Bule Bulgaria Pelaku Skimming ATM Dilimpahkan ke Jaksa

Mataram (suarantb.com) – Polda NTB melimpahkan perkara Yulee Stevanov Chekov (51) pelaku skimming ATM ke Kejati NTB. Bule asal Bulgaria tersebut akan menjalani penahanan selama 20 hari ke depan sembari menanti proses persidangan. Sementara penyidikan di Polda NTB dinyatakan tuntas dan telah di P21A.

Kasubdit II Cyber Crime Ditreskrimsus Polda NTB, AKBP Darsono Setyo Adjie SH SIK mengatakan, pelimpahan tahap dua itu dilakukan setelah berkas perkara dinyatakan lengkap atau P21A Selasa, 18 Oktober 2016.

Iklan

“Ini pelimpahan tersangka bersama barang bukti. Pelaksanaan penyidikan usai,” terangnya dikonfirmasi di Mapolda NTB, Kamis (20/10).

Yulee disangkakan pasal Pasal 30 ayat 2 jo pasal 46 ayat 2 tujuh dan pasal 31 ayat 1 jo pasal 47 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Ia menjelaskan, pelaku ditangkap di Pelabuhan Padangbai, Karangasem, Bali akhir Juli lalu. Yulee diduga melakukan skimming di ATM Bank Mandiri di Gili Air.

Hasil penyidikan pun mengembang. Yulee juga didapati melakukan perekaman data nasabah di ATM Bank BNI Batulayar, Lombok Barat.

“Yang bersangkutan diduga melakukan pengambilan data secara illegal dengan memasang alat di pinpad canopy ATM,” terang Darsono. “Di dua tempat, Gili Air dan di SPBU Meninting,” imbuhnya.

Via alat yang dibeli secara online tersebut, sambung dia, Yulee berniat mencuri data PIN nasabah yang mengakses ATM.

Menanggapi pembobolan ATM via skimming belakangan ini, Darsono mengimbau setiap pihak harus waspada. Baik nasabah dan terlebih pihak bank. Kecermatan pengamanan bilik ATM mutlak dilakukan.

“Bank harus harus ikut bertanggungjawab. Bank tidak bisa lepas tangan,” tegasnya. Menurutnya, hal itu sangat erat kaitannya dengan tingkat kepercayaan bank yang bersangkutan. “Ini bicara trust, jadi bank harus mulai lebih memperhatikan.”

Selain itu, kata dia menambahkan, pihak bank meski sudah menyerahkan kepada vendor pihak ketiga dalam pengelolaan bilik ATM, harus tetap pula melakukan pengontrolan secara berkala. “Harus memperhatikan keamanan dan kenyamanan nasabah,” ujar Darsono.

Darsono menambahkan, nasabah juga harus memiliki kewaspadaan yang sama agar kejahatan serupa tidak berulang. Nasabah diminta memeriksa panel tempat. (szr)