Bupati Ingin Jadikan Lotim Sebagai Sentra Pengolahan Sarang Burung Walet

Bupati Lotim H. Sukiman Azmi didampingi Kepala Dinas Perindustrian NTB, Nuryanti mengamati proses pembersihan sarang burung wallet.(Suara NTB/bul)

Praya (Suara NTB) – Bupati Lombok Timur, H. Sukiman Azmy berkomitmen ingin menjadikan Kabupaten Patuh Karya sebagai pusat produksi dan pengolahan sarang burung walet. Bahkan orang nomor satu di Lombok Timur ini ingin menjadikan walet sebagai program unggulan. Komitmen ini disampaikan Bupati Sukiman Azmy usai melakukan kunjungan ke rumah produksi sarang burung walet milik Lalu Buntaran, di Tegal Desa Kateng Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Selasa, 12 Oktober 2021.

Kedatangan Bupati Lotim membawa romongan Dinas Perindustrian Lombok Timur dan pelaku usaha sarang burung walet ini setelah Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti, SE, ME memaparkan potensi dan peluang warang burung walet. Bupati Sukiman melihat langsung proses pembersihan sarang burung walet satu-satunya di Indonesia ini.

Iklan

Diskusi Bupati kemarin panjang, dengan Lalu Ading (Lalu Buntaran), bersama Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti. Ia tertarik dengan pengembangan produksi sarang burung walet, melakukan pengolahan, dan nilai ekonomi serta efek sosial yang akan menjadi dampak ikutannya. Burung walet adalah makhluk Tuhan yang populasinya tidak sedikit di alam. Hanya saja masyarakat tidak semuanya memiliki kemampuan mengelola burung berliur mahal ini.

H. Sukiman sangat sumringah, mendengar pemaparan tentang potensi dan peluang mensejahterakan masyarakat dari sarang burung walet ini. “2022, kita mulai. Fikiran saya sudah ke sana kemari untuk memanfaatkan potensi yang kami miliki,” katanya sambil menjabat tangan Lalu Ading dan meminta Kepala Dinas Perindustrian NTB memberikan pendampingan.

Ia mengatakan, perlu dilakukan kerjasama untuk mendayagunakan potensi sarang burung walet di Lombok Timur. H. Sukiman mengatakan, sangat termotivasi melihat produksi dan usaha sarang burung walet yang dikelola Lalu Ading. Bahkan satu-satunya di Indonesia yang melakukan pengolahan, hingga diekspor ke sejumlah negara di dunia.

“Setelah kami ke sini datang belajar. Ada action plan dari Pemda Lombok Timur untuk memperioritaskan program pengolahan sarang burung walet di Lombok Timur,” ujarnya. Embrionya sudah banyak, sarangnya juga sudah banyak, bahkan di seluruh wilayah Kabupaten Lombok Timur yang terdiri dari empat kecamatan pesisir, tujuh kecamatan lembah gunung yang memiliki potensi mengelola burung walet.

Selain itu, menurut bupati, di Kabupaten Lombok Timur cukup banyak gedung-gedung, bahkan gedung yang menjadi aset daerah setempat yang bisa disulap jadi rumah berkembangbiaknya burung walet. “Saya kira produksinya bisa berlimpah. Cuma penanganannya masih tradisional. Kami belajar dulu ke tempat Pak Ading ini untuk menjadi professional,” imbuhnya.

Sudah terbayang, Lombok Timur akan membuat sebuah industri pengolahan sarang burung walet. Namun terbatasnya anggaran karena APBD Perubahan sudah selesai, maka direncanakan tahun depan actionnya. Di APBD induk akan diupayakan untuk membuat pusat pembersihan sarang burung walet yang lebih representatif. Melibatkan perusahaan daerahnya, PD. Selaparang Agro. Akan dilakukan hulu hilir sarang burung walet siap ekspor. Bahan bakunya selain dari LomboK Timur, juga dapat didatangkan dari berbagai pengusaha di NTB.

Harapannya, daerah lain akan mendapatkan manfaat ekonomi. Tenaga kerja juga akan terserap, pengangguran dan kemiskinan dapat ditekan. Keseriusian Bupati Lombok Timur untuk pengembangan sarang burung walet ini dijelaskannya karena antusias dengan nilai ekonominya.

Ia membandingkan dengan menanam padi dalam waktu 3 bulan, hasilnya 6 sampai 8 ton perhektar. Jika dibandingkan dengan mengelola burung walet dalam 3 bulan hasilnya sebanding dengan seratus ton harga padi. Bisa dibayangkan, harga kelas utama sarang burung walet sampai Rp55 juta perkilo.

“1 kilo sarang burung walet, setara dengan harga 6 ton padi. Kita melihat peluang mensejahterakan masyarakat cukup besar. Karena permintaan luar negeri juga cukup besar. Karena itu kita serius untuk itu, kenapa sampai sata juga ke sini belajar,” demikian H. Sukiman. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional