Bupati Sumbawa Bantah Tuduhan Penelantaran Anak

M. Husni Djibril. (Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Bupati Sumbawa, H. M. Husni Djibril, B.Sc membantah keras tuduhan telah menelantarkan anak yang dilaporkan wanita berinisial RM ke Polda NTB Selasa, 25 Februari 2020. Tuduhan tersebut ditegaskannya adalah fitnah. Mencuatnya tuduhan ini diduga kuat ada kaitannya dengan masalah politik, menyusul dirinya dikabarkan akan maju lagi pada Pilkada Sumbawa sebagai incumbent.

“Faktanya sekarang ini, saya dilaporkan dengan peristiwa-peristiwa.  Ini merupakan imbas dari penolakan saya (diminta mundur dari pencalonan). Kenapa saya tahu, karena ini juga dilaporkan ke DPP. Dan saya tahu (adanya laporan itu) dari DPP yang mengatakan. Saya sudah ditanya, fitnah saya katakan seperti itu,” tegas Bupati dalam jumpa persnya Rabu, 26 Februari 2020 di ruang kerjanya.

Iklan

Diceritakannya, peristiwa tersebut bermula tahun 1980-an. Saat itu, wanita yang tidak diketahui jelas latar belakangnya tersebut mendatangi dirinya dan mengaku hamil. Kemudian meminta sejumlah uang untuk menggugurkan kandungan. Karena hal ini dinilainya melanggar, sehingga ia meminta perempuan tersebut mengurungkan niatnya.

“Saat itu saya lagi di atas motor, datanglah dia pinjam uang ke saya. Saya tanya untuk apa, dijawab kalau dia sedang hamil, saya tanya hamil dengan siapa. Katanya tidak usah tahu yang penting mau digugurkan. Saya bilang jangan, nanti masuk penjara. Termasuk saya kalau pinjamkan uang akan tetap ikut masuk penjara. Saya bilang pelihara saja hamilmu itu, setelah lahir biar serahkan ke saya, saya yang pelihara,’’ ungkapnya.

Beberapa hari kemudian, kata Husni, tersebar isu bahwa yang bersangkutan hamil dengan dirinya.  Sehingga kasusnya  dilaporkan ke Polres Sumbawa sekitar tahun 1989. Dalam laporannya, perempuan tersebut menerangkan waktu dan tempat kejadian berhubungan. Hanya saja hal itu terbantahkan, karena di waktu yang bersamaan, Husni sedang berada di Pulau Jawa.  Karena tidak terbukti, sehingga kasus tersebut ditutup oleh pihak kepolisian.

“Ketika saya dihadapkan kepada hukum, saya hadir membawa dokumen perjalanan saya bertemu sahabat di Jember. Jadi dokumen itu menjadi saksi atas tuduhan itu. Sampai akhirnya dipanggil yang kedua, akhirnya dia tidak bisa buktikan. Terutama yang lokasi tempat berbuat, karena menurut tanggal yang disebutkan itu bertepatan dengan tanggal saya lagi di hotel, saya datang ke Jember, ada perjalanan saya pakai bus. Itu akhirnya langsung ditutup (kasus itu), berhenti dipanggil,’’ terangnya.

Bupatipun mengakui bahwa peristiwa ini pernah muncul sebelum ia menjadi Bupati Sumbawa. Saat itu anak perempuan bupati juga menantang yang bersangkutan untuk melakukan tes DNA. Namun tuduhan tersebut kembali dilaporkan saat ini. Sehingga bupati mengaku siap menghadapi laporan dan menghormati proses hukum.

‘’Saya akan hadapi ini (laporan di Polda). Mau minta tes DNA akan saya lakukan. Bahkan kalau dia tidak minta, saya yang minta. Jadi saya melakukan perlawanan yang luar biasa. Langkah hukum dalam waktu segera,’’ tegasnya.

Terhadap hal ini, kata Husni, DPP PDI Perjuangan yang mendapatkan informasi meyakini laporan yang dituduhkan terhadapnya tidak masuk akal. Karena kejadian ini sudah lama, dan baru diungkit saat ini, menjelang dirinya akan maju di Pilkada Sumbawa mendatang. Yang jelas, Husni siap memberikan keterangan jika dipanggil pihak Polda. Bupati pun akan menindaklanjutinya ke proses hukum.

‘’Saya anggota DPRD lima periode, urus SKCK tidak ada gangguan dan tidak pernah ada orang yang mengungkit-ungkit ini. Saya maju jadi bupati, tidak ada (persoalan ini). Kok begitu masuk periode kedua, karena ada niat jahat orang, kok seperti ini. Saya tahu ini karena ada laporan dari DPP, karena kami diperiksa. Jadi sudah jelas siapa sumbernya,’’pungkasnya. (ind/arn)