Bupati Lobar Wajibkan Pasar Modern Pakai Produk Lokal

Giri Menang (Suara NTB) – Bupati Lombok Barat menegaskan pihaknya akan membuat Peraturan Bupati (Perbup) terkait perlunya pasar swalayan dan pasar modern memakai dan menjual produk lokal daerah yang dihasilkan oleh masyarakat setempat. Hal ini penting dilakukan agar usaha kecil dan menengah di Lobar bisa hidup dan berkembang. Selain itu, mengantisipasi dampak negatif akibat pemanfaatan bahan baku produk lokal.

Dijelaskan, seperti halnya minuman tradisional yang beredar di Lombok sejauh ini berasal dari Lobar, yakni daerah Lingsar dan Gunung Sari. Tuak manis ini dimanfaatkan menjadi minuman tradisional, karena produksi berlebih di daerah itu. Sementara jika pihak pemda melarang keras maka masyarakat tentu akan kehilangan mata pencaharian.

Iklan

Karena itulah jelasnya, pihaknya melalui dinas perdagangan dan koperasi mulai memberdayakan mereka. Saat ini program pemberdayaan ini sudah berjalan di desa Langko. Hasilnya, menurut laporan pihak desa setempat, saat ini hampir 100 persen warga setempat sudah tidak ada yang membuat minuman keras dari bahan baku lokal tersebut. Pihaknya memfasilitasi melalui pelatihan dan bantuan pengemasan serta pemasaran.

“Laporan dari mereka dalam sehari tuak manis yang dibuat jadi gula merah dan gula semut 1 drum setengah,” jelasnya.

Model pengembangan ini nanti akan ditularkan ke desa lain di  kecamatan Lingsar dan Gunung Sari yang menjadi lokasi pembuatan brem. Sebab, hasil produk di desa Langko ini sendiri sudah masuk pasar modern. Bahkan, sebelum masuk pun, pembeli sudah datang membeli produk ini ke masyarakat.

“Kedepan, kalau sudah semua bisa berjalan, kita berencana membuat perbup yang mewajibkan hotel dan restoran memakai produk lokal sehingga usaha ini masyarakat menjadi hidup dan pemanfatannya tidak ke arah yang negatif,” tegas Fauzan.

  Keberadaan Pasar Modern di Mataram Perlu Dikaji

Kadis Koperasi dan UMKM Lobar, Joko Wiratno menegaskan Pemda Lobar melalui Dinas koperasi dan UMKM Lobar mengingatkan pengelola hotel dan toko modern lantaran minim memperhatikan usaha kecil dan menengah (UMKM). Dalam hal ini Bupati telah bersurat ke semua pengelola hotel dan toko modern untuk mempergunakan produk lokal untuk memenuhi kebutuhan baik untuk konsumsi dan dijual.

Akan tetapi sejauh ini, pihak hotel sendiri minim membina pengusaha kecil, begitu pula pengelola toko modern tidak memberdayakan produk lokal hasil UMKM untuk dijual di dalam tokonya. Dijelaskan, pihaknya telah menggelar temu usaha dengan pengelola toko modern di Lobar. Temu usaha ini membahas masalah lapak-lapak PKL dan produk lokal daerah yang minim diakomodir toko modern. Pasalnya, produk lokal yang dihasilkan masyarakat tidak dijajakan di toko modern. Dinas terkait memberi peringatan terhadap toko modern agar memasukkan produk lokal untuk dijual.

Dijelaskan, pihaknya menggelar temu usaha dengan toko modern terkait peranan toko modern untuk mengembangkan UKM di daerah. “Termasuk lapak-lapak PKL. Mereka wajib untuk menjadikan UMKM sebagai mitra kerja, kami minta agar produk lokal juga masuk ke toko modern,” tegas Joko.

Pihaknya meminta pengelola toko modern, menyiapkan tempat minimal di depan parkir toko sebagai tempat jualan. Di lapak ini nanti dijual produk lokal. Alasannya meminta pengelola toko modern menjajakan produk lokal cukup mendasar. Sebab sejauh ini toko modern di Lobar hanya menjajakan produk modern, tidak ada produk lokal. Perlunya menampilkan produk lokal juga komoditas khas Lombok bisa dirasakan pengunjung khususnya wisatawan. Baik dari sisi tampilan, musik, produk makanan yang dijual hingga minuman juga menampilkan khas Lombok. (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here