Bupati Dompu dan Cara ‘’Gila’’ Menaklukkan Tantangan

Mataram (Suara NTB) – Kabupaten Dompu adalah tempat berseminya mimpi-mimpi pembangunan. Berawal dari jagung, Dompu kini mulai membangun pondasi yang kokoh untuk tata kelola komoditas tebu. Juga komoditas-komoditas lain. Satu demi satu, mimpi masyarakat Dompu mulai terwujud.

Potret tentang semangat masyarakat dan pemimpin Dompu itu disampaikan oleh Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin dalam diskusi terbatas Harian Suara NTB, Sabtu (6/8/2016) mengusung tema ‘’Pertumbuhan Ekonomi dan Strategi Membangun Dompu’’.

Iklan

Bambang hadir dengan sejumlah jajarannya. Kepala Bappeda Dompu, Ir. H. Moh. Rasyidin Suryadi, M.Si, Kepala BPMPD Dompu, H. Supardi, S.Sos, Kepala Dinas Pertanian TPH Dompu, Ir. H. Fakhrurrozi dan Tim Bupati Dompu, H. Asikin.

Hadir pula Wakil Ketua DPRD NTB, Mori Hanafi, SE, M.Comm, Kepala Bappeda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M.Sc, M.Tp, Pengamat Ekonomi NTB, Dr. M. Firmansyah, Kabid Neraca Wilayah BPS NTB, Isa Anshory, Kabag Assesment Ekonomi Bank Indonesia Perwakilan NTB, D. Aditya N, Plh. Kadis Pertanian Provinsi NTB, Ibnu Fikhi dan Kabid Pengelolaan Lahan Dinas Perkebunan NTB, Ramlan Yugiharto.

Mimpi tentang jagung dan tebu ini dimulai saat Bambang belum menjabat Bupati Dompu. Kala itu, ia bekerja di Kalimantan dan Sulawesi sebagai kontraktor yang ikut membangun dan mengelola operasional pabrik pengolah kelapa sawit. Di pabrik-pabrik itu, Bambang sering kagum melihat antrean truk-truk pengangkut komoditas tersebut – khususnya saat musim panen.

“Di situ saya bermimpi, harusnya di kampung saya harus ada antrean mobil seperti ini juga. Meskipun dengan muatan yang berbeda,’’ tuturnya.

Selanjutnya adalah sejarah. Bambang akhirnya menjadi Bupati Dompu dan dalam periode pertama kepemimpinannya, ia mulai mewujudkan mimpi itu. ‘’Dua mimpi saya sudah jadi kenyataan,’’ ujarnya.

Mimpi pertama adalah mengembangkan jagung. Berkat jagung, Dompu kini sudah mulai menjadi sorotan di pentas nasional. Baru-baru ini, ujar Bambang, sejumlah pejabat Kementerian Pertanian dengan beberapa pimpinan perusahaan pakan ternak Indonesia datang ke Dompu. Mereka datang khusus untuk memastikan apakah jagung di Dompu masih ada atau tidak.

‘’Kalau ada, seberapa besar, seberapa banyak. Informasi itu mereka perlukan untuk memutuskan apakah Kementerian Pertanian akan mengeluarkan izin untuk impor jagung pada semester ke dua ini atau tidak,’’ ujar Bambang.

Dompu kini memang menjadi salah satu daerah barometer produksi jagung di tingkat nasional. Saat menerima Penghargaan Satya Lencana Pembangungan dari Presiden di NTT baru-baru ini, Bambang juga menjadi ‘’selebritis dadakan’’ di antara 15 orang kepala daerah yang dianugerahi. Pasalnya, hanya Bambang seorang yang sempat diajak dialog. Dan pertanyaannya bukan pula Hari Keluarga Nasional yang menjadi tema kegiatan saat itu.

“Yang ditanya, ‘’berapa harga jagung di Dompu hari ini?’’ Saya sampaikan tahun ini harganya sempat tembus di atas Rp 3.000 per kilo. ‘Kalau gitu bagus keadaannya ya? Berarti bapak juga sudah tidak didemo dong?’ ujar Bambang mengutip dialognya dengan Presiden Joko Widodo.

Fokus Dompu pada jagung memang membuat perekonomian daerah ini moncer. Beberapa tahun terakhir, ujar Bambang, Kabupaten Dompu mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 6,5 hingga 6,7 persen per tahun. Bahkan, di tahun 2012 Dompu pernah mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,98 persen.

Torehan manis di periode pertama itu tidak membuat Bambang puas. Bambang meyakini, sektor pertanian dan perkebunan masih mampu dipacu untuk semakin mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat Dompu. Untuk itulah, di periode kedua jabatannya ini ia mulai menyiapkan fase baru pengelolaan komoditas jagung.

Selain itu, Bambang kini juga mulai mewujudkan mimpi keduanya, yaitu melihat antrean truk-truk tebu di pabrik pengolahannya.

Cetak biru dari strategi pengolahan komoditas andalan Dompu ini, menurut Bambang sudah dituntaskan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Dompu.

Bambang menegaskan harapannya untuk melihat adanya potret yang lebih detil menyangkut sektor pertanian Dompu dalam skala luas. Misalnya, berapa persentase kontribusi komoditas jagung terhadap PDRB Dompu. Dari situ, bisa dirancang berapa luas tanaman jagung yang harus dibuat di Dompu, berapa luas tanaman padi, dan sebagainya. Juga, berapa produktivitas yang harus dicapai oleh masing-masing komoditas.

  Janji Mori untuk Felo Janga, Surga Tersembunyi di Dompu

‘’Sehingga kita bisa merancang kita harus menanam jagung berapa luas, menanam padi berapa luas, dengan produktivitas berapa ton perhektarnya, dan di harga jual berapa rupiah per kilo,’’ ujarnya.

Menurut Bambang, analisis yang disajikan dalam potret strategi daerah sebenarnya harus mencakup semua detil tersebut. ‘’Tapi karena kapasitas kami di Pemda Kabupaten Dompu tidak cukup untuk sampai di analisa seperti tadi, jadi acuan yang kita pakai masih cukup umum, tidak sedetail yang kita inginkan,’’ ujarnya.

Kendala soal sumberdaya manusia tidak saja ditemukan di internal Pemkab Dompu. Di lapangan, kendala ini juga dijumpai. Bambang mengaku, saat ini ketersediaan tenaga kerja untuk pabrik gula mulai menjadi hambatan. ‘’Kalau beberapa tahun lalu kita kesulitan lapangan kerja, sekarang kami sudah mulai menemukan ketidaktersediaan tenaga kerja memadai untuk menjalankan pabrik ini,’’ ujarnya.

Saat mengunjungi pabrik gula beberapa hari lalu, Bambang menemukan adanya keluhan soal terbatasnya tenaga kerja untuk memanen tebu di ladang. ‘’Jadi sekarang pabriknya bekerja dua hari sekali. Beberapa jam tebunya habis, pabriknya berhenti lagi. Tebunya yang siap dipanen banyak. Cuma tidak ada tenaga pemanen untuk tahap awal ini.’’

Untuk soal ini, Bambang mulai mencari jalan keluar dengan mencoba mengintegrasikan pendidikan keterampilan pengelolaan komoditas jagung maupun tebu di sekolah menengah kejuruan yang ada di Dompu.

‘’Untuk Kabupaten Dompu kita tidak perlu membangun politeknik.  Cukup mencantelkan program keterampilan tertentu yang dibutuhkan pabrik gula. Cukup ke sekolah kejuruan yang sudah berdiri dengan muatan keterampilan yang bersifat khusus, hal-hal yang sudah tersedia di Dompu saat ini,’’ ujarnya.

Kendala lain adalah faktor ketersediaan pupuk untuk jagung. Menurutnya, persoalan ini menjadi satu dari banyak hal yang sampai hari ini belum tertangani dengan baik.

Bambang mencontohkan, untuk mendapatkan kuota pupuk, petani biasanya harus menyiapkan RDKK. Sayangnya, sebagian lahan yang ditanami jagung terdata bukan sebagai areal pertanian menurut regulasi yang berlaku.

‘’Jadi jagung yang kami tanam di kawasan HKm itu tidak mendapatkan kuota pupuk. Tidak ada jatah pupuk karena itu tidak diperhitungkan sebagai wilayah untuk pertanian. Itu antara lain masalah sampai hari ini kuota pupuk tidak sesuai dengan jumlah kebutuhan riil di lapangan,’’ ujarnya.

Di sisi lain, faktor fluktuasi harga jagung juga sempat memusingkan Bambang. Ia menjelaskan, nilai jual jagung sebenarnya sudah cukup tinggi jika dihitung secara akumulatif. ‘’Harganya bisa sampai Rp 1 triliun se tahun,’’ sebutnya.

Hanya saja, tata kelola bisnis jagung ini tidak memungkinkan adanya pengaturan harga yang saklek. ‘’Karena kalau kita berani mematok harga jual berdasarkan keinginan pemerintah daerah, kalau pembeli swasta tidak ingin membeli dengan harga itu. Berarti jagung itu harus dibeli pemerintah. Nah pertanyaanya, kalau sudah dibeli (oleh pemerintah daerah), siapa yang akan membayarnya? Bayar dengan uang apa? Siapa yang akan mengelolanya dan akan membawa barang itu? Sehingga banyak pertanyaan yang harus dijawab,’’ ujar Bambang.

Bambang juga mengungkapkan masih adanya pertanyaan soal pemenuhan luas tanam tebu yang ideal. Saat ini, pabrik yang mengolah komoditas tebu di Dompu mampu mengolah 8.000 ton tebu perhari. Untuk memenuhi kapasitas itu, dibutuhkan sekitar 20.000 hingga 30.000 hektar tebu yang siap memasoknya.

‘’Faktanya saat ini, ada sekitar 7.000 hektar, sisanya bagaimana? Ini juga mungkin hari ini sudah bikin janji dengan Kadis Kehutanan dan Kadis Perkebunan Provinsi NTB,’’ ujar Bambang. Bersama Pemprov NTB, pihaknya ingin agar benar-benar dibangun kesamaan persepsi soal pengelolaan kawasan. Tujuannya, mencari jalan agar kawasan hutan yang hak pengelolaannya masih dikuasai perusahaan tertentu, bisa dimanfaatkan sebagai lahan pengembangan tebu.

Anomali Sektor Pertanian

Terkait potret ekonomi Dompu, Kepala Bappeda Dompu, Ir. H. Moh. Rasyidin Suryadi, M.Si mengemukakan, hingga 2015, Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Dompu sekitar Rp 5 triliun. Pendapatan perkapita Dompu mencapai Rp 20 juta dengan pertumbuhan ekonomi yang berkisar 6 hingga 7 persen sejak 2010.

  Pabrik Gula Dompu Berpotensi Lambungkan Pertumbuhan Ekonomi NTB

Rasyidin menyebutkan, angka kemiskinan Dompu berada di 15,34 persen, di bawah Kota Mataram dan Kota Bima.

Menurut Rasyidin, kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Dompu berada di kisaran 39 persen. Hanya saja, ujarnya, pihaknya menemukan adanya anomali di sektor pertanian ini. Anomali tersebut adalah, masih banyaknya masyarakat di sektor pertanian yang hidup dengan penghasilan kecil.

‘’Mereka yang masih berpenghasilan di bawah 300 ribu, sekitar 40 persen. Kondisi ini disebabkan karena yang hidup di sektor pertanian ini sebenarnya masih banyak sekali status mereka yang buruh tani,’’ ujar Rasyidin. Kondisi serupa dijumpai di sektor peternakan. Di mana, masyarakat di sektor peternakan yang berpenghasilan di bawah Rp 300 ribu jumlahnya masih 30 persen. Padahal, sektor ini memberikan kontribusi terhadap PDRB sekitar 32 persen.

Rasyidin mengemukakan, konsep yang dikembangkan oleh Dompu tetap terpusat pada komoditas Sapi, Jagung dan Rumput Laut alias Pijar yang ditambah dengan komoditas tebu. Mengutip pernyataan Bupati Dompu di awal diskusi, Rasyidin menegaskan bahwa Dompu merupakan satu-satunya daerah di NTB yang berkomitmen menduplikasi program Pijar dari Pemprov NTB ke dalam rencana pembangunan mereka.

Menurut Rasyidin, selain komoditas Pijar, saat ini pihaknya memang tengah berupaya mendorong peningkatan areal tanam untuk komoditas tebu. Pihaknya berharap, pada 2021 mendatang, luas areal tanaman tebu sudah mencapai 13.000.

Untuk berbagai komoditas pertanian yang sudah dan sedang dikembangkan, Pemkab Dompu saat ini mulai menjejak level berikutnya, yaitu menggarap aspek peningkatan nilai tambah. Jika dulu perhatian lebih dititikberatkan pada aspek produksi di ladang dan sawah. Kini fokusnya mulai dibagi ke aspek pengelolaan di luar areal tanam.

Upaya ini dilakukan dengan mengupayakan hidupnya industri kecil menengah alias IKM yang terkoneksi dengan sektor pertanian, perhubungan dan perdagangan. Rasyidin mengaku pihaknya mendapati adanya imbal balik positif dari sektor pertanian dengan sektor perhubungan dan perdagangan.

‘’Rupanya kemajuan di sektor pertanian diikuti perkembangan positif sektor perhubungan dan perdagangan. Tetapi IKM-nya tidak bergerak. Sehingga kita harapkan sekarang IKM  bisa bergerak lebih memberdayakan produk lokal di Dompu. Artinya, mungkin besok tidak lagi warga menjual gabah, tapi beras. Jagung tidak dalam bentuk pipilan tapi jadi jagung giling. Sehingga diharapkan ada penambahan lapangan kerja, sehingga ada penghasilan dari nilai tambah masyarakat Dompu untuk 2021,’’ bebernya.

Kepala Bappeda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M.Sc, M.Tp menilai, apa yang terjadi di Dompu saat ini adalah buah dari komitmen Pemkab Dompu untuk mengawal program Pemprov NTB. ‘’Kalau dipilih kabupaten mana yang paling istiqomah di dalam mengawal program provinsi itu hanya satu kabupaten, Kabupaten Dompu,’’ ujarnya.

Sebagai satu kesatuan yang tidak bersifat hirarkis, Pemprov NTB dan Pemkab Dompu memang hanya dapat dipertautkan dengan kesamaan komitmen kepala daerahnya. Karena itulah, Ridwan Syah mengapresiasi berlanjutnya komitmen Pemkab Dompu ini.

Ridwan Syah menilai, Dompu merupakan kabupaten yang sukses mengembangkan komoditas sapi, jagung dan rumput lautnya. Untuk sapi saja, ujar Ridwan Syah, 21 persen populasi sapi di NTB itu berada di Dompu, dan ini merupakan persentase yang paling besar di NTB.

“Jadi Dompu itu adalah kabupaten yang paling konsisten di dalam memastikan arah pembangunannya sejalan dengan program pusat dan provinsi,” ujarnya.

Di periode berikutnya, lanjut Ridwan Syah, upaya untuk mengembangkan komoditas-komoditas ini akan lebih difokuskan lagi.

Ridwan Syah menilai, sukses Dompu juga terlihat dari kemampuan daerah ini membangun iklim investasi yang kondusif. Bahkan, mengutip ulasan di Majalah Tempo, Dompu pada 2014 lalu telah ditahbiskan sebagai salah satu diantara sembilan kabupaten di Indonesia yang paling menjanjikan untuk berinvestasi.

‘’Ada 500 kabupaten/kota, tapi Dompu ini terpilih di antara sembilan terbaik nasional yang menjanjikan untuk berinvestasi. Itu karena jagung. Artinya, iklim investasi yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Dompu itu memberikan sebuah optimisme bahwa kalau mau berinvestasi ke Dompu saja,” ujarnya.

Ridwan Syah mengaku, sukses lima tahun lalu harus dilanjutkan pada periode kedua kepemimpinan Bambang sebagai Bupati Dompu. Bahkan, Ridwan Syah sempat mengaku bahwa dirinya khawatir jika pada Pilkada 2015 lalu Bambang gagal terpilih kembali.

  H. Muhir Dituntut Delapan Tahun Penjara

Kekhawatiran ini bukannya tidak beralasan. Meski sudah sukses meluaskan produksi komoditas andalannya, namun Dompu dianggap baru berada dalam tahap ‘menanam’.

‘’Ini kan baru menanam Dompu ini. Baru menanam. Baru cerita berhasil menanam sekian ribu hektar, sekian produksi, tetapi nilai tambahnya kan belum terasa. Justru jawabannya di situ. Kalau sekadar menanam, saya kira mungkin semua orang bisa,’’ ujarnya. Untungnya, Bambang terpilih kembali dan kehawatiran itu bisa ditepis.

Ia menambahkan, dengan berjalanya proses evaluasi RPJMD Dompu saat ini, pihaknya ingin agar Dompu tetap konsisten bertumpu pada sektor pertanian. Hanya saja, saat ini tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana memulai proses hilirisasi produk-produk Pijar di Dompu.

‘’Membangun industri-industri olahan di daerah dengan harapannya menyerap tenaga kerja. Ketika tenaga kerja kita terserap, baru berimplikasi pada persoalan kemiskinan. Karena kemiskinan kita ini paling banyak adalah petani di desa,’’ ujarnya.

Setengah berseloroh, Ridwan menegaskan bahwa Dompu, saat ini sebenarnya berada dalam situasi ‘tersesat di jalan yang benar’. ‘’Jadi pilihan jagung itu adalah jawaban yang paling realistis di antara semua pilihan untuk pengentasan kemiskinan di NTB ini,’’ ujarnya mantap.

Hanya saja, Ridwan Syah mengemukakan adanya penilaian berbeda soal mengembangkan komoditas andalan Dompu ini. Ridwan Syah khawatir, upaya memperluas areal tanam bisa memicu timbulnya gangguan terhadap ekosistem hutan.

“Ada kekhawatiran saya dan sering terjadi, kita terlalu bernafsu meluaskan areal tanam lalu merambah hutan, dan lain-lain,’’ ujarnya. Ridwan Syah meyakini, penambahan produksi komoditas andalan bisa tetap dilakukan tanpa harus mengalihfungsikan kawasan hutan sebagai areal tanam.

‘’Lebih baik kita fokus pada intensifikasi, lalu coba membangun industri-industri olahan di daerah. Dan itu sering dilakukan oleh Pak Bupati. Kalau ke Dompu jalan-jalan, bisa dilihat di kiri kanan jalan itu. Banyak pabrik-pabrik yang mulai dibangun untuk pengolahan jagung. Jadi intinya adalah meningkatkan nilai tambah dari produksi jagung ini sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan.’’

Tidak Instan

Sukses yang dicapai Bupati Dompu dalam mengelola komoditas andalan Dompu di periode pertama jabatannya bukanlah kebetulan. Berbagai terobosan yang dibuat di Dompu selama lima tahun kemarin, sesungguhnya sudah dipersiapkan sejak Bambang belum menjadi Bupati Dompu.

“Beliau ini sebelum Pilkada, sudah sangat siap. Pertama dengan berkosultasi, apa yang harus kita lakukan di Dompu,’’ ujar H. Asikin yang merupakan Tim Bupati Dompu.

Asikin melanjutkan, saat itu, dari hasil mempelajari kondisi Dompu, Bambang memperoleh gambaran apa yang harus ia lakukan jika nanti menjabat. Jawabannya, Dompu harus mengembangkan sektor pertanian yang merupakan salah satu potensi yang belum tergali di daerah ini.

Sektor pertanian tentunya adalah sektor yang luas. Sektor ini kemudian dipertajam lagi sehingga diperoleh satu komoditas pertanian yang bisa dipakai untuk pengungkit pembangunan di daerah ini.

Saat akhirnya terpilih di Pilkada, Bambang pun mulai mengeksekusi rencananya ini. Asikin menyebutkan, ada beberapa hal yang dilakukan Pemkab Dompu di periode pertama kepemimpinan Bambang. Pertama adalah menetapkan produk jagung sebagai komoditi unggulan. Berikutnya, menyelesaikan persoalan areal lahan Dompu yang berkarakter kering dan sangat tidak mungkin ditanami jagung.

“Akhirnya beliau menerobos dan menembus batas, beliau mengincar lahan hutan ini. Dan itu juga mendapat tantangan dengan datangnya kritikan dari LSM. Katanya jagung telah membuat banjir di Dompu dan merusak hutan,” kenang Asikin.

Namun, kritikan itu tidak memundurkan langkah Bambang dan jajarannya. Bambang kemudian mendatangi kementerian kehutanan untuk mendapat izin. Tujuannya, agar memperoleh izin mengembangkan jagung di kawasan hutan. “Dan kita diberikan (izin) oleh kementerian kehutanan.”

Sukses memperoleh lahan, Bambang kemudian mulai bergerak menata kelembagaan. Dibentuklah lembaga independen untuk melaksanakan program pengembangan komoditas jagung ini.

“Beliau kemudian mencari mitra yang siap investasi jagung di Dompu. Kita ke gabungan pengusaha pakan ternak, dan berhasil mendatangkan investasi. Itulah pokoknya kenapa H. Bambang ini bisa mendapatkan penghargaan,” pungkas Asikin. (tim)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here