Sanggar Lonto Engal Pentaskan ‘’Lajendre’’

Mataram (Suara NTB) – Sanggar Lonto Engal mementaskan pertunjukan seni tari, musik, teater, dan video visual yang bertajuk ‘’Lajendre’’. Pementasan itu digelar di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi NTB, Sabtu, 30 November 2019 malam. Kegiatan itu dibuka oleh Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE. M.Sc.

Art Director pementasan itu, Ardiansyah menyampaikan Lajendre adalah romansa Lalu Mangi dan Lala Ila yang diangkat dari cerita tutur masyarakat Sumbawa dan hingga kini terus dilestarikan ke anak cucu-cucunya. Lajendre adalah kisah tragis antara pemuda yang ketergantungan candu, dan kekasihnya Lala Ila yang cantik dan jelita harus dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan atas ketergantungannya itu.

“Dengan intrik serta model cerita yang dikemas secara apik dan menarik, tak lupa  nilai-nilai  pragmatis seperti nilai pendidikan, keimanan, moral, dan etika, sosial dan budaya, kecerdasan logika. Pementasan ini juga kami mengampanyekan posted sosio, di mana kejadian di tengah masyarakat di sini diceritakan sehingga menjadi pelajaran bagi kami generasi muda,” katanya.

Ia juga menyampaikan harapan dari pementasan ini dalam melestarikan budaya tau dan tana Samawa. Ia juga berharap Pemerintah Sumbawa bisa mengkonsepkan cerita otentik Lajendre kemudian membukukannya sebagai aset. “Sehingga tidak terlepas dari adat istiadat tau dan tana Samawa,” katanya.

Ketua Panitia Pelaksana, Supardi menyampaikan, persiapan pementasan ini memakan waktu selama satu bulan sejak sebelum bulan Oktober. Melibatkan tidak kurang dari 30 aktris dan puluhan tim pendukung lainnya. “Tujuan pementasan init sebagai gebrakan Sanggar Lonto Engal dan membuktikan talenta yang luar biasa. Juga untuk melestarikan budaya. Kami ingin merangkul dan memperkenalkan Lonto Engal,’’ katanya.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE. M.Sc., yang menyempatkan hadir di awal pementasan mengapresiasi pementasan oleh Sanggar Lonto Engal. Ia juga menekankan masyarakat tidak boleh luput dari seni, karena masyarakat akan lembut perasaannya melalui seni.

“Ini bisa jadi pemicu gerakan awal agar teman-teman menciptakan karya hebat minimal untuk menghibur diri sendiri,” katanya. Pementasan berlangsung semarak dengan tari-tarian dan pementasan teater, yang didukung dengan video visual. (ron)