Bupati Dompu Merasa Jadi Korban Penipuan

Dompu (Suara NTB) – Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin berbicara blak – blakan terkait kasus dugaan korupsi pengangkatan CPNS K2 yang ditangani penyidik Polda NTB. Kasus ini mestinya, katanya, ia menjadi korban penipuan oleh oknum pegawai yang menggunakan dokumen palsu dan bukan dituding sebagai koruptor seperti yang didemo beberapa kelompok.

Hal itu disampaikan bupati, Sabtu, 11 Maret 2017. “Sekarang yang sedang diperjuangkan di pusat sana, PTT perawat. Kita berdoa saja, semoga Undang – Undang ASN itu bisa segera direvisi. Supaya, tinggal dibikin ketentuan seperti database dulu atau K1 dulu itu. Jangan sebut K2 lah. Sekian tahun mengabdi, dilakukan verifikasi, validasi dokumen, baru diangkat menjadi CPNS. Kalau K2 kemarin, diverifikasi, divalidasi, dites. Sudah lulus tes, divalidasi ulang lagi. Tapi orang Dompu bilang, H. Bambang yang korupsi. Saya ini harusnya jadi korban,” ungkap H. Bambang.

Iklan

Kenapa dirinya menjadi korban, menurut H Bambang, karena para oknum pegawai tersebut menggunakan dokumen palsu. Karena dirinya tidak mungkin memeriksa satu per satu dokumen para pegawai yang diajukan padanya untuk ditandatangani. Hal ini berawal dari 1.550 orang pegawai honorer kategori 2 (K2) yang dinyatakan lolos administrasi dan mengikuti tes dan dinyatakan lulus 390 orang. Setelah pengumuman, ketahuan 134 tidak memenuhi syarat menurut tim verifikasi. “Waktu kirim dukumennya, yang 134 ini saya tidak mau tandatangan pernyataan tanggungjawab mutlaknya. Karena saya tau, itu tidak memenuhi syarat,” jelasnya.

Tidak tahu bagaimana prosesnya, selama dua tahun kemudian, ada surat BKN meminta dirinya untuk mengirim kembali dokumen terhadap 134 yang sebelumnya dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk dilengkapi dengan surat permohonan NIP dan menandatangani surat pernyataan tanggungjawab mutlak. Kemudian ditandatangani dan dikirimkan kembali ke BKN. “Saya tidak tahu bagaimana prosesnya, selama dua tahun itu, diganti atau diapakan dokumennya, ada surat dari BKN datang minta yang tidak saya tandatangan (SPTJM­) tadi, bukannya saya disuruh bikin ulang suratnya,” ungkapnya.

Apa yang dilakukan, kata H Bambang, murni hanya menjalankan perintah pemerintah atasan yaitu BKN. Karena dirinya tidak memiliki kewenangan terkait pegawai. Ini kemudian terbukti dari putusan PTUN Mataram yang memerintahkan dirinya membatalkan SK tim verifikasi. “Kan benar yang saya ngomong dari awal. Saya tidak punya wewenang tentang urusan itu. Saya hanya melayani administrasi. Suruh validasi, saya validasi. Suruh tandatangan, saya tandatangan. Di mana letak kesalahan saya? Tapi ndak apa – apalah. Ya, harusnya saya ini menjadi korban, bukan koruptor. Tapi orang demo itu, korupsi – korupsi. Dari mana?” tanyanya.

Ia pun mengaku sudah diperiksa BPK dan sempat ngotot – ngototan dengan BPK. Gaji tidak bisa dijadikan sebagai kerugian negara, karena orang bekerja harus digaji. Perkara mereka (CPNS K2) menggunakan SK palsu untuk mendapatkan gaji, itu cerita lain. “Itulah yang saya maksudkan tadi. Harusnya, saya ini jadi korban. Karena ditipu, dibohongin. Kenapa saya cerita ini di sini? Supaya anda mengerti cerita sebenarnya,” terangnya.

Keputusan PTUM Mataram yang memerintahkan Bupati untuk membatalkan SK tim verifikasi memiliki arti, jangankan memutuskan orang bisa mendapatkan NIP atau tidak, memutuskan tim verifikasi saja pihaknya tidak memiliki kewenangan. “Dari dulu saya pidatonya seperti itu. Kenapa saya yang disalahkan? Saya hanya tandatangan surat yang disuruh tandatangan. Jadi begitu,” tegas H. Bambang dari atas podium.

Dikatakan H. Bambang, hal inilah yang menyebabkan kasus dugaan korupsi pengangkatan CPNS K2 Dompu  ini tidak ada tersangka yang ditetapkan. Karena untuk kasus korupsi, harus ada niat memperkaya diri sendiri atau orang lain. Untuk pengangkatan CPNS K2, dirinya tidak mungkin memperkaya dirinya. Karena ndak mungkin menaikkan gaji para CPNS ini dan sebagiannya diambil oleh dirinya. “Saya ngomong ini, supaya anda membantu saya. Ngomog yang sebenarnya pada masyarakat. Jangan pegawai negeri ikut – ikut ngomong (provokasi), padahal dia tahu ceritanya seperti ini seperti itu,” katanya. (ula)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here