Ribuan Pengunjung Saksikan Perang Topat di Pura Lingsar

Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid, Wabup Lobar, Hj. Sumiatun, Ketua DPRD Lobar di ajang Perang Topat, di Pura Lingsar, Rabu, 11 Desember 2019. (Suara NTB/ist)

Advertisement

Giri Menang (Suara NTB) – Ribuan pengunjung menyaksikan ritual religi dan budaya perang topat yang digelar Rabu, 11 Desember 2019 sore di Pura Lingsar.

Event tahunan yang digelar Pemkab Lombok Barat ini tidak saja disaksikan pengunjung wisatawan lokal. Wisatawan asing ikut berbaur. Bahkan beberapa wisatawan asing terlibat dalam event perang perdamaian antara umat Islam dengan Hindu tersebut.

Event ini menjadi salah satu andalan Pemkab Lobar dan NTB menjual pariwisatanya. Di samping itu, ritual yang menjadi warisan leluhur ini wujud nyata perdamaian dari Lingsar untuk Indonesia dan dunia.

Pasalnya, melalui ritual religi perang topat ini membuktikan perang tak saling membunuh. Malah menjadi ajang menyambung tali silaturahmi dan mempererat persaudaraan warga dua suku dan agama.

Hadir pada kesempatan ini, Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid, Wabup Lobar, Hj. Sumiatun, Ketua DPRD Lobar, pejabat Pemprov, Dandrem, Dandim, Kapolres dan kementerian Parwisata. Hadir pula para pemangku adat dan budaya serta ribuan umat Hindu serta Islam. Event dipusatkan di halaman Pura Lingsar ini diawali dengan penyambutan Bupati dan Wabup di Pura Lingsar.

Setelah itu, barulah Bupati dan rombongan menuju tempat acara. Ritual diawali dengan sejumlah tarian, yakni tarian batek baris dari Lingsar dan tarian perdamaian yang disuguhkan perempuan-perempuan Lingsar. Selanjutnya digelar parade sesajian yang bakal dijadikan senjata perang topat dan makanan warga.

Tokoh budayawan Lobar, Sahnan mengatakan Ritual budaya Perang Topat adalah, suatu upacara ritual yang merupakan pencerminan rasa syukur kepada Sang Pencipta, yang telah memberikan kemakmuran dalam bentuk kesuburan tanah, cucuran air hujan dan hasil pertanian melimpah.

Upacara ini dilaksanakan di Taman Lingsar oleh umat Hindu bersama-sama dengan suku sasak,yaitu dengan cara saling melempar topat (ketupat) antara peserta yang satu dengan yang lainnya. Perang Topat ini dilaksanakan setelah selesainya Pedande Mapuje, yaitu pada saat Roroq Kembang Waru (bergugurnya kembang waru) sekitar pukul 17.00.

Biasanya upacara yang cukup sakral ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Purname Sasih ke Pituq menurut kalender Sasak, atau sekitar bulan Desember.

Event perang Topat ini belum masuk agenda yang event naisonal. Hal ini butuh proses seperti event Senggigi Jazz. Namun untuk memantik itu pihaknya sudah punya perencanaan, untuk perang Topat berikutnya ia rencananya akan keliling ke bupati dan walikota yang ada di Bali untuk mengundang mereka Ikut event ini. Hal ini juga untuk mengenang potret kebinekaan di masyarakat Lombok, khususnya Lingsar.

“Sebab kalau perang Topat ini betul-betul di blow up maka akan luar biasa. Tidak hanya konteks Lombok, namun nasional,”jelas dia. Bagaimana tidak kata dia ada sebuah kegiatan religius dan budaya bisa diadakan dalam satu waktu dan satu tempat dengan kolaborasi baik antara dua agama dan suku yakni agama Islam dan Hindu. Suku Sasak Dengan suku Bali.

Rangkaian sub perang Topat ini juga melibatkan dua suku dan agama yang mencerminkan toleransi. Misalnya, mulai dari sebelum mulai perang Topat umat Islam zikiran untuk ulama yang dalam catatan sejarah sebagai penyebar Islam pertama di Lingsar yakni Raden mas sumilir. Sedangkan umat Hindu mengadakan semacam odalan.

Kemudian berikutnya ada prosesi arak kerbau, hal ini menarik karena potret toleransi yang luar biasa. Karena kalau sapi diarak, umat Islam ingin menghormati umat Hindu. Demikian pula sebaliknya, kalau Babi, umat Hindu ingin menghormati umat Islam maka dipakailah kerbau. Kerbau ini dikelilingi bersama tokoh umat Islam dan Hindu. Sampai malam berakhir perang Topat kedua umat menggelar kegiatan di Pura secara bersama.

“Ini juga luar biasa, kalau gaungnya bisa lebih besar lagi maka bisa menjadi simbol kebhinekaan tidak saja di Indonesia bahkan dunia,”tukasnya.

Plt kepala Dinas Pariwisata Hj Lale Prayatni mengatakan event perang Topat ini menjadi simbol perdamaian antara umat Islam suku Sasak. Sebab dalam prosesi keliling kerbau, betul-betul terlihat toleransi dan kerjasama antara kedua agama ini. Hal ini menjadi keunikan dari event ini.

“Bahkan ini paling unik di Indonesia dan dunia,” jelas dia. Event ini harus dipertahankan, sebab menjadi simbol toleransi dari Lingsar, menuju NTB untuk Indonesia dan dunia. Sebelum puncak perang Topat ini, berbagai kegiatan untuk meramaikan Pujawali dan Perang Topat tersebut. Yakni kegiatan “Peresean” dilangsungkan sejak tanggal 5-9 Desember 2019, live painting (seni lukis, red) dan cilokak (kesenian music khas Suku Sasak.

Haul KH. Abdul Malik atau Raden Mas Kerta Jagad yang diyakini masyarakat Lingsar sebagai penyebar Islam pertama di Lingsar yang dirangkaikan dengan Begawe Gubog (Roah Kampung, red) untuk kalangan Umat Islam.

Secara paralel roah itu diteruskan dengan upacara Mendak Tirta bagi Umat Hindu di sekitar Pura Lingsar. Puncaknya yaitu pagelaran Wayang Kulit dengan dalang Lalu Nasib dan kesenian gandrung. Yang paling fenomenal adalah ritual Kelilingan Kao (mengarak kerbau, red) yang menjadi simbol kebersamaan dan persatuan antara umat Hindu dan Umat Islam. (her)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.