Budayakan Literasi dari Lingkungan Keluarga

Bunda Literasi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Karsipan Provinsi NTB, Julmansyah saat menjadi pembicara dalam webinar. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) -Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB terus mendorong budaya literasi sampai lapisan paling bawah di masyarakat.

Ini diangkat sebagai topik pembahasan dalam webinar dengan tema “Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial 2021”, yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB, Kamis, 16 September 2021.
Sebagaimana penyampaian Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah yang dikukuhkan sebagai Bunda Literasi NTB. Menurut Niken yang juga Ketua TPKK Provinsi NTB ini, pihaknya berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), literasi menjadi salah satu program utama.
“Program utama itu adalah memasyarakatan literasi di lingkar warga,” kata Niken saat jadi narasumber pada webinar tersebut.

Iklan
Prioritas nasional budaya literasi (Suara NTB /ist)

Menurut Bunda Niken, keluarga adalah basis kegiatan literasi yang sedang digalakkan saat ini. Targetnya, literasi menjadi bagian dari kehidupan mulai dari lingkungan terkecil, yakni di keluarga. Metodenya, dengan mendorong sisihkan waktu 30 menit setiap hari. “Kita mencoba mengajak keluarga terutama ibu meluangkan waktu 30 menit membaca bersama anaknya,” ujar Niken.

Sebagai bentuk keseriusan, mulai tahun ini, TPKK mendorong upaya yang sama dengan menentikan desa binaan, melalui proses masuk inervensi program literasi. Hadir dalam webinar itu, sejumlah stakeholder , Bappeda NTB, DPMPD Dukcapil NTB, Tim Sinergi Provinsi NTB, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lombok Tengah, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lombok Utara, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumbawa Barat, Bank NTB Syari’ah Universitas Mataram, Konsorsium NTB Membaca, Suara NTB sebagai perwakilan media, Perpustakaan Desa Sakra dan Perpustakaan Desa Sengkerang.

Cakupan program budaya literasi DPKP (Suara NTB/ist)

Sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB, Julmansyah, S.Hut sejumlah stakeholders dilibatkan untuk mendorong partisipasi tersebut. Tujuannya adalah membangun kesadaran para pemangku kepentingan tentang pentingnya transformasi perpustakaan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Membangun dukungan dan komitmen dari stakeholder untuk transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, kemudian membangun sinergi yang berkelanjutan antar stake holder untuk mendukung transformasi perpustakaan.

Literasi ini juga masuk dalam empat program prioritas nasional. Pertama, meningkatkan budaya literasi. Kedua, pengembangan, pembinaan dan perlindungan Bahasa Indonesia, aksara dan sastra daerah. Ketiga, pengembangan budaya iptek, inovasi, kreativitas dan daya cipta. Keempat, penguatan institusi sosial, penggerak literasi dan inovasi.

Total 5 kabupaten dan 47 desa yang menjadi cakupan program Tim Sinergi menyukseskan budaya literasi. Julmansyah kemudian memaparkan beberapa capaian dalam program Tim Sinergi, diantaranya :
. Revisi SK Tim Sinergi tahun 2021
. Terbitnya Perda Penyelenggaraan Perpustakaan No 7 tahun 2021
. Tersusunnya Draf Pergub Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dan beberapa draf pergub lainnya
. Melaksanakan Rapat Internal Tim Sinergi secara berkala baik luring maupun secara virtual
. Melaksanakan Sosialisasi Transfomasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial kepada :
– Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Sumbawa
– Forum Kepala Desa Kabupaten Sumbawa
. Terbitnya MOU dengan beberapa instansi terkait
. Pengukuhan Bunda literasi NTB
. Melaksanakan Mentoring ke Kabupaten / Desa (langsung maupun secara virtual)
. Peluncuran Kafe Literasi Keliling dan aplikasi NTBelib

Pada akhirnya, mantan Kabid Kehutanan Dinas LHK PRovinsi NTB ini berharap beberapa poin yang menjadi diskusi lanjutan.
Pertama, program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial akan terus berjalan supaya masyarakat banyak yang merasakan manfaatnya. “Untuk itu perpustakaan perlu berkolaborasi dan tidak bisa sendiri,” jelasnya.

Kedua, Perlu ada sinergisitas dengan semua stakeholder yang ada dan terpenting adalah sinergisitas yang saling menguntungkan. Ketiga, Bentuk dukungan dan kerja sama apa yang akan diberikan ke perpustakaan. (r)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional