap dan pembebasan lahan, ditangani langsung oleh pemimpin daerahnya. Tender secepatnya dilakukan.

‘’Semuanya siap, kami jawab pembangunannya juga siap,’’ demikian Asdin. Bendungan Beringin Sila ini memiliki daya tampung 46 juta meter kubik air. Menelan lahan hingga 4.400 hektar. Lokasi pembangunanya di Utan, Kabupaten Sumbawa. Asdin menyebut proses pembangunan akan berjalan selama tiga tahun.

Demikian juga untuk Bendungan Meninting di Lombok Barat. Asdin menjelaskan alokasi anggarannya telah disediakan. Tinggal menunggu kesiapan daerahnya. Bendungan Meninting ini membutuhkan lahan seluas 300 hektar. Lokasi pembangunannya di hulu Sungai Meninting.Tinggal menunggu appraisal (penaksiran) harga lahan dari pemerintah daerah. Setelah itu, BWS dapat secepatnya melakukan pembebasan lahan.

Sebelumnya, untuk pembebasan lahan ini, ada sharing anggaran, dari Pemprov NTB, Pemkab Lombok Barat dan BWS Nusa Tenggara I. Jika polanya demikian, kemungkinan besar pembangunan Bendungan Meninting tidak sesuai jadwalnya.

Karena itu, Asdin mengatakan pembebasan lahan sudah sepenuhnya diambil alih oleh BWS. Karena itulah, jika appraisal telah ditetapkan oleh Pemkab Lobar, pembangunannya dapat dilaksanakan menyusul pembangunan Bendungan Beringin Sila.

‘’Yang penting ketemu harga lahannya, sesuai appraisal. Pembebasan lahan, sampai konstruksi bisa dilakukan,’’ katanya.

Lantas bagaimana soal besaran anggaran yang dibutuhkan dua bendungan tersebut? Asdin tak menyebutnya secara detail. Kebutuhan anggaran akan jelas, ketika proses tender telah dilakukan. Yang jelas katanya, pemerintah telah siap membiayai pembangunan infrastruktur irigasi ini.

Sementara itu Kepala BPKAD Joko Wiratno mengatakan, pihak Pemda sudah mempersiapkan pembebasan lahan mulai dari appraisal. Appraisal ini tidak serta-merta dilakukan namun mulai tahap persiapan sosialisasi barulah setelah masyarakat setuju dilakukan perencanaan penilaian terhadap nilai tanah tersebut.

‘’Informasi dari BWS setelah Sekban dan Pak Kabid menemui langsung BWS bahwa proyek Meninting tidak batal, tetap jalan. Karena kami siap menganggarkan untuk itu (appraisal),’’ kata Joko Wiratno. Terkait pernyataan Kepala Bappeda NTB bahwa anggaran proyek ini ditarik pusat, pihaknya sudah meminta Sekban dan Kabid Perencanaan langsung mengklarifikasi pihak BWS.

Penjelasan dari pihak BWS sendiri bahwa proyek tersebut tidak ada masalah dan proyek Bendungan Meninting jalan terus. Kemungkinan yang dimaksud batal kata Joko adalah  proyek LIA, sedangkan Bendungan Meninting tetap ada anggaran untuk pembebasan lahannya. Sementara untuk pembangunan fisiknya nanti dianggarkan tahun 2019.

Lebih lanjut dijelaskannya, sesuai kewenangan pihak Pemda untuk membiayai appraisal. Sedangkan untuk pembebasan lahan dibiayai BWS. Untuk tahap pembebasan lahan proyek ini sendiri tengah berlangsung.

Pihaknya sudah beberapa kali turun sosialisasi ke masyarakat untuk mengumpulkan informasi apa yang diinginkan masyarakat sekitar. Semua permintaan warga diserap oleh Pemda, selanjutnya hal ini menjadi bahan bagi tim appraisal untuk melakukan penilaian ganti ruginya.

Berdasarkan nilai harga yang ditentukan appraisal inilah nantinya menjadi pedoman untuk besaran harga pembayaran lahan warga. ‘’Yang melakukan pembebasan lahan itu, karena diatas 5 hektar itu kewenangan di BPN provinsi,’’ jelasnya. Untuk membiayai appraisal ini, pihak Pemda sudah menyiapkan anggaran di ABPD Perubahan.

Kepala Dinas PUTR Made Artadhana menambahkan, konfirmasi terkini ke pihak BWS bahwa proyek Bendungan Meninting tetap jalan seperti rencana awal.  ‘’Tadi saya telepon Pak Kepala BWS, beliau sampaikan proyek ini tetap jalan sesuai rencana awal,’’ katanya.

Sementara itu Kades Meninting H Iskandar menyatakan, terkait proyek Bendungan Meninting sangat diharapkan oleh masyarakat setempat. Sebab proyek ini memiliki dampak besar bagi masyarakat. Tidak saja menjadi sumber air baku dan irigasi namun bisa dipakai untuk pusat wisata dan olahraga. Lebih jauh kata Iskandar, bendungan ini juga bisa menampung air sehingga bisa mengendalikan banjir yang kerap terjadi di daerah Batulayar.

Terkait sosialisasi dari Pemda perihal keberadaan proyek ini diakuinya belum ada. Sebab sejauh ini pihak desa juga belum pernah diundang untuk sosialisasi. Lantas apa harapannya? Diakuinya yang paling utama untuk dijadikan prioritas yakni pembangunan bendungan ini. ‘’Kalau sudah ada kepastian kami tunggu realisasinya,’’ harap Iskandar.  (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here