Bulog NTB akan Kirim 5.000 Ton Beras NTT dan Bali

Stok beras di gudang Bulog Bima. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Perum Bulog Divisi Regional NTB mendapatkan penugasan dari Bulog pusat untuk mendukung cadangan pangan provinsi tetangga, Bali dan NTT. Untuk tahap pertama, sebanyak 5.000 ton akan dikirim. Hal ini disampaikan Wakil Pimpinan Wilayah Bulog NTB, Yudi Prakarsa kepada Suara NTB, Kamis, 4 Juni 2020.

Untuk alokasi masing-masing provinsi, Bulog NTB masih menunggu perintah Bulog pusat. Printloknya belum turun. Yang jelas sekitar 5.000 ton, jelas Yudi. Pengiriman beras ke luar daerah ini, menurutnya tidak mengganggu stabilitas cadangan pangan NTB. Jumlah yang dikirim sebanyak 5.000 ton ini bahkan dianggap masih rendah dibanding jumlah ideal yang harus dikirim.

Kita kalau mau ideal, seharusnya kirim 25.000 ton dalam setahun. Tapi bertahap. Kenapa dikeluarin, kita refreshing stok untuk menjaga stok beras di NTB tetap baru, ujarnya. Tahun lalu, NTB hanya mengirim beras ke Provinsi NTT. Di masa pandemi Covid-19 ini, pengiriman dari pusat juga diminta ke Provinsi Bali. Saat ini cadangan stok di NTB mencapai 11 bulan ke depan. Cadangan stok ini dirasa masih tinggi. Sehingga harus dikelola dengan pengiriman stok ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Jika dibiarkan menumpuk dalam waktu lama, stok yang ada ini dikhawatirkan akan mengalami penurunan kualitas. Apalagi di NTB saat ini masih berlangsung panen. Stok yang sudah ada harus dikeluarkan dan diganti dengan stok baru. Dan daerah lain butuh juga. Indonesia bukan NTB doing, demikian Yudi Prakarsa. Saat musim corona seperti ini, pengadaan beras dan gabah oleh Bulog tak terganggu.

Sampai bulan Mei 2020, rata-rata pengadaan antara 500 ton sehari. Dipasok ke Bulog oleh mitra. Jumlah serapan beras ini menurutnya cukup bagus. Pandemi Covid-19 tak mempengaruhi aktivitas pertanian di NTB. Tahun 2020, Bulog NTB mendapat perintah dari Bulog pusat untuk menyerap 70.000 ton setara beras. Sampai bulan Mei, persentase target serapan sudah mencapai 45 persen. Melihat target setahun ini, optimis 70.000 ton akan terserap.

Harga umum di lapangan, beras untuk PSO (Public Service Obligation) Bulog menyerapnya dengan harga Rp8.300/Kg. Untuk beras komersil, penjualan beras super mengacu Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar 12.500/Kg ke konsumen. Pembelian oleh Bulog tentunya di bawah HET tersebut. Pembelian beras premium kita masih di atas Rp10.000, dijual Rp12.500 sesuai HET, demikian Yudi. (bul)