Buku FSVA Ungkap Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Dompu

Dompu (Suara NTB) – Tersedianya pangan yang cukup, terjangkau, merata dan aman merupakan salah satu tujuan pembangunan Kabupaten Dompu dalam 5 tahun sesuai RPJMD tahun 2016 – 2021. Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu berhasil menyusun buku peta ketahanan dan kerentanan pangan tahun 2017.

Buku ini disusun menjadi alat untuk meningkatkan akurasi penentuan sasaran dan alokasi sumberdaya melalui penyediaan informasi penting bagi para penentu kebijakan di dalam proses perencanaan dan penyusunan prioritas program/kebijakan untuk mengurangi kerawanan pangan dan gizi di masa mendatang dari setiap wilayah kabupaten melalui rincian kondisi kecamatan.

Iklan

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu, Drs Burhanuddin dalam kata pengantar pada buku peta ketahanan dan kerentanan pangan (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA) Kabupaten Dompu tahun 2017 mengatakan, salah satu kendala dalam perencanaan dan pelaksanaan program yang berkaitan dengan ketahanan pangan diantaranya terbatasnya data/informasi yang akurat dan tertata baik. Penyediaan data/informasi merupakan tanggungjawab bersama, baik pemerintah, lembaga non pemerintah dan masyarakat.

Persoalan pangan wilayah sangat bergantung pada banyak aspek (multidimensional) sehingga indikator yang dipergunakan untuk menggambarkan kondisi ini terdiri dari dimensi ketersediaan pangan, keterjangkauan (akses) pangan dan pemanfaatan pangan. Gambaran kondisi ketahanan pangan, rekomendasi dan strategi penanganan untuk setiap wilayah telah dirinci dengan detail untuk memenuhi kebutuhan akan informasi keberadaan kantong – kantong rawan pangan di seluruh Desa/Kelurahan di Kabupaten Dompu.

Pada penyusunan FSA Kabupaten Dompu tahun 2017, kondisi ketahanan pangan digambarkan secara lengkap pada 81 Desa/Keluarahan di 8 Kecamatan sebagaimana kondisi aktual saat ini. Situasi ketahanan pangan dan gizi yang bersifat multi dimensi ditentukan 9 indikator berdasarkan ketersediaan data dan mewakili aspek utama dari 3 pilar ketahanan pangan yaitu ketersediaan pangan, keterjangkauan (akses) pangan dan pemanfaatan pangan.

Prioritas 1 – 2 merupakan kondisi yang cenderung rentan terhadap kerawanan pangan dan gizi. Prioritas 3 – 4 kondisi Desa/kelurahan yang tahan pangan. Penentuan ini untuk menentukan program kebijakan pencegahan dan penanggulangan kerawanan pangan pada level Desa/Kelurahan.

Hasil temuan dari 4 prioritas, dimana prioritas 1 memiliki karakteristik kerentanan terhadap kerawanan pangannya : tingginya penduduk dengan tingkat kesejahteraan rendah, tingginya rumah tangga tanpa fasilitas tempat buang air besar (BAB), tingginya rumah tangga akses listrik, dan tingginya rumah tangga tanpa akses air bersih. Untuk prioritas ini, ada 2 Desa di Kecamatan Pekat, dan 1 Desa di Kecamatan Kilo.

Prioritas 2 memiliki karakteristik kerentanan terhadap kerawanan pangan berupa tingginya rumah tangga tanpa fasilitas tempat BAB, tingginya penduduk dengan tingkat kesejahteraan rendah, dan tingginya rumah tangga tanpa akses air bersih, tingginya rumah tangga tanpa akses listrik, dan rendahnya rasio toko terhadap rumah warga. Prioritas ini sebanyak 2 Desa di Woja, 2 Desa di Pekat, 1 Desa di Pajo, dan 3 Desa di Kilo.

Sementara untuk prioritas 3 dengan kondisi tahan pangan sebanyak 9 Desa di Woja, 2 Desa di Pekat, 2 Desa di pajo, 4 Desa di Manggelewa, 1 Desa di Kilo, 3 Desa di Kempo, 3 Desa di Huu, dan 6 Desa di Dompu. Begitu juga dengan prioritas 4 yang sudah tahan pangan sebanyak 3 Desa di Woja, 6 Desa di Pekat, 3 Desa di Pajo, 8 Desa di Manggelewa, 1 Desa di Kilo, 5 Desa di Kempo, 5 Desa di Huu, dan 9 Desa di Dompu.

Walaupun jumlah Desa dalam prioritas 1 dan 2 hanya 11 Desa, Dompu masih memiliki beberapa tantangan utama yaitu tingginya rumah tangga tanpa fasilitas tempat BAB, tingginya penduduk dengan tingkat kesejahteraan rendah, tingginya rumah tangga tanpa akses listrik, tingginya ruumah tangga tanpa akses ke air bersih dan rendahnya rasio tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk di beberapa Desa/Kelurahan.

Produksi serealia dan umbi – umbian utama di Dompu meningkat selama sepuluh tahun terakhir kecuali ubi jalan yang mengalami penurunan. Namun produksi padi terkonsentrasi di Woja, Pekat dan Dompu. Jagung terkonsentrasi di Manggelewa dan Kilo.

Persentase penduduk miskin di Dompu dalam 5 tahun terakhir menunjukan kecenderungan terjadinya penurunan. Di tahun 2011 penduduk miskinnya sebanyak 18,17 persen dan di tahun 2015 sebanyak 15,11 persen atau turun hanya 3,06 persen dengan rata – rata 0,61 persen. (ula/*)