Bupati Desak Provinsi Tangani Kasus Ilegal Logging di Hutan Lindung Mareje

Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid (Suara NTB/her)

Giri Menang (suara NTB) – Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid mengatensi kasus illegal logging di desa Mareje kecamatan Lembar. Fauzan meminta agar pihak Pemprov NTB serius menangani masalah perusakan hutan tersebut. Sebab sesauai aturan, kewenangan terkait pengawasan hutan ada di provinsi. Sedangkan pihak kebupaten tidak punya kewenangan lagi. Pemda kata Bupati siap mem-backup pemprov NTB dalam menangani persoalan illegal loging ini.

Fauzan mengatakan untuk penanganan illegal loging ini butuh koordinasi antara pemkab dengan pemrpov NTB. Karena kewenangan untuk penanganan hutan tidak ada lagi di kabupaten, sehingga illegal logging ini perlu penanganan dari dinas kehutanan provinsi. Menurut dia kalau pemprov berkoordinasi dengan pemkab, pihaknya siap membantu.

Iklan

“Saya baru denger ini dari media, setelah ini kami akan koordinasi dengan Kadishut provinsi. Tapi kalau bicara kewenangan provinsi yang berkoordinasi dengan kita,,”jelas Bupati kemarin. Seharusnya kata dia, pemprov selaku pihak yang punya kewenangan aktif berkoordinasi dengan pemkab. Sehingga atas dasar itu nanti pemkab akan membantu dalam hal penanganan.

Sementara itu, Kasatreskrim AKP Priyo Suhartono dalam jumpa persnya di Mapolres Lobar, Senin,  1 April 2019 mengatakan pihaknya sudah menetapkan dua pelaku illegal loging insial R (26) tahun asal Batu Petak Desa Mareje dan AR alias Selip (37) Dusun Pelan Desa Mareje kecamatan Lembar sebagai tersangka. Keduanya disangkakan pasal 12 junto 87 UU nomor 18 tahun 2013 tentang perambahan dan pengerusakan hutan dengan ancaman minimal 1 tahun dan 5 tahun penjara ditambah denda Rp 5 miliar. Selain mengamankan dua tersangka ini, pihak polres tengah memburu sopir truk yang melarikan diri, Pihak polres juga akan menggali keterangan dari kedua pelaku terkait dugaan keterlibatan para cukong illegal logging.

Priyo mengatakan penangkapan truk pengangkut kayu pada Selasa,  26 Maret 2019. Sekitar pukul 12.00 siang, anggotanya menghentikan kendaraan truk yang melitas di jalur Perampuan Kecamatan Labuapi. Saat dicegat, anggotanya hanya mendapati truk dan sopirnya. Setelah dicek, truk ini mengangkut kayu sebanyak 102 batang atau 8 kubik. Pihaknya pun menintrogasi terkait kelengkapan dokumen kayu, namun sopir ini tak bisa menunjukkan bukti. Sopir ini juga mengaku jika kayu ini milik tersangka R dan AR.

Tak lama kemudian sopir ini menelpon salah seorang pemilik kayu, lalu datanglah tersangka R selaku pemilik kayu tersebut. Kemudian sopir dan tersangka R berikut berang bukti pun dibawa ke polres. Ditengah perjalan truk ini mogok, ketika mogok sopir ini pun kabur. Setiba di mapolres, pihaknya memanggil AR yang join dengan R sebagai pemilik kayu. “Mereka menjelaskan bahwa kayu ini berasal dari kawasan hutan lindung Mareje,”jelas dia.

Keesokan harinya tim polres bersama KPH melakukan lacak balak menyesuaikan antara toggak dengan batang kayu. Setelah dicek ternyata sesuai dan cocok. Pihaknya hanya mengecek tonggak kayu yang sesuai dengan 8 kubik tersebut. Sedangkan terkait masih adanya kayu-kayu yang disimpan di tengah hutan belum ditelusuri lebih lanjut.”Kalau yang lain memang tidak ada buktinya,”jelas dia. Termasuk pihaknya belum menelusuri informasi terkait adanya banker penyimpanan kayu di tengah hutan tersebut. “Di lokasi kami menemukan alat chainsaw ,”jelas dia.

Saat ini kata dia kayu yang diamankan akan dijadikan barang bukti untuk proses penyidikan. Sedangkan untuk sopir yang melarikan diri sudah dimasukkan dalam DPO. Terkait informasi bahwa kayu ini akan dipakai untuk bahan pembangunan rumah tahan gempa (RTG), menurut hasil introgasinya terhadap pelaku kayu itu bukan untuk bahan bangunan RTG, namun kayu-kayu dijual ke salah satu rekannya di Perampuan.

Untuk pengembangan kasus ini pihaknya masih berupaya mencari sopir truk. Apakah ada kemungkinan menyeret pelaku lain? menurut dia sejauh ini baru dua orang  dan satu sopir tersebut. Terkait apakah mengarah ke yang lain seperti cukong, hal ini kata dia tergantung dari pengembangan. “Soal ini (jaringan cukong red), nanti tergantung dari keterangan pelaku, ”jelas dia.

Diakui, pihaknya memang mendapatkan informasi terkait hal ini. Hanya saja pihaknya belum berhasil menangkap pelaku tersebut. Yang jelas kata dia, kalau ada indikasi illegal logging, pihaknya pasti melakukan penanganan. Menyoal harapan warga setempat agar kasus illegal logging diberantas, menurut dia pihak kepolisian akan mengusutnya.

Selama ini kata dia, kasus illegal loging yang ditangani  semuanya diproses. Tidak ada kata dia kasus yang tidak diproses, kecuali kata dia kayu yang diamankan dari kebun tidak bisa diproses. Diawal tahun ini tambah dia, baru satu kasus illegal loging yang ditangani. (her)