Butut Insiden Keributan antara Penambang, Lokasi Tambang Emas Ilegal di Sekotong Ditutup

Pihak kepolisan bersama tokoh masyarakat Sekotong, H. L. Daryadi menutup lokasi tambang ilegal di Bunut Kantor, Dusun Makam Kedaro, Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat.

Giri Menang (Suara NTB) – Buntut perselisihan yang berujung keributan antar penambang, lokasi Tambang Emas Tanpa Izin (PETI) alias ilegal di Bunut Kantor yang terletak di Dusun Makam Kedaro, Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, NTB, akhirnya ditutup, Selasa, 15 Juni 2021. Penutupan lokasi tambang emas ini dilakukan oleh Kepolisian Sektor (Polsek) Sekotong, Polres Lombok Barat, Polda NTB, bersama tokoh masyarakat Sekotong Lombok Barat yang turun langsung ke lokasi.

Kapolsek Sekotong, Iptu I Kadek Sumerta, SH., mengatakan tindakan tegas ini diambil dengan pertimbangan untuk keselamatan masyarakat, terutama di tengah masa pandemi Covid-19 saat ini. “Tindakan ini harus dilakukan, agar situasi Kamtibmas di Sekotong tetap terjaga, terutama menyangkut dengan protocol Kesehatan,” ungkapnya, Rabu, 16 Juni 2021.

Iklan

Menurutnya, tambang rakyat di Sekotong merupakan penambangan emas tanpa izin, yang dapat merusak lingkungan, serta berpotensi menimbulkan berbagai perselisihan. “Agar ini tidak terjadi lagi, diambil tindakan tegas, namun tetap mengedepankan cara humanis, dengan menggandeng dan berkolaborasi dengan tokoh masyarakat, untuk dilakukan penertiban dan penutupan penambangan,” katanya.

Penertiban dan penutupan tambang emas ini dilakukan oleh Jajaran Polsek Sekotong, dipimpin langsung oleh Kapolsek Sekotong, bersama tokoh masyarakat Sekotong, H. L. Daryadi atau yang biasa disapa dengan Mamiq Dar, tokoh masyarakat Desa Buwun Mas, H. Sahwan, tokoh masyarakat Desa Kedaro, H. Mustafa.

“Saat penertiban dan penutupan di lokasi lubang tambang emas, situasi dalam keadaan landai, di mana dengan mengedepankan cara persuasif humanis, bersama tokoh masyarakat Sekotong memberikan imbauan kepada para penambang,” terangnya.

Dijelasakan kepada para penambang bahwa kegiatan penambangan ini tanpa izin, terlebih sangat berpotensi memicu terjadinya gejolak antar para penambang yang berujung perselisihan. “Tentunya ini merugikan masyarakat itu sendiri, sehingga penutupan dilakukan dengan memasang garis polisi, terhadap lokasi penambangan emas tanpa izin, sehingga tidak boleh ada aktivitas penambangan lagi di lokasi ini,” jelasnya.

Selain itu, untuk memastikan tidak ada lagi akticitas di lokasi tambang tersebut, Kapolsek Sekotong bersama para tokoh masyarakat Sekotong mengimbau kepada penambang untuk meninggalkan lokasi dan menghentikan aktivitas penambangan.

Terpisah, Camat Sekotong, Lalu Pandita Utama mengatakan, dirinya menyayangkan kejadian tersebut, sebab saat ini dirinya baru mengetahui insiden tersebut. “Kita tidak tahu sebenarnya, dan informasi tersebut baru kita,” ujar Camat saat ditemui di ruangannya.

Sebelumnya, informasi yang dihimpun media ini bermula pada Minggu malam pukul 19.00 Wita, para penambang emas tersebut tergabung dalam puluhan kelompok. Kelompok tersebut mendapat giliran untuk memasuki lubang tambang emas dengan sistem bergantian. Sebelum mendapat giliran masuk sempat terjadi cekcok antara ketua kelompok penambang. Namun insiden itu tidak bisa dilerai, akhirnya terjadi keributan yang mengakibatkan perkelahian di antara kedua kelompok. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional