Bulog Bima Gencarkan Operasi Pasar untuk Stabilisasi Harga

Operasi pasar Bulog Bima untuk menjaga stabilitas harga beras, Sawaludin Susanto. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Permintaan beras Bulog tahun ini mengalami lonjakan dibanding tahun 2019 lalu. Hal ini akibat kurangnya cadangan beras masyarakat sebagai dampak kurangnya panen akibat banjir tahun ini. Kepala Sub Divre Perum Bulog Bima, Sawaludin Susanto kepada Suara NTB, Rabu, 4 November 2020 mengatakan, tahun 2019 lalu Bulog Bima membawahi tiga kabupaten/kota, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima hanya menggelontorkan 1.500 ton ke pasaran. Dari Januari hingga Desember.

Namun tahun ini naik tiga kali lipat menjadi 5.200 ton. Inipun belum penuh hingga Desember. Sehari Bulog Bima bisa menggelontorkan sampai 700 ton ke pasaran. Kondisi ini, kata Susanto, akibat menipisnya cadangan beras di masyarakat akibat gagal panen. Karena banjir, dan kemarau panjang. Apalagi sampai saat ini sudah minim kegiatan panen. “Masyarakat jangan melihat, ketika harga beras sekarang seperti ini, dianggap adem ayem. Kalau tidak Bulog gencar melakukan operasi pasar dengan cadangan beras yang sudah disimpan, barangkali harga beras sudah memberatkan. Apalagi di saat corona seperti saat ini,” katanya.

Iklan

Fenomena yang dikemukakan kepala Sub Divre Bulog Bima ini berkorelasi dengan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang telah dirilis per 1 November 2020 ini. Bahwa luas panen padi pada 2020 diperkirakan sebesar 272,19 ribu hektar, mengalami penurunan sebanyak 9,47 ribu hektar atau 3,36 persen dibandingkan 2019 yang sebesar 281,67 ribu hektar. Produksi padi pada 2020 diperkirakan sebesar 1,31 juta ton GKG, mengalami penurunan sebanyak 92,42 ribu ton atau 6,59 persen dibandingkan 2019 yang sebesar 1,40 juta ton GKG.

Jika potensi produksi padi pada 2020 dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras pada 2020 diperkirakan sebesar 742,13 ribu ton, mengalami penurunan sebanyak 52,37 ribu ton atau 6,59 persen dibandingkan 2019 yang sebesar 794,5 ribu ton. Sawaludin Susanto mengatakan, Bulog Bima masih mengantisipasi permintaan hingga akhir tahun ini. Kendati demikian, dilanjutkan, stok yang dicadangkan saat ini  bertahan hingga Mei 2021 nanti. Cukup untuk mengantisipasi hingga panen raya tahun depan. Atau sebesar 5.000 ton setara beras cadangannya.

“Bulog NTB tahun ini sudah mengeluarkan 30.000 ton untuk operasi pasar. Kuantitasnya tentu lebih besar dibandingkan tahun lalu. Kalau tidak digencarkan operasi pasar, bisa terjadi kepanikan masyarakat karena kurangnya cadangan beras masyarakat,” demikian Susanto. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional