Buntut Kecelakaan Bus Pariwisata, Pelayanan Jasa Transportasi Perlu Dievaluasi

Mataram (Suara NTB) – Insiden mengenaskan tewasnya rombongan wisatawan akibat kecelakaan bus pariwisata, dinilai menjadi pelajaran penting yang harus tetap direnungkan. Buntut kasus tersebut, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB meminta agar pelayanan jasa transportasi wisata segera dievaluasi.

Aspek keamanan dan keselamatan penumpang, lebih – lebih wisatawan harus diutamakan. Penyedia layanan jasa transportasi wisata, diminta tetap mempertimbangkan keselamatan penumpang. Kelayakan seluruh armada pengangkut wisatawan, harus berada di bawah pantauan.

Iklan

“Peristiwa ini kita ambil hikmahnya. Sebagai pelaku pariwisata, kejadian ini memang kita rasa sangat miris. Tetapi, bagaimana pun juga ini sudah terjadi,” kata Drs. H. L. Abdul Hadi Faisal, Senin (30/1).

“Insiden itu, kita renungkan sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran. Secara khusus, kita meminta agar penyedia layanan jasa transportasi wisata memastikan kelayakan armada mereka. Izin operasional dan Kir kendaraannya harus tetap diperbaharui,” imbuhnya.

Pihaknya meminta supaya bus – bus yang sudah tidak layak pakai agar segera “dikandangkan”. Sebab, kejadian seperti pekan lalu yang membuat tewasnya rombongan wisatawan itu, dapat berpengaruh negatif terhadap kemajuan pariwisata NTB.

“Bus – bus yang memang sudah tidak layak beroperasi, jangan dipaksa – paksakan sehingga menjadi layak. Sebab, itu dapat berujung fatal,” tegasnya.

Selain memastikan kelayakan moda transportasi, PHRI juga menginisiasi agar rute atau trayek mobilisasi bus pariwisata dikaji ulang. Rute transportasi yang ekstrem, mestinya tidak ditempuh wisatawan yang menumpangi macro bus. Pelaku pariwisata dapat melayani rombongan wisatawan menggunakan moda transportasi macro bus. Mengingat, macro bus yang berkapasitas 40 penumpang keatas, sangat rentan kehabisan daya dorong di tanjakan.

Rombongan wisatawan yang menjadi korban kecelakaan itu, dipastikan mendapat santunan dari asuransi jiwa. Pemerintah Daerah (Pemda) dan Polda NTB, telah berkoordinasi dengan Pemda Jawa dan Polda Jawa Barat.

  Hakim MA Tolak PK, Jaksa Siap Eksekusi Penahanan Nuril

“Soal asuransi dan santunan untuk mereka, itu sedang dikomunikasikan dengan pihak Jasa Raharja. Pemda NTB sudah berkoordinasi dengan Pemda Jabar, Begitupun Polda NTB dengan Polda Jabar, wilayah asal para wisatawan,” katanya.

Usai kejadian, rombongan pengurus PHRI membesuk para wisatawan korban kecelakaan. Rombongan wisatawan itu, dirawat secara intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Polda NTB.

Kawasan Rawan Kecelakaan

Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan beberapa destinasi sebagai kawasan rawan kecelakaan. Diantaranya kawasan Sembalun, Pusuk, Jembatan Kembar di Lembar dan Malimbu. Penetapan ini menyusul adanya kecelakaan yang melibatkan bus pariwisata di kawasan Malimbu belum lama ini.

“Penetapan lokasi rawan kecelakaan, baik kawasan pariwisata maupun kawasan luar pariwisata. Hal ini untuk meningkatkan informasi dan kesadaran pengguna jalan. Sehingga penetapan rawan kecelakaan ini akan diikuti dengan penambahan rambu lalu lintas dan meningkatkan pengamanan jalan,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTB H. Yusron Hadi, di Mataram, Senin (30/1).

Penetapan kawasan destinasi wisata yang rawan kecelakaan ini diharapkan dapat menjadi acuan wisatawan atau pelaku pariwisata untuk berhati-hati. Sebab tidak sedikit dari jalan dengan medan yang sulit dan kondisi jalan yang menanjak. Sehingga dengan penetapan ini dapat membantu masyarakat saat melintas di kawasan itu.

Yusron mengatakan agar pemilik kendaraan memeriksa terlebih dahulu kondisi kendaraan yang akan digunakan untuk melintas di beberapa kawasan tersebut. Terutama bus pariwisata yang akan membawa banyak wisatawan menuju kawasan itu. Sebab hal ini sangat berkaitan dengan kenyamanan wisatawan saat berkunjung ke NTB.

“Dicek dulu kendaraannya, semua ya bukan hanya bus wisata saja. Karena ini berkaitan dengan keseamatan orang lain. Kemudian sopirnya juga harus yang kompeten, SIM-nya sesuai dengan kendaraan yang dibawa,” ujarnya.

  Sepasang Suami Istri di Kayangan, KLU Diduga Bunuh Diri

Ia juga berharap pelaku pariwisata dapat memberikan pelayanan terbaiknya. Salah satunya dengan menggunakan kendaraan laik pakai dan sudah memiliki izin. Sehingga akan lebih aman bagi wisatawan saat melintas di kawasan yang dianggap rawan kecelakaan.

“Kadang ada juga mobil yang seharusnya bukan untuk mengangkut wisatawan, tapi digunakan. Misalnya hotel atau pegawai hotel yang punya mobil kadang dipakai juga untuk antar wisatawan ke destinasi wisata, padahal itu harus izin dulu,” ujarnya. (met/lin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here