Bupati Minta Pengusaha Hiburan Senggigi Taati Pembatasan Jam Malam

Tarmizi, H. Fauzan Khalid. (Suara NTB/her)

Giri menang (Suara NTB) – Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid meminta para pengusaha hiburan di kawasan Lombok Barat terutama kawasan wisata untuk tetap mematuhi aturan jam malam sesuai dengan Surat Edaran awal yang dikeluarkan Pemda Lobar sejak awal pandemi tahun 2020 lalu.

“Sebenarnya kita kan aturan jam malam itu tidak pernah kita cabut dari awal dan itu tetap berlaku,” tegas Fauzan kepada wartawan Kamis, 28 Januari 2021. Ia pun menyebut pihaknya telah menyampaikan hal itu kepada para pelaku usaha pariwisata dalam agenda silaturahmi rutin yang digelar Minggu malam kemarin. Hal itu pun digelar lengkap dengan jajaran Forkopimda yang memiliki kewenangan dalam melakukan penertiban. “Saya sudah sampaikan itu dan mereka semuanya menerima dan akan taat pada kebijakan,” ujarnya.

Iklan

Kata dia, para tim dari masing-masing kecamatan dengan diback-up oleh kepolisian dan TNI bahkan makin gencar melakukan Sidak setiap malam untuk menertibkan pemberlakukan jam malam tersebut. “Teman-teman kecamatan itu bersama Polsek dan Danramil tetap Sidak setiap malam,” ungkapnya. “Sekali lagi kita ndak pernah mencabut SE awal itu dan itu masih berlaku sampai saat ini. Dan itu berlaku untuk semuanya,” tegas dia.

Sementara itu, Kalangan DPRD Lobar mendukung rencana penerapan kembali jam malam di seluruh kawasan di Lombok Barat. Termasuk di kawasan wisata Senggigi. Pemberlakuan jam malam ini sebagai upaya menekan penularan covid-19 yang kecenderungannya mulai melonjak. “Sebenarnya kerangka kebijakan menekan penularan covid-19 ini kami mendukung langkah Pemberlakuan jam Malam,” jelas Politisi Nasdem, Tarmizi akhir pekan kemarin.

Pemberlakukan jam malam di awal-awal penyebaran Covid-19 tahun lalu oleh aparat kepolisian menurutnya tidak jauh beda dengan yang dilakukan Pemda sehingga tidak ada masalah. Apalagi niat Pemda dan aparat yang tergabung dalam tim satgas untuk kembali mengingatkan masyarakat terbiasa hidup disiplin, menggunakan masker dan lain -lain.

Menurutnya, semua Pihak harus memahami apa yang dilakukan pemerintah adalah sebagai upaya melindungi masyarakat dari ancaman covid-19. Apalagi saat ini kesadaran masyarakat soal penerapan 3M mulai kendor. Hal inilah perlu diingatkan lagi Oleh pemerintah. Dimana sebelumnya SK penerapan pemberlakuan jam malam ini dicabut, namun belakangan memasuki tahun ini kasus kembali naik sehingga direncakan akan diterapkan lagi pemberlakukan jam malam. Dimana operasional usaha sampai jam 10 malam.

Bicara konteks kebijakan ini justru memukul pelaku wisata, menurut dia bukan hanya pelaku usaha wisata yang dirugikan namun semua pihak. Karena itu ia mengajak pelaku usaha wisata bersabar menerima kebijakan ini demi kebaikan bersama. Yang pasti ia berharap pertengahan tahun ini bisa dilakukan vaksinasi terhadap masyarakat. Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan (APH) Senggigi Hermanto,  mengatakan, jika di kawasan Senggigi diberlakukan, ini sangat bertolak belakang dengan program Pemkab Lobar #ayokembalike senggigi. Karena di saat para pengusaha sedang gencarnya promosi, agar wisatawan datang kembali ke senggigi. “Tujuannya agar Senggigi survive, makanya kita gencar promosi, kalau mau diberlakukan jam malam, kita mau diapakan, bagaimana dengan jargon ayo kembali ke senggigi,” ujarnya. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional